Ampun Ya, Suami Gak Ada Kapok-Kapoknya

Surti (37), nama samaran, sudah selayaknya menjadi istri ahli surga. Bagaimana enggak, meski sudah sering disakiti suami yang tidak ada kapoknya main judi, sebut saja Tejo (38), Surti tetap menjaga keutuhan rumah tangga dan memaafkan sikap buruk suaminya yang terus berulang. Subhanallah.

Surti mengaku suaminya sudah berulang kali terjerumus pergaulan tidak mendidik, jatuh pada sekumpulan orang yang gemar bermain judi. Surti sempat tak tahan dengan tingkah Tejo yang tidak ada kapoknya. Namun keberadaan dua anak hasil pernikahannya dengan Tejo memaksanya terus bertahan.

Ditemui di kediamannya di kawasan Pandeglang, Surti saat itu habis pulang pengajian. mengobrol sebentar menanyakan kabar, obrolan berlanjut dengan menceritakan tentang rumah tangganya yang dirasa penuh tantangan dan cobaan. Selama 12 tahun berumah tangga, Surti hanya bisa bersabar menahan rasa sakit melihat perilaku negatif suami yang tidak ada ujungnya. “Suami saya tuh tukang judi. Sempat insyaf, eh kambuh lagi. Padahal, dulu kita pernah sampai kelaperan, barang habis, rumah dijual gara-gara suami main judi,” keluhnya. Astaga. Sabar ya Teh.

Surti mengaku tadinya Tejo tidak seperti itu sampai akhirnya mengenal lingkungan yang rata-rata suka berjudi. Pertemuannya dengan Tejo terjadi di pasar. Surti waktu itu masih kerja di pasar jagain jongko. Sementara Tejo anak pemilik jongko lainnya di pasar yang bekerja sebagai karyawan perusahaan. Kini status Tejo sebagai karyawan perusahaan juga terancam karena jarang masuk kerja. Belum lagi Surti terlilit utang yang menumpuk gara-gara Tejo yang selalu kalah judi.

Derita Surti tidak berhenti sampai di situ, kehidupan rumah tangganya terus dihantui orang-orang perbankan dan rentenir yang tiap hari menagih utang. Surti merasa suaminya juga sudah mengangkat bendera putih alias sudah tak sanggup lagi membayar utangnya. Belum lagi sejak mengenal judi, Tejo jadi suka bertindak kasar. Gara-gara judi, dampaknya keluarga Surti dijauhi keluarga, diasingkan oleh tetangga bahkan kerabatnya. Yassalam. Menyadari hal itu, Tejo bukannya meratapi penyesalan, malah makin menggila. “Saya sudah berulang kali negur, eh malah ngajak ribut. Dia percaya dengan judi bisa jadi kaya. Padahal, saya belum pernah dengar tuh ada orang berubah kaya gara-gara judi,” sesalnya. Kebanyakan nonton film Dewa Judi tuh Teh.

Padahal, diceritakan Surti. Tejo jebolan sekolah keagamaan. Pertama mengenal Tejo, orangnya ramah, romantis, dan baik. Tejo juga orangnya perhatian terhadap anak. Singkat cerita, Surti dihampiri Tejo yang sudah sering memerhatikannya setiap datang ke jongko. Wajar, Surti primadonanya di pasar. Selain cantik, kulitnya juga putih dan tubuh ideal. Lain dengan Tejo yang badannya kurus kering, modal hidung mancung doang. Namun, keseriusan yang ditunjukkan Tejo membuat Surti tak ingin berlama-lama menyandang status lajang. Apalagi usia keduanya saat itu sama-sama sudah mapan.  Sebulan menjalin pertemanan, akhirnya mereka jadian. Sebulan kemudian, mereka memutuskan untuk duduk di pelaminan. Bahagianya Surti mengawali rumah tangga. Apalagi, Tejo cukup memanjakan Surti. Setahun kemudian, mereka dikaruniai anak dan memutuskan pindah rumah, dari rumah orangtua mereka memilih mandiri tinggal di kontrakan satu rumah. Surti pun sejak melahirkan memutuskan untuk berhenti bekerja. “Makanya, saya masih bertahan ama Kang Tejo karena mengenang masa-masa kebaikannya,” kenangnya. Oh pantes.

Namun, sejak pindah rumah itu pula, Tejo mulai bergaul dengan warga sekitar. Tak sadar jika lingkungan yang dihuninya mayoritas para penjudi. Kadang ngumpul di pos ronda atau giliran di rumah-rumah meraka. Awalnya Tejo hanya menonton setelah mengenal banyak teman. Merasa ada keseruan dan menjanjikan, Tejo terbuai dan mulai coba-coba. Seiring waktu permainan judi Tejo semakin handal dan sering menang sehingga mulai ketagihan. Seiring waktu, Tejo tak lagi beruntung bermain judi. Merasa penasaran, Tejo semakin kegilaan dengan judi dan melupakan kewajibannya bekerja dan mencari nafkah buat istri. Bahkan, sudah jarang memberikan nafkah batin. “Kang Tejo jadi jarang pulang. DI pos ronda tiap hari begadang, Kadang di rumah temannya pada main judi. Pulang ke rumah marah-marah keabisan uang,” kesalnya.

Semakin hari kelakuan Tejo semakin menggila karena judi. Bagaimana istri tidak sewot, semua barang berharga yang ada di rumah sampai ludes dijual Tejo demi bisa bermain judi dan memenuhi hasratnya bermain kartu gaple tanpa mengenal waktu. Jika Surti melarang, Tejo marah karena menganggap semua barang di kontrakan hasil jerih payahnya. Saat itu, Surti nekat meninggalkan Tejo yang mulai tak terkendali. “Saya bawa anak pergi dari rumah. Sebulan kita enggak pisah. Terus ceritanya suami ngajak balikan dan janji gak akan ngulangin lagi main judi,”katanya. Terus-terus?.

“Iya pas kita udah baikan, sebulan kemudian pas punya uang hasil dipecat dari perusahaan, eh kambuh lagi, enggak ada kapok-kapoknya,” keluhnya.

Saat ini Surti hanya bisa bersabar sampai suaminya sadar. Surti mengaku bertahan karena nasehat mertuanya yang begitu baik terhadapnya dan selalu memberikannya nafkah di luar sepengetahuan suami. “Alhamdulillah, saya sekarang sudah kerja lagi di pasar, rezeki ada saja. Saya mulai tutupi utang dikit-dikit. Biarin aja suami, ntar juga insyaf sendiri kalau udah kena batunya,” Mudah-mudahan ya teh, amin. (zai)