CILEGON – Lulusan SMK di Kota Cilegon masih menjadi salah satu penyumbang jumlah pengangguran terbuka baik di Cilegon maupun Provinsi Banten.

Kepala SMKN 1 Cilegon Widodo menjelaskan, menyikapi hal itu perlu adanya penyelarasan atau sinkronisasi antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri.

Kata Widodo, problem yang dihadapi oleh SMK di Kota Cilegon saat ini adalah infrastruktur penunjang, dengan adanya penyelerasan kurikulum, kerja sama sekolah dengan industri pun bisa berkembang ke persoalan sarana praktik dan pengajar.

“Sekarangkan perkembangan industri semakin maju, industri otomotif misalnya, teknologi sudah semakin berkembang, di pasaran, mobil sudah menggunakan sistem canggih, kalau kita masih pakai cara konvensional skill anak sulit tercapai targetnya,” ujar Widodo usai menerima kunjungan dari Pemkot Cilegon, Senin (15/4).

Melalui cara itu, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Kota Cilegon itu meyakini kegiatan belajar mengajar di SMK bisa terarah, kemudian, skill lulusan SMK pun akan sesuai dengan kebutuhan masing-masing industri, sehingga bisa langsung terserap.

Kepala Bagian dan Sumber Daya Alam pada Biro Kesra Pemkot Cilegon Bayu Panatagama menjelaskan, 14,6 persen pengangguran di Banten merupakan lulusan SMK, di Kota Cilegon sendiri jumlah pengangguran hingga 9 persen dari jumlah penduduk.

Kerja sama di bidang kurikulum antara sekolah dan industri sangat mungkin terjadi, dan itu dinilai menjadi solusi yang sangat baik untuk menyikapi persoalan pengangguran di Kota Cilegon.

“Usai kunjungan ini, kita akan undang industri, kita ingin tahu dahulu bagaimana kondisi sekolahnya, sehingga saat bertemu dengan industri tahu apa yang harus dilakukan,” paparnya. (Bayu Mulyana)