Anakku Menyatukan Rumah Tanggaku

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Anak adalah segalanya bagi orangtua. Selain pengikat tali perkawinan, anak pun bisa menjadi penyatu rumah tangga yang retak. Seperti yang terjadi pada rumah tangga Leo (37), dan Fitri (30), keduanya nama samaran. Rumah tangga mereka kembali utuh akibat peran Nindi (4), anak perempuan semata wayang mereka.

Karakter Nindi yang penyayang serta kepolosannya mengalahkan ego Leo dan keras kepala Fitri. Kini Leo dan Fitri kembali rukun, bahkan kerukunan ini semakin resmi setelah Fitri mencabut gugatan cerainya terhadap Leo. “Kami sudah kembali seperti dulu, karena itu tidak etis kalau gugatan cerai saya masih tercatat di Pengadilan Agama,” tuturnya.

Nindi kemungkinan besar tidak menyadari jika dirinya telah menjadi pahlawan. Hal terpenting, masa depannya akan cerah lantaran terbebas dari bayang-bayang rumah tangga pecah alias broken home. “Dia itu pahlawan kami, tanpa ia sadari sendiri. Untung kami punya anak perempuan cerdas seperti dia,” ujarnya.

Sebetulnya sih, di belakang Nindi ada peran serta para guru PAUD. Mereka sering membisikkan sesuatu agar Nindi tetap mencintai ayah dan ibu meskipun mereka sedang bertengkar. “Nindi kan sekolah PAUD, dia kadang curhat kangen ayahnya. Ibu gurunya suka menghibur, terus menasihati Nindi agar tetap sayang pada orangtua,” katanya.

Dorongan para gurulah yang membuat Nindi tidak pernah berhenti memperlihatkan kecintaannya terhadap Leo dan Fitri. Lambat laun ini membuat luluh Leo dan Fitri, sehingga mereka pun memutuskan untuk rujuk. “Kami bertemu untuk membahas Nindi. Kemudian kami memutuskan untuk berbaikan, memberikan kesempatan kedua untuk diri kami masing-masing demi Nindi,” ujarnya.

Sementara persoalan antara Leo dan Fitri tidak lain karena adanya pihak ketiga. Sebuah kesalahpahaman terjadi ketika Leo berhubungan dekat dengan teman kerjanya. Sang teman yang masih perawan ting-ting tidak kuasa menahan kharisma Leo, sehingga terjadilah perselingkuhan hati. “Suami dan teman sekantor merasa saling suka. Tidak sampai selingkuh sih, karena keduluan ketahuan oleh saya,” katanya.

Fitri saat itu mengendus bau tidak sedap setelah melihat cara si teman melihat suaminya. Leo pun kerap gugup jika Fitri berkunjung ke ruang kerja di kala si teman ada dalam satu ruangan. “Insting saya jalan, kok suami dan orang itu tingkahnya selalu aneh. Setelah ditanya-tanya, mereka katanya berteman dekat. Bahkan terlalu dekat,” tuturnya.

Pada suatu ketika, Fitri memergoki Leo dan teman perempuannya makan di sebuah restoran. Jarak duduk mereka terlalu dekat, bahkan si perempuan menyandarkan bahunya ke dada Leo.

Nahhh, ini baru adegan selingkuh, Fitri tentu saja mengamuk. Ia marah-marah di depan Leo, bahkan sop buah dalam mangkuk ditumpahkan ke kepala Leo. Beuh, sinetron banget tuh Bu. “Lah iya, namanya juga sedang marah, apa yang muncul dalam pikiran langsung dilakukan. Kebetulan lihat sop buah, ya langsung saya tumpahin deh ke muka suami,” jelasnya.

Insiden ini membuat kedua belah pihak saling menaruh dendam. Amarah Fitri menyisakan rasa malu pada Leo, ia jadi bahan tontonan orang-orang di restoran setelah diguyur air sop buah.

Malam harinya, Leo angkat koper tanpa bicara lagi dengan Fitri. Sejak saat itulah, Fitri pisah rumah dengan Leo. “Waktu itu usia Nindi hampir empat tahun. Dia melihat ayahnya datang dan pergi tanpa ekspresi. Mukanya kebingungan, makanya saya peluk dia,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, Nindi sering berkomunikasi lewat telepon genggam. Nindi yang cerdas bermain gadget dimodali Leo sebuah hp android lengkap dengan pulsa telepon dan paket internet full service setiap bulan. “Jadi ayahnya sering komunikasi lewat HP. Ada tuh kan yang bisa video chat,” terangnya.

Nindi pun bisa mengoperasikan BBM, ia sering mengirim gambar dirinya juga video rekaman. Di beberapa malam, Nindi mengirimkan gambar dirinya masih kecil saat bersama Leo dan Fitri. Ia memberi judul foto itu dengan tulisan kangen. “Itu diajarkan guru PAUD-nya. Saat itu Nindi hanya bisa menulis namanya dan tulisan ‘kangen’,” ujarnya.

Nindi juga sering curhat kalau ia ingin kembali merasakan kehangatan cinta ayah dan ibunya seperti dulu. Inilah yang membuat Leo dan Fitri luluh, mereka pun bertemu dan sepakat untuk berdamai. “Keegoisan kami tidak sebanding dengan masa depan Nindi. Ia juga mengingatkan kami dengan komitmen yang pernah kami buat dulu. Yaitu, apa pun yang terjadi jangan sampai rumah tangga pecah,” jelasnya.

Sekarang sih, Nindi sudah enam tahun dan sedang lucu-lucunya. Fitri merasa bersyukur rumah tangganya terselamatkan oleh kehadiran anak. “Kalau kami tidak punya anak, mungkin jalan ceritanya tidak akan seperti ini. Untung pula anak kami pintar, makanya kami sayang sekali kepada Nindi,” ujarnya. (Sigit/Radar Banten)