Ilustrasi JPNN.

      Sejak kecil, Ojol (49) nama samaran memang tampak berbeda dibanding kakak-kakaknya. Cenderung pendiam, kaku, dan sulit bergaul dengan banyak orang, ia senang menyendiri di rumah. Meski begitu, apa yang dianggap orang tentang Ojol, tak membuat kasih sayang orangtua pudar.

Sering dimanja dan dituruti kemauannya, Ojol anak paling disayang keluarga. Maklumlah, ia anak terakhir dari tiga bersaudara. Ayah pekerja di perusahaan ternama di Cilegon, ibu sibuk mengurus rumah, masa kecilnya penuh warna. Apalagi ia termasuk anak berprestasi, membuat orangtua semakin sayang sepenuh hati.

Lantaran berada di lingkungan orang-orang pekerja, Ojol tidak berminat melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Setelah lulus SMA, hampir semua anak muda di kampungnya memutuskan bekerja. Ada yang ke pabrik, ada pula yang serabutan biasa.

Apalah daya, lantaran terbawa lingkungan, Ojol pun tak punya pilihan. Sempat bekerja di pabrik selama beberapa bulan, ujung-ujungnya keluar lantaran tak kuat menanggung beban pekerjaan. Lagi-lagi, ya namanya anak terakhir, jadilah Ojol diolok-olok kakaknya.

Meski begitu, dengan ekonomi keluarga yang mumpuni. Tak punya pekerjaan bukan merupakan hal yang terlalu dipusingkan. Masih bisa makan enak dan bersantai ria, Ojol banyak menghabiskan waktu main Play Station dan internet di rumah bersama teman lelakinya.

Singkat cerita, semua kakaknya sudah menemukan pasangan masing-masing. Satu persatu di antara mereka menikah dan tentu menggelar pesta besar-besaran. Pokoknya, tamu undangan dibuat terkagum-kagum dengan hidangan serta konsep pernikahan.

Hingga suatu hari, karena bingung dengan keadaan, Ojol yang sehari-hari hanya di rumah, ayah dan ibunya pun sepakat mencarikan jodoh untuk sang anak. Berharap dengan adanya istri, Ojol bisa menjadi dewasa dan bertanggung jawab atas hidupnya. Singkat cerita, dikenalkanlah Ojol dengan wanita anak rekan sang ayah, sebut saja Mona (45).

Mona sendiri bukanlah wanita biasa. Cantik, manis dan baik, ia menjadi wanita yang banyak diincar pria. Apalagi dengan kulit putih dan status ekonomi keluarga mapan, membuatnya mudah mendapat teman. Tapi anehnya, meski mudah bergaul, Mona terkesan pilih-pilih dalam mencari calon suami.

“Zaman sekarang kalau enggak hati-hati cari lelaki, bisa-bisa cuma dijaiin mainan atau bahan pelampiasan doang,” kata Mona kepada Radar Banten.

Lantaran belum memiliki pendamping, meski awalnya tak tertarik diajak ke rumah Ojol, tapi akhirnya, demi menghargai rencana orangtua, ia menurutinya. Mengenakan gamis dengan kerudung yang berpadu warna-warni, menambah kecantikan Mona seribu kali lipat.

Tak heran, seperti diceritakan Mona, kedua orangtua Ojol tampak sumringah dan menyambut hangat ketika ia datang. Tak lama kemudian, datanglah Ojol dari balik pintu dapur. Dengan kemeja dan celana panjang, Ojol lebih banyak diam dan cenderung tak responsif menanggapi pertanyaan orangtua Mona. Waduh

“Ya waktu itu dia kelihatan gugup banget. Ditanya juga jawabnya cuma iya, enggak, terus senyum, sudah gitu doang,” curhat Mona.

Namun meski begitu, Mona mengakui, dengan sifat dan kelakuan Ojol yang seperti itu, ternyata mampu membuatnya penasaran sampai timbul perasaan. Mona yang sok jual mahal di depan cowok yang ngebet mengejarnya, justru malah klepek-klepek di tangan Ojol yang kaku dan terkesan culun.

“Ya namanya juga cinta, Kang. Saya juga walnya mah enggak percaya bisa suka sama dia. Tapi mau gimana lagi,” tutur Mona.

Selang seminggu setelah pertemuan itu, kedua keluarga saling menanyakan bagaimana kelanjutan atas rencana yang sudah mereka lakukan. Ditanyalah Mona dan Ojol, tak disangka, Mona mengiyakan. Sedangkan Ojol, meski tak menjawab, kedua orangtuanya langsung mengambil keputusan. Ditentukanlah tanggal pernikahan. Widih, cepat amat!

“Saya dan Kang Ojol waktu itu lebih banyak diem dan nurutin kemauan orangtua, Kang. Jadi, mau nikahnya besok juga, ya kami sih santai saja,” ungkapnya.

Meski sebenarnya Ojol menginginkan pesta pernikahan sederhana, hanya mengundang teman dan sanak saudara. Tapi orangtua dan keluarga tetap menginginkan pesta besar-besaran. Mengikat janji sehidup semati, Ojol dan Mona resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, baik Ojol maupun Mona tampak saling menjaga perasaan. Tidak banyak bertingkah dan cenderung pendiam, keduanya tak bisa menguasai keadaan. Lantaran semua kakak-kakak Ojol tinggal di rumah istrinya, ada juga yang sudah memiliki rumah sendiri, sang ibu meminta Ojol membawa Mona tinggal di rumahnya.

Tanpa basa-basi, sadar akan statusnya sebagai istri, meski berat, Mona menuruti kemauan sang suami. Ia tinggal bersama keluarga Ojol. Bersikap lemah lembut dan rajin bersih-bersih, Mona sukses menarik hati sang ibu mertua. Namun belum juga sebulan, karena ingin melihat Ojol mandiri, sang ayah membelikan rumah. Widih, enak amat ya hidupnya.

“Ya waktu itu orangtua dia memang royal banget orangnya. Segala dibelikan rumah, meski masih cicilan, tapi kan lumayan,” terang Mona.

Hari demi hari dilalui, Mona mengaku, meski sudah suami istri dan tinggal satu atap, mereka masih kerap malu-malu. Sampai suatu ketika, Mona mengalami hal layaknya wanita normal pada umumnya. Ia datang bulan dan merasakan sakit perut luar biasa.

Apa mau dikata, emosinya tak terkendali dan sering marah-marah tak jelas. Lantaran tak ada siapa-siapa lagi di rumah selain Ojol, jadilah sang suami sebagai bahan pelampiasan emosi atas rasa sakit yang ia rasakan. Dicaci maki karena tak bekerja, Ojol hanya diam tak bereaksi. Waduh.

“Waktu itu saya bener-bener enggak kuat, Kang. Sakit, kesel, ditambah dia kerjanya main game terus. Ya saya marahin sekalian,” tukas Mona.

Meski sempat membaik, namun di bulan-bulan selanjutnya, hal itu terus terjadi. Keadaan semakin diperparah lantaran Ojol tak mengerti apa yang terjadi pada istrinya. Ketika Mona emosian, ia justru langsung mencap Mona wanita yang liar. Apalah daya, tanpa sepengetahuan Mona, Ojol meminta cerai kepada orangtuanya. Lah, minta cerai kok ke orangtua?

“Saya juga kesel, dia enggak berani ngomong langsung ke saya. Jadinya malah bikin malu. Jujur saya sakit hati,” tukas Mona.

Ya, namanya juga jiwa muda. Baik Mona maupun Ojol sama-sama tak bisa mengontrol diri. Seolah pernikahan ibarat permainan, mereka sepakat menuju perceraian. Astaga. Mona pun menikah dengan lelaki lain, sedangkan Ojol malah dipesantrenkan salafi oleh ayahnya. (daru-zetizen/zee/RBG)