Arus Mudik Tahun ini Lebih Landai

Pemudik yang menggunakan mobil mengantre untuk masuk ke dalam kapal di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Minggu (10/6) dini hari.

MERAK – Arus mudik Lebaran tahun ini tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya. Libur yang lebih panjang menjadi salah satu faktor utama bagi pemudik untuk memilih waktu pulang kampung. Hingga arus mudik pada Sabtu (9/6) di Pelabuhan Merak, pemudik yang sudah menyeberang ke Pulau Sumatera hanya 375.894 orang.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Merak Fahmi Alweni mengatakan, telah mengantisipasi potensi arus mudik atau maju dari prediksi puncak arus sebelumnya, yakni pada Senin (11/6) dan Selasa (12/6). “Dari segi prasarana dan sarana, kami siap. Penambahan loket dan tollgate telah dilakukan. Untuk penumpang berjumlah 31 unit, roda dua 34 unit, dan roda empat sebanyak 17 unit yang siap melayani pemudik,” ujar Fahmi, Minggu (10/6).

Setiap hari jumlah pemudik semakin meningkat. Kondisi serupa diikuti oleh jumlah kendaraan bermotor yang menyeberang melalui pelabuhan. “Peningkatan jumlah kendaraan cukup signifikan jika dilihat dari data yang ada,” katanya.

Jumlah kendaraan yang menyeberang melalui Pelabuhan Merak pada H-8 sebanyak 7.953 unit, pada H-7 sebanyak 13.505 unit, dan H-6 sebanyak 32.013 unit. Kendaraan roda empat tercatat paling mendominasi dibandingkan jenis kendaraan lain seperti motor, bus, dan truk.

Menurut Fahmi, sejauh ini arus mudik masih tertangani dengan baik. Belum terjadi antrean kendaraan yang sangat parah. Sejauh ini masih dalam batas wajar.

Skema memfokuskan Dermaga VI sebagai akses masuk pemudik yang menggunakan motor menurut Fahmi berdampak baik pada alur arus mudik. Menurutnya, skema itu ampuh membuat lalu lintas kendaraan lebih tertib dan lancar.

Plt Kepala Dishub Provinsi Banten Herdi Jauhari menjelaskan, arus mudik masih berjalan lancar. “Di Dermaga VI roda dua terpantau lancar, satu kapal besar bisa mengangkut 700 kendaraan (roda dua),” ujarnya.

Kemarin, Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo meninjau Dermaga VI dan Posko Terpadu di Terminal Terpadu Merak. Kata Kapolda, dengan beroperasinya Dermaga VI arus mudik menjadi lebih lancar. Tidak ada penumpukan kendaraan.

Arus Kendaraan Terbagi

Sementara itu, General Manager PT Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek Raddy Riadi Lukman mengungkapkan, jumlah libur Lebaran yang panjang memang turut mendistribusikan kendaraan yang hendak mudik. Termasuk pada H-5 atau kemarin (10/6) pun juga diprediksi lebih sedikit. Prediksi awal dari Jasa Marga kendaraan yang melintas 109 ribu.

“H-5 masih tinggi walaupun mungkin masih di bawah. Bersamaan juga dengan periode pendaftaran anak sekolah,” ujar Raddy.

Data dari Jasa Marga hingga siang kemarin jumlah kendaraan yang melewati pintu Tol Cikarang Utama sebanyak 28.129 kendaraan. Jumlah tersebut meningkat 31 persen dari lalu lintas kendaraan pada hari biasa, yakni 21.342 kendaraan.

Pada Sabtu (9/6) jumlah kendaraan yang masuk ke pintu tol tersebut 109.165 kendaraan. Sementara, pada hari biasa hanya dilalui 70.000 kendaraan. Jadi, ada peningkatan 55 persen dibandingkan hari biasa. Dibandingkan pada 2017 lalu, puncak arus mudik terjadi pada H-4 sebanyak 116.231.

Raddy menuturkan, mereka pun sudah mengeluarkan jurus-jurus untuk memaksimalkan kapasitas lajur Jakarta-Cikampek. Misalnya, contraflow di KM 35+600 sampai KM 47+100 juga dilakukan kemarin. “Tadi pagi (kemarin-red) kita mainkan di KM yang sama 35+600 sampai 47+100 itu tadi sebentar saja sudah lancar lagi,” ujar dia.

