Antre Siang-Malam, Warga Pulomerak Kesulitan Air

CILEGON – Warga yang bermukim di dataran tinggi Kota Cilegon, hingga kini masih kesulitan air bersih. Meski di daerah lain sudah mulai turun hujan, di sejumlah wilayah Kota Baja ternyata hujan belum juga turun.

Warga Lingkungan Gunungbatur, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, misalnya. Mereka memerlukan perjuangan ekstra untuk mendapatkan air bersih. Bahkan sampai menginap di tengah hutan yang menjadi lokasi sumber mata air.

Ketua RT 02 RW 03 Lingkungan Gunungbatur, Fadilah, menuturkan, untuk bisa mengisi air, warga butuh waktu berjam-jam. Kondisi itulah yang tak jarang membuat warga harus menginap di tengah hutan. “Bahkan sampai sehari semalam di sini ambil air, jadi bergiliran,” ujar Fadilah kepada Radar Banten, Sabtu (12/10).

Menurutnya, sudah sekira tujuh bulan warga mengalami kekeringan. Sampai kemarin, hujan belum juga turun. Meski untuk mendapatkan air sangat susah dan memakan waktu lama, Fadilah merasa bersyukur karena masih ada mata air yang menjadi sumber air bersih.

Warga berharap ada bantuan rutin dari pemerintah. Paling tidak dalam satu bulan ada satu kali bantuan air bersih untuk meringankan beban masyarakat. “Kalau ada bantuan tentu meringankan beban warga,” ungkapnya.

Sementara itu Kanah, salah satu warga menuturkan, setiap hari ratusan jeriken dan galon berjejer mengantre untuk diisi air bersih. Setiap pagi, ia bersama ibu-ibu rumah tangga lain memindahkan air yang terdapat di cekungan batu ke dalam jeriken atau galon.”Pagi, jam 06.00 WIB udah di sini,” tutur Kanah.

Menurut Kanah, untuk bisa mengisi air, warga saling membantu. Secara bergantian warga mengisi jeriken atau galon yang sudah mengantre kendati pemilik sedang tidak berada di lokasi.

Tantangan bagi warga tidak hanya saat hendak mengambil dan mengisi air, tetapi berjalan menanjak dan menurun sambil membawa jeriken dan galon yang telah terisi penuh air.

Menyikapi masalah kekeringan, saat ini Pemkot Cilegon sedang membangun sumur bor di Mekarsari, Tamansari, Lebak Gede, dan Suralaya. Anggaran untuk membangun sumur itu berasal dari dana insentif daerah (DID).

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Cilegon Azis Setia Ade Putra menuturkan, sumur-sumur itu dibangun di dataran rendah yang memiliki sumber air. “Di atas tidak ada sumber airnya. Ini ketinggian maksimal di bawah 150 meter di atas permukaan air laut, di luar itu sudah susah,” kata Azis.

Meski dibangun tidak di titik persis lokasi kekeringan, sumur bor itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan air di lokasi-lokasi tersebut. Pendistribusian air akan dilakukan menggunakan truk tangki. “Untuk daerah yang sulit terjangkau truk, kami meminta untuk turun sampai ke lokasi yang bisa dijangkau truk,” paparnya.

Solusi lain, ke depan, Pemkot Cilegon akan membangun tempat penampungan air di dataran tinggi sehingga masyarakat tak harus menunggu pasokan menggunakan truk tangki. (bam/ibm/ags)