Angka Kematian Ibu Masih Tinggi

Ilustrasi.

SERANG – Sepanjang 2015 hingga 2017, sebanyak 64 persen angka kematian ibu (AKI) terjadi setelah persalinan. Besarnya angka AKI itu harus mendapat perhatian serius.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi media dengan tema ‘Angka Kematian Ibu dan bayi di Provinsi Banten’ yang digelar USAID Jalin Project di hotel Le Dian Kota Serang, Kamis (8/11).

Regional Manager Usaid Jalin Project Provinsi Banten Harris Rambey mengatakan, berdasarkan hasil Studi Banten II yang dilakukan di Pandeglang, Serang dan Kota Serang, menunjukkan 64 persen kematian ibu terjadi pasca persalinan, 9 persen kematian terjadi saat melahirkan, dan 24 persen saat kehamilan. “Penyebab kematian ibu di Banten akibat pendarahan yakni mencapai 38 persen, dan hipertensi dalam kehamilan 19 persen,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Haris itu mengatakan, sebagian besar kematian ibu dan neonatal atau kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan atau 28 hari (AKB), dapat dicegah. Pencegahan dilakukan dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah kedua kondisi yakni pendarahan dan hipertensi. Ditambah dengan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. “Pada 2015, hampir 15 persen ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilan lengkap sepanjang kehamilannya,” katanya.

Ia juga mengatakan, dari total kematian ibu 240 di tahun 2016, dengan 5 orang ibu meninggal setiap minggu di Provinsi Banten. Kabupaten Serang memiliki jumlah kasus kematian 59 kasus. Sensus kematian ibu pada 2015-2017 di Kabupaten Pandeglang, Serang dan Kota Serang menemukan jumlah kematian ibu sebanyak 324 kematian. “Pada 2015, sejumlah 1.380 anak meninggal pada usia 0-28 hari. Kabupaten Lebak 471 kasus, dan Kabupaten Tangerang 322 kasus, merupakan dua kabupaten dengan jumlah kasus kematian neonatal tertinggi,” katanya.

Selain itu, di tempat studi yang sama, pihaknya menemukan terjadi pergeseran kematian ibu dari wilayah terpencil dan rural, ke wilayah urban, terutama pada fasilitas kesehatan. Kata dia, pada periode 2015-2017 sebanyak 65 persen kematian ibu di wilayah studi Banten II terjadi di fasilitas kesehatan. “Layanan kesehatan yang berkualitas dapat berkontribusi menurunkan risiko kematian ibu dan bayi baru lahir atau neonatal,” katanya.

Fasilitator diskusi Theresia Budiarti Utami Putri dalam akhir acara mengatakan, langkah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir memerlukan kontribusi dari semua pihak. “Permasalahan dalam bidang kesehatan tidak dapat diselesaikan dengan melakukan perbaikan di sektor kesehatan semata,” katanya.

Ia mencontohkan, optimalisasi sistem rujukan hanya dapat dicapai dengan perbaikan sistem transportasi dan komunikasi, yang perlu didukung oleh sektor nonkesehatan. “Hal ini menekankan pentingnya kontribusi seluruh sektor terkait dalam upaya menurunkan kematian ibu dan neonatal,” pungkasnya. (Fauzan D/RBG)