Semua berawal ketika Kupret (43) memutuskan menikah dengan Lala (40), keduanya bukan nama sebenarnya. Status sosial kedua keluarga yang jauh berbeda membuat hubungan mereka tak semulus sutra. Kupret berasal dari keluarga berada, sedangkan Lala hanya anak petani biasa di Rangkasbitung.

    Memang tabiatnya manusia, hanya karena urusan harta, keluarga Kupret tidak pernah menyetujui pernikahan mereka. Bahkan sebelum ditetapkan tanggal pernikahan, sempat terjadi keributan. Namun karena Kupret anak bungsu dari lima bersaudara yang punya sikap keras kepala, akhirnya meski terkesan terpaksa, pernikahan berlangsung juga.

    “Dulu kata Kang Kupret, pas kakak dan saudara yang lain nikahan mah diadakan besar-besaran sampai ngundang orang-orang penting. Pas kita sih ya biasa saja, pokoknya sederhana banget,” curhat Lala kepada Radar Banten.

    Seperti diceritakan Lala, Kupret memang termasuk lelaki tampan dengan gaya elegan ala-ala orang kaya. Meski begitu, bergelimangnya harta tak membuat ia sombong apalagi pongah. Sikapnya yang mudah bergaul dan menerima teman tanpa embel-embel kekayaan membuat Kupret diterima dengan hangat oleh masyarakat.

    Entah mengapa, pribadinya berbeda dengan kakak-kakaknya yang cenderung acuh terhadap tetangga dan teman yang berbeda status sosial. Bahkan, setiap liburan sekolah, dengan kendaraan pribadi milik ayahnya, Kupret kerap mengajak teman sekampung jalan-jalan.

    Tapi ya namanya juga manusia, tentu Kupret tidak sempurna. Selain sikapnya yang keras kepala, Kupret juga hobi taruhan bola sampai berjuta-juta. Tak hanya itu, bahkan permainan game sepak bola pun bisa jadi lahan taruhannya bersama teman. Astaga.

    Lala bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga sederhana, ia dianugerahi wajah cantik mempesona. Dengan sikapnya yang lembut dan ramah kepada setiap orang, Lala banyak diperebutkan pria. Jangan salah, katanya, setiap menjelang musim nikah, ada saja lelaki yang datang ke rumah. Widih, masa sih Teh?

    “Duh, Kang. Kenapa saya sama Kang Kupret menikah muda tuh karena ya masalah itu. Dia takut saya digaet lelaki lain,” curhatnya.

    Singkat cerita, di awal pernikahan, Kupret sempat bekerja di salah satu perusahaan ternama, walau masih sederhana, mereka hidup bahagia. Ya, saat itu sih keadaan masih aman. Keluarga Kupret tidak pernah mengusik rumah tangga mereka. Wajarlah ya, sikap Kupret yang keras dan selalu ingin menang sendiri membuat kakak dan saudara tak berdaya.

    “Waktu itu Kang Kupret memang tipe orang yang enggak mau mengalah. Semakin dilarang, dia semakin membantah. Apalagi kalau terkait kepentingan saya, pasti dia bela. Pokoknya saya merasa terlindungi begitu, Kang,” kenang Lala.

    Setahun menjalani bahtera rumah tangga, lahirlah anak pertama, membuat Kupret dan Lala semakin mesra. Hubungan mereka begitu harmonis. Bahkan, seminggu sekali mereka jalan-jalan bersama anak tercinta, memberi hiburan agar Lala tidak bosan di rumah.    

    Hingga suatu hari, cobaan datang menerjang. Kebahagiaan sirna saat Kupret dipecat dari tempatnya bekerja. Apa mau dikata, akhirnya ia menganggur dan mulai sulit mencari nafkah. Tiga bulan pasca pemecatan sih masih aman karena ada uang tabungan, tapi setelah empat bulan kemudian, mulailah ia merasa kesulitan.

    Beruntungnya, mungkin karena naluri orangtua, ibu dan ayahnya selalu memberi uang kepada Kupret. Tapi, tidak semudah membalik telapak tangan, mereka melakukan itu secara diam-diam. Soalnya, kakak dan saudara Kupret yang lain selalu menyindir dan menghina jika sang adik kedapatan minta uang. Sebagai istri, Lala hanya mampu menguatkan suami. Ya ampun, memang mereka pada ngomong apa Teh?

    “Kalau enggak menurut ke orangtua, jangan minta uang. Malu dong sama anak istri lo!” kata Lala meniru omongan kakak Kupret.

    Merasa dihina, Kupret tak bisa memendam amarah. Tak peduli ada ayah dan sang ibu, amukannya mengaum seolah ingin menerkam sang kakak. Beruntung masih ada saudara dan sang istri yang menenangkan. Kalau tidak, mungkin sudah terjadi perang saudara. Wih, seram juga nih Kang Kupret.

    Enam bulan menganggur, Kupret tak bisa berbuat apa-apa. Kebiasaan di masa muda yang selalu mengandalkan orangtua terbawa hingga dewasa. Dalam kondisi stres luar biasa, ia mulai mencari pelarian atas derita hidupnya. Sering ikut perjudian bersama teman-teman, uang dan harta benda pun habis-habisan. Parahnya, seolah memanfaatkan banyaknya teman, ia malah terus mencari peruntungan lewat perjudian dengan cara berutang. Hampir semua teman yang terlihat mapan, dipinjaminya uang. Dengan jumlah nominal yang lumayan, lama-kelamaan, utang menumpuk, memperparah keadaan. Akibatnya, hampir setiap hari Kupret didatangi orang tak dikenal. Ketika ditanya, orang itu mengaku, disuruh salah satu teman Kupret untuk menagih utang. Katanya, mereka tak enak kalau meminta langsung. Apalah daya, pusing dan serba tak nyaman menjalani keseharian, Kupret banyak mengurung diri di kamar. Ya ampun, ngeri juga ya!

    “Duh, Kang. Sumpah deritanya punya utang itu menyiksa banget. Mending yang menagih itu pakai cara baik-baik, waktu itu pernah ada yang sampai ngacung-ngacungkan golok,” tutur Lala.

    Dan, peristiwa memilukan itu terjadi, mungkin takut keadaan akan semakin buruk, Kupret meminta Lala mengemasi pakaian dan membawa perlengkapan anaknya yang saat itu masih berusia delapan bulan. Tapi anehnya, menyuruh sang istri bersiap-siap, ia sendiri justru tidak menyiapkan diri. Berpakaian seadanya dengan wajah kusam, Kupret tampak tergesa-gesa. Ketika ditanya, ia justru diam tak menjawab.

Dengan motor pemberian orangtua, Kupret beserta istri dan anaknya melesat membelah malam di perkampungan. Sekira satu jam perjalanan, ternyata, mereka menuju kediaman orangtua Lela. Di depan pintu rumah, sebelum mengetuk dan memanggil orangtua, Kupret berkata lirih, “Untuk sementara waktu kita pisah dulu. Nanti kalau semua utang sudah terbayar dan saya sudah ada pekerjaan, saya jemput kamu dan anak kita lagi,” begitu kata Kupret seperti diceritakan Lala.

    Hebatnya, tidak kurang dari lima bulan, Kupret sudah berhasil melunasi sebagian utangnya. Ia juga diberi modal membuka usaha baju distro oleh orangtua. Kupret pun menjemput sang istri dan buah hati. Mereka hidup bersama lagi.

    Ya ampun, semoga Kang Kupret tidak terjerumus ke dunia perjudian lagi. Sabar dan sehat selalu ya Teh Lala! (daru-zetizen/zee/ira)