Ati Diminta Isolasi Mandiri

Bakal Calon Walikota Cilegon Ratu Ati Marliati usai jalani tes kesehatan di RSUD Cilegon, Rabu (9/9).

IDI: Hasil Tes Positif Jadi Langkah Pencegahan

CILEGON – Bakal calon Walikota Cilegon Ratu Ati Marliati diminta melakukan isolasi secara mandiri selama 14 hari atas hasil positif Covid-19 berdasarkan tes swab yang dilakukan di RSUD Cilegon, Senin (7/9).

Ketua KPU Kota Cilegon, Irfan Alfi menjelaskan, pihaknya bersikap dalam tataran normatif. Untuk itu, langkah KPU tetap berpegangan pada hasil swab yang disampaikan oleh jajaran tim pemeriksaan kesehatan.

Irfan menegaskan, jika status positif Covid-19 tidak menggugurkan pencalonan Ratu Ati Marliati. Namun, sesuai ketetapan peraturan KPU maupun aturan protokol kesehatan, Ati diharapkan untuk menjalani isolasi mandiri.

“Calon diberikan kesempatan melakukan isolasi mandiