CILEGON-Beberapa kejadian kecelakaan kapal di perairan Indonesia akhir-akhir ini membuat Kesyahbadaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten turut prihatin. KSOP pun kembali mengingatkan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Merak dan operator kapal agar memperketat pendataan penumpang atau manifes.

KSOP menilai keselamatan pelayaran harus dimulai dari manifes penumpang. Meskipun bukan menjadi kewenangan penuh KSOP, tetapi manifes penumpang wajib dipenuhi ketika kapal berlayar.

Kepala KSOP Kelas I Banten Yefri Meidison mengatakan, seluruh operator kapal baik ASDPmaupun operator swasta di Merak belum tertib. Termasuk dalam mengelola data manifes penumpang. Padahal data penumpang yang diminta untuk dipenuhi secara lengkap itu menjadi kewajiban operator kapal guna menjamin keselamatan penumpang.

“Seperti penumpang kendaraan pribadi dan bus, selama ini yang dicatatkan hanya jumlahnya saja. Detail yang lain seperti jumlah penumpang anak-anak kan tidak ada. Nama-nama lengkap penumpang juga tidak ada. Walau terlihat sepele, tapi ini penting sekali,” kata Yefri, Jumat (13/7).

Yefri menambahkan, manifes penumpang yang lengkap sangat membantu dalam keselamatan pelayaran. Aturan manifes penumpang, sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2016 tentang Daftar Penumpang dan Kendaraan Angkutan Penyeberangan. Selain itu diatur juga di Peraturan Menteri Nomor 28 Tahun 2016 tentang Kewajiban Penumpang Angkutan Penyeberangan Memiliki Tiket. 

“Hanya saja dari pengamatan di lapangan, aturan itu tidak diberlakukan dengan akurasi data lengkap. Makanya sering terjadi kesimpangsiuran terkait jumlah penumpang pada saat kapal mengalami kecelakaan. Kadang kapal melebihi muatan, itu karena data tidak akurat. manifes penumpang berperan besar dalam keselamatan,” tegasnya.

Untuk mengimplementasi aturan itu, KSOP Banten telah berkoordinasi dengan Balai Pengelola Transportasi (BPTD) Wilayah Banten agar kedua otoritas tidak miskomunikasi. “Kami meminta agar operator segera menerapkan aturan itu. Paling lambat sudah diberlakukan mulai Agustus nanti,” tandas Yefri.

Sementara itu, General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry Merak, Fahmi Alweni menyatakan, pihaknya akan mewajibkan penumpang untuk mengisi blangko manifes sebelum menaiki kapal di Pelabuhan Merak. “Kami juga akan tempatkan posko khusus untuk mendistribusikan blangko kepada pengguna jasa,” ujarnya.

Nantinya, penumpang dibantu petugas gabungan dari ASDP, Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap), Indonesia National Ferryowner Asociation ((INFA), dan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). “Kami siapkan dua posko gabungan di jembatan timbang untuk pelayanan bus dan kendaraan pribadi,” ucap Fahmi.

Selama ini, penerapan manifes secara lengkap baru diberlakukan untuk penumpang pejalan kaki. Namun, untuk penumpang kendaraan masih belum sempurna. manifes hanya mencatat nama sopir dan jumlah penumpang di dalam kendaraan saja. 

“Nanti di blangko manifes semua harus tercatat. Setelah blangko itu diisi, lalu akan diserahkan ke petugas pelayanan tiket. Kalau blangko itu tidak diisi, maka penumpang dilarang membeli tiket dan otomatis tidak bisa naik ke kapal. Kami akan berlaku tegas nanti,” tukas Fahmi. (dre/ibm/ags)