Astaga…Suami Pelit Kok Tingkat Dewa (Bag 1)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Enok (34) nama samaran, sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik. Sayangnya hal itu tidak dilakukan Sukra (37), nama samaran suami Enok. Pegawai salah satu perusahaan swasta di Serang ini terbilang super pelit dan perhitungan. Gara-gara sifat ini, Enok jadi pusing tujuh keliling dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Ia pun mendatangi Kantor Pengadilan Agama untuk melaporkan sifat suaminya yang sangat keterlaluan itu. Petugas pun mengarahkan Enok untuk curhat terlebih dahulu sebelum melayangkan gugatan cerai. “Saya tidak tahan punya suami super pelit. Apa-apanya itu diperhitungkan, jadi enggak bisa hidup bebas kalau punya suami seperti itu,” keluh Enok.

Enok sendiri merasa sudah berkorban untuk keutuhan rumah tangga. Ia fokus mengurus anak-anak hasil pernikahan dengan Sukra sampai rela meninggalkan pekerjaannya. “Itu pengorbanan yang sangat besar. Sebab saya suka sekali dengan pekerjaan itu,” akunya.

Padahal, kata Enok, Sukra awalnya tidak seperti itu. Dia tidak pernah perhitungan dengan keuangan keluarga. Namun ketika Enok keluar dari pekerjaannya, Sukra mulai memperlihatkan sifat pelit. Dia sangat perhitungan, bahkan sampai anak jajan permen pun harus masuk perhitungan anggaran dapur. “Super pelitnya minta ampun. Masa anak jajan permen aja sampai harus dijatah. Lalu setiap kali jajan, harus ada pembukuannya. Mana bisa saya seperti itu,” jelasnya.

Menurut Enok, persoalan keuangan saat dia masih bekerja memang tidak ketat. Terlebih ia sering membeli segala kebutuhan dapur menggunakan uangnya sendiri. “Ketika saya punya penghasilan, saya tidak pernah minta apa-apa ke suami. Jadi kalau mau beli kebutuhan dapur, pakai uang saya,” terangnya.

Sementara itu, Sukra pun berbuat hal sama. Ia cukup perhatian dengan kondisi rumah dan tidak pernah ragu untuk melengkapinya. Misalkan ketika dapur kekurangan alat memasak, ia siap mengeluarkan uang dan membelinya bersama Enok. Termasuk ketika ada kerusakan pada sudut-sudut rumah. Ia pun tidak ragu merogok dompet untuk menyewa petukang melakukan perbaikan.

“Saat saya masih bekerja, kami tidak pernah hitung-hitungan untuk memerhatikan kebutuhan rumah. Saya lebih fokus pada kebutuhan dapur, sementara Mas Sukra kepada perabot rumah tangga dan kondisi rumah,” terangnya.

Selama Enok bekerja, ia menitipkan kedua anak ke tetangga. Kadang kala mereka menyewa tenaga pembantu untuk menjaga kedua anak-anaknya. Hanya saja ketika anak-anak mulai beranjak besar, mereka mengeluh karena jarang bertemu orang tua. Karenanya setelah berdiskusi, akhirnya Enok memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

“Kami sedih mendengar anak pertama kami mengeluh. Katanya teman-teman lain selalu dimandiin dan disuapi ibunya. Tapi dia tidak pernah sama sekali. Makanya saya bilang ingin berhenti bekerja dan fokus urus anak. Mas Sukra bilang oke, makanya saya berhenti kerja,” jelas Enok.

Usai berhenti bekerja, mulailah Enok berprofesi sebagai ibu rumah tangga tulen. Konsekuensinya adalah pemasukan rumah tangga berkurang, diterima oleh pasangan ini. Enok juga memutar otak guna mengurangi beban biaya yang harus ditanggung suaminya. Salah satunya tidak lagi menyewa pembantu di rumah. “Pembantu saya pecat, agar pengeluaran per bulan bisa berkurang. Karenanya cucian baju, kebersihan rumah, sampai masakan saya yang urus semua,” terang Enok.

Di tahun pertama, Sukra masih bisa seadil-adilnya memenuhi segala kebutuhan yang diminta Enok. Namun di tahun kedua, Sukra mulai memperlihatkan perubahan sifat. Dia tidak lagi memberikan kebebasan kepada Enok untuk mengelola keuangan keluarga. Ia pun mengambil kembali Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang sebelumnya dipercayakan kepada Enok.

Sepertinya pengeluaran yang terlampau banyak membuat Sukra keberatan jika penghasilannya dipercayakan kepada Enok. Ia pun kerap mengeluh melihat rekeningnya selalu kosong di setiap akhir bulan. Bersambung…