Ini kisah belasan tahun silam di sebuah daerah di Kota Cilegon. Saking lamanya peristiwa ini, sang narasumber sempat tergagap-gagap ketika menyampaikan kisah kepada wartawan. Meski begitu, ia mengakui, kisah yang diceritakannya memang nyata terjadi.

     Dua puluh tahun menikah, pasangan suami-istri Jojo (65) dan Mimin (64), keduanya nama samaran. Ibarat tumpukan piring yang diletakkan terlalu dekat, suatu saat pasti saling bergesekan dan terjadi keretakan. Rumah yang saling berdempetan dengan rumah adik dan kakak-kakaknya, menjadi awal sumber permasalahan yang terjadi. Waduh, kok bisa begitu ya, Kang?

“Ya biasalah, namanya juga tetanggaan sama saudara, ada saja ribut-ribut mah,” kata Jojo kepada Radar Banten.

Jojo terlahir dari keluarga berada. Dengan aset tanah dan sawah di mana-mana, ia memiliki perekonomian yang bagus. Namun lantaran ia anak terakhir dari empat bersaudara, sejak remaja sudah menyerahkan aset keluarga untuk dikelola kakak-kakaknya.

Masa remaja Jojo dilalui penuh warna. Dengan status sebagai anak orang kaya, ia punya banyak teman dan diterima di banyak kalangan. Tak hanya itu, dengan wajah lumayan dan sikap diam bikin penasaran, ia sering ganti-ganti pasangan. Tapi, ya namanya juga hidup, hari ini bahagia, besok bisa menderita.

Ketika menginjak usia dewasa, sang ayah meninggal dunia, membuat seluruh keluarga berduka. Bersama sang ibu tercinta dan saudara, ia menjalani hidup tanpa kehadiran kepala keluarga. Apalah daya, lantaran tak melanjutkan pendidikan, terbersitlah keinginan menuju jenjang pernikahan.

Kebetulan, waktu itu ia sudah memiliki kekasih hati yang sudah terjalin sejak SMA, ia adalah Mimin. Berbeda dengan Jojo, Mimin berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ayah tak memiliki pekerjaan pasti, saudara-saudara Mimin dan semua kakak-kakaknya juga orang tak mampu.

Singkat cerita, dengan pesta meriah, mereka mengingkat janji sehidup semati, Jojo dan Mimin resmi menjadi sepasang suami istri. Hebatnya, baru setahun usia pernikahan, mereka dikaruniai anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Tak ayal, sang ibu pun ikut bahagia.

Dan, saat sang istri melahirkan anak kedua, cobaan itu datang menerjang. Entah karena dihasut saudara atau memang keinginan sendiri, sang istri meminta dibuatkan rumah. Saat itu Jojo meminta kepada sang ibu tercinta. Meski awalnya sempat diprotes kakaknya lantaran rumah keluarga juga masih cukup untuk menampung mereka. Tapi ya, namanya juga wanita, pasti akan lebih bahagia jika punya rumah sendiri. Dibuatkanlah rumah tepat di samping rumah keluarga.

Hari demi hari dilalui Jojo tak secerah seperti awal menjalani pernikahan. Ia sadar, sang istri mengalami banyak perubahan. Mulai dari tak ramah kepada tetangga, sampai sering adu mulut hanya karena masalah sepele. Meski ia mencoba untuk melupakannya, perlahan tapi pasti Jojo larut dalam keterpurukan.

Tak ayal, Jojo yang saat itu bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan milik teman sang kakak, menunjukkan kinerja yang kurang maksimal. Apalah daya, perusahaan tempat ia bekerja pun tak mau lagi menerima dirinya karena sudah tidak seproduktif dahulu. Weleh-weleh, katanya orang kaya, kok kerjanya jadi karyawan sih, Kang?

“Hmm, semenjak bapak meninggal, semua keuangan acak-acakan. Rumah doang kelihatannya gede, tapi dalamnya mah sebenarnya ambruk!” keluh Jojo meratapi kegelisahan.

Hidup sebagai seorang pengangguran membuat Jojo semakin tak karuan. Setiap malam yang dilakukannya hanya berjudi dan mabuk-mabukan. Meski ia terlahir dari keluarga berada, punya banyak tanah dan aset lainnya, tetap saja, menganggur jadi hal yang menakutkan baginya. Frustasi yang dialami semakin tak menentu, barang-barang elektronik yang dimilikinya sedikit demi sedikit terkuras untuk menutupi utang-utangnya karena kalah berjudi.

Beruntung, meski sudah terbawa virus miras, lantaran pola pikir yang selalu dididik dengan baik, ia pun sadar akan keterpurukan yang dialami. Dengan meminta bantuan beberapa teman, ia mencoba bekerja di di Jakarta. Harapan baru pun muncul di angannya.

“Waktu itu saya sudah bertekad semangat kerja, pokoknya enggak bakal sia-siakan kesempatan itu,” katanya.

Di sisi lain, Jojo yang saat itu mulai kembali sibuk bekerja, hanya pulang seminggu sekali. Bahkan sampai sebulan sekali. Terlalu lama tidak ditemani suami, membuat Mimin gelap mata. Bukan lantaran tak bahagia, tapi sifat keserakahan terhadap suatu benda membuatnya masuk ke dalam lubang kehancuran.

Seperti diceritakan Jojo, waktu itu, saat dia tak ada di rumah, sang istri mengamuk di depan rumah kakak ipar. Sambil teriak-teriak, ia meminta jatah tanah bagian sang suami. Padahal, dahulu pernah dimusyawarakan kalau nanti kondisi ekonomi sudah membaik, semua bagian akan dibagi rata. Namun Mimin tak mau mengerti. Apalah daya, keributan pun terjadi. Waduh, kok bisa begitu sih, Kang?

“Saya juga kesal sama istri, dia ngotot banget pengen kaya dari hasil warisan. Padahal kakak dan ibu sudah bikinkan saya rumah,” ungkapnya.

Sejak kejadian itu, Jojo merasa tak enak pada kakak dan ibunya. Sambil berbicara pelan penuh sopan santun, ia meminta maaf dan meminta izin menjual rumah. Sedangkan ia pindah dan tinggal di rumah sederhana yang jauh dari keluarga. Meski tak diizinkan, yah, yang namanya sudah berumah tangga, Jojo tetap melaksanakan keputusannya.

“Susah, Kang. Daripada ribut mulu, mending saya yang mengalah. Semoga ini jadi keputusan tepat!” tukasnya.

Dan akhirnya, seiring berjalannya waktu, tinggal jauh dari keluarga ternyata membuat rumah tangga Jojo dan Mimin berlangsung harmonis. Sejak tinggal di rumah baru, Mimin sadar dan lebih jauh mengerti keadaan suami. Mereka pun hidup sejahtera. (daru-zetizen/zee/ira)