Suwaib Amirudin

CILEGON – Menjelang pemilihan calon anggota legislatif (pileg) 2019, sejumlah partai politik (parpol) sudah menyiapkan calon anggota legilslatif (caleg). Namun, tidak sedikit dari mereka yang menjaring kader eksternal untuk dipasang sebagai caleg.

Menanggapi hal itu, akademisi Untirta Suwaib Amiruddin menilai, setiap parpol sah saja mencari caleg dari luar atau pun dari kadernya sendiri. Namun menurutnya, jika sebuah parpol mencari caleg dari kalangan eksternal, itu tandanya parpol tersebut sudah gagal total menjadi sebuah lembaga pengkaderan.

“Yang dicari jangan caleg yang punya modal ataupun caleg yang punya popularitas. Tapi, optimalkan kader parpol yang sudah ada,” terangnya kepada Radar Banten, Jumat (2/3).

Menurut Suwaib, seharusnya kader parpol diberikan pendidikan politik. “Jangan mencari caleg yang banyak modalnya, sedangkan kadernya diabaikan. Jangan salah, kader sebuah parpol pasti sudah mempunyai basis massa yang kuat. Karena, kader tersebut sudah merintisnya dari nol,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untirta itu.

Padahal, kata dia, caleg dari kalangan eksternal meskipun punya modal besar belum tentu bisa diterima oleh masyarakat. “Kenal juga belum. Lalu, apa yang harus dipilih dari caleg tersebut. Caleg eksternal walaupun punya peluang yang sama besar, yang dikhawatirkan, ketika sudah duduk, kepeduliaan terhadap partai yang menaunginya dan basis massanya kurang diperhatikan,”  ujarnya.

Kata Suwaib, sebuah parpol harus menjadi tempat yang nyaman bagi para kadernya. Selain itu, jangan jadikan parpol seperti perusahaan. Lantaran ada yang mau menanam modal besar dari luar, langsung diterima saja.

“Dampaknya, kader internal terabaikan. Hal ini tidak baik bagi pendidikan politik kita,” imbuhnya.

Sementara peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Lili Romli menilai, untuk rekrutmen caleg bisa dilakukan dari kader-kader parpol maupun mengejar figur dari luar untuk menjadi kader dan caleg suatu parpol. “Agar caleg bisa bersaing dengan baik harus dibekali melalui pelatihan, bagaimana cara untuk memenangkan dalam sebuah kontestasi,” terang Lili.

Meski demikian, Lili tak bisa menampik jika parpol yang mencari caleg dari luar maka hal itu sama saja menandakan bahwa parpol tersebut telah gagal melakukan kaderisasi sehingga kesulitan mencari caleg. Akibatnya, sebagai jalan pintas, parpol mengambil caleg dari luar.

Kata Lili, parpol yang mencari caleg dari luar disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya karena kekurangan kader dan juga bisa dikarenakan untuk dijadikan vote getter. “Tapi, masih ada kok parpol yang tetap menggunakan SDM-nya sendiri,” imbuh Direktur Eksekutif Banten Institute Regional and Development (BiRD) itu. (Umam/RBG)