Selain itu, juga strategi yang dimainkan untuk meningkatkan kapasitas dengan cara pendistribusian beban. Yakni Cikarut entrance ditutup dipindah ke Cikarang Barat III lalu masuk lagi ke Cikarang Barat I sehingga melewati titik penyempitan di KM 30. “Kemarin (kemarin lusa-red) empat kali yang tadi pun empat kali itu efektif juga,” ujar dia.

180 Kecelakaan

Arus mudik hingga Minggu (10/6) memang tidak mengalami kemacetan berarti. Namun, Korlantas Polri memiliki evaluasi atas kemacetan yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila pemudik mematuhi aturan. Biang kemacetan tersebut adalah memaksakan beristirahat di rest area yang pertama kali dijumpai.

Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Korlantas Polri Kombespol Benyamin menjelaskan bahwa kemacetan paling terasa memang diakibatkan menumpuknya pemudik di rest area. Kondisi itu terjadi karena pemudik ingin cepat beristirahat di rest area pertama yang ditemui. “Namun, tidak mempertimbangkan penuhnya rest area tersebut,” jelasnya.

Akhirnya, pemudik mengantre panjang untuk masuk ke rest area. Sehingga, menimbulkan kemacetan sekitar satu kilometer dari tiap rest area. “Namun, begitu dicek rest area lain yang berdekat, kondisinya tidak begitu penuh,” terangnya.

Kondisi itu tentunya perlu dipahami oleh pemudik. Menurutnya, sebaiknya pemudik bila mengetahui rest area dalam keadaan penuh, segera untuk berpindah ke rest area yang lainnya. “Bila itu dilakukan, tentunya akan membantu sekali,” paparnya dihubungi Jawa Pos, kemarin.

Biang kemacetan lainnya adalah pemudik yang merasa tidak bisa masuk ke rest area akhirnya memutuskan beristirahat di bahu tol. Dia mengatakan, perilaku semacam itu tidak hanya membuat kemacetan, tetapi juga berbahaya pagi pengemudi. “Potensi kecelakaan bisa terjadi. Tidak hanya saat berbuka, siang hari terkadang ada juga pengemudi yang istirahat di bahu tol,” ujarnya.

Yang juga menjadi titik kemacetan adalah gerbang tol, dia menjelaskan bahwa dari pantauannya setiap gerbang tol mengalami kemacetan sekitar satu kilometer. Sebenarnya, kondisi itu wajar karena melakukan proses pembayaran menggunakan e-toll. ”Sebelum e-toll biasanya macetnya lebih panjang,” terangnya.

Untuk jumlah kecelakaan, sesuai data Korlantas hingga Minggu pagi diketahui kecelakaan mencapai 180 kejadian. Dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 40 orang, luka berat 28 orang, dan luka ringan 258 orang. ”Data belum terkumpul semua, menunggu hingga tengah malam ya,” jelasnya.

Menurutnya, kendati jumlah kecelakaan meningkat drastis dibandingkan pada Sabtu yang hanya 70 kecelakaan. Namun, dibandingkan dengan jumlah kecelakaan tahun lalu sangat menurun. “Tahun lalu hingga H-6 itu jumlah kecelakaan mencapai 278 kejadian,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Kamsel Korlantas Polri Brigjen Chrysnanda Dwilaksana mengatakan, sesuai dengan analisis Korlantas Polri berdasarkan perilaku mengemudi, penyebab kecelakaan terbanyak adalah ceroboh saat berbelok. “Di jalur mudik dan nonmudik, banyak kecelakaan akibat saat berbelok tidak waspada,” ujarnya.

Selanjutnya, perilaku yang menyebabkan kecelakaan itu adalah ceroboh saat menyalip. Dia menjelaskan, pengemudi saat menyalip kendaraan tidak mempertimbangkan kendaraan dari arah berlawanan atau pun lainnya. ”Perilaku lainnya adalah gagal memberikan tanda saat berkendara, misalnya saat mau belok tidak memberikan tanda belok,” jelasnya. (Bayu M-JPG/RBG)