Anak SD Muntah-muntah Dicekoki Urine oleh Temannya

0
69

TANGERANG – Kasus bully atau penganiayaan yang dialami siswa sekolah kembali menggemparkan Kecamatan Sukamulya. Kali ini menimpa H (10), siswa kelas IV SDN Bunar III, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang. Ia menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah rekannya. Selain dipukul, siswa malang ini juga dipaksa meminum urin rekannya tersebut.

Dari penuturan nenek korban Emah, penganiayaan terjadi saat jam istirahat, Selasa (7/11) lalu. Di dalam kelas, empat rekannya berinisial M, N, O dan D memaksa cucunya untuk meminum air kencing yang telah di simpan dalam botol minuman.

”Cucu saya enggak bisa melawan karena dipegangi tangannya. Sebenarnya selain cucu saya, ada dua siswa lain yang akan menjadi korban. Cuma mereka berhasil kabur karena melawan,” terangnya kepada Radar Banten, Kamis (9/10).

Akibat kejadian itu, cucunya mengalami muntah-muntah dan terus buang air besar. Cucunya pun, sering ketakutan berangkat ke sekolah. ”Ia akhirnya mengaku saat kami paksa bicara,” terangnya.

Setelah mengetahui kejadian tersebut, Emah dan ayah korban Ahmad Ismail langsung mendatangi pihak sekolah. Mereka mengecek kebenaran laporan cucunya. ”Kawan-kawannya membenarkan kejadian tersebut. Bahkan mereka menunjukkan botol minuman dan muntahan cucunya yang masih belum dipel saat dipaksa meminum air kencing temannya,” jelas Emah.

Ayah korban Ahmad Ismail mengaku kecewa atas kealpaan pihak sekolah yang luput atas peristiwa tersebut. Dirinya pun mengancam melaporkan hal ini ke pihak berwajib.

Ahmad mengaku baru mengetahui kasus tersebut dari ibunya setelah pulang berjualan, pada Rabu (8/11) lalu. ”Karena peristiwanya di sekolah makanya kami meminta pertanggungjawaban sekolah, apa mau dikeluarkan atau tidak si pelaku, kalau tidak kami yang paksa mengeluarkannya,” tegasnya.

Wali Kelas IV SDN Bunar III Sanusi, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Pihaknya akan melaporkan dan menindak lanjuti persitiwa tersebut. Peristiwa tersebut terjadi saat jam istirahat dan pihak sekolah juga baru mengetahui kemarin, setelah nenek korban mendatangi sekolah.

”Sekarang kepala sekolahnya masih pedidikan. Saya akan laporkan terlebih dahulu ke kepala sekolah,” tandasnya. (Togar/RBG)