SERANG – Tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Salah satu butir yang dianggap krusial dalam peringatan kali ini adalah kebanggaan anak muda untuk menggunakan bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia.

Pada perkembangannya, penggunaan bahasa di kalangan anak muda ini sangat beragam dan dinamis. Munculnya bahasa ‘gaul’ atau bahasa ‘alay’ menjadi gejala bahasa yang membuat Bahasa Indonesia semakin kaya dengan varian penggunaan bahasa.

Tenaga Peneliti Bahasa dari Kantor Bahasa Provinsi Banten, Anitawati Bahtiar melihat gejala ini sebagai sesuatu yang lumrah terjadi pada anak muda yang butuh eksistensi, termasuk dalam berkomunikasi sehari-hari. “Pertanyaannya, apakah gejala semacam ini mengkhawatirkan,” kata Anitawati saat ditemui di Kantor Bahasa Banten, Jalan Bhayangkara, Cipocok, Kota Serang, Rabu (28/10/2015).

Menurut Anita, bahasa ‘alay’ sebenarnya tidak memberi pengaruh besar terhadap keberadaan Bahasa Indonesia. Ia memberi contoh pada tahun 80-an muncul fenomena bahasa ‘prokem’. “Zaman berlalu, bahasa pun menghilang. Penggunaan bahasa ini menandakan pemuda menginginkan kelompoknya berbeda dari yang lain,” jelasnya.

Bahasa ‘alay’ menurut Anita memasuki kehidupan anak muda dan hanya berlaku untuk kalangan anak muda. Penggunaannya hanya sebatas di lingkungan mereka dalam pergaulan sehari-hari. “Mungkin mereka lebih percaya diri. Tapi kalau penggunaan bahasa ‘alay’ dianggap merusak Bahasa Indonesia, tidak separah itu,” paparnya.

Selebihnya, hal yang penting menurut dia, adalah soal kesadaran anak muda untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan konteks di mana dan siapa yang menjadi mitra bicara. Secara umum, Anita melihat penggunaan bahasa pemuda di Banten sudah cukup bagus. Melalui program duta bahasa, pemuda diharapkan sadar akan penggunaan bahasa yang baik dan benar. “Bahasa yang baik dan benar selalu sesuai dengan konteks siapa dan di mana perbincangan dilakukan. Tidak mesti selalu bahasa yang baku.”

Pada ranah lain, penggunaan bahasa pemuda di media sosial seperti Facebook, Twitter dan sebagainya masih dalam tahap biasa dan belum dianggap memprihatinkan. “Yang kami temukan melalui pengumpulan data di media sosial di Banten, belum parah. Pada jenjang usia tertentu memang ada yang menggunakan angka dan huruf tertentu di Facebook. Sementara di Twitter karena limitasi karakter jarang digunakan anak muda di Banten.”

Pada momen ini, Anitawati juga mengimbau agar pemuda lebih bangga menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak harus baku, namun tetap sesuai konteks siapa dan di mana penutur berbicara. (Wahyudin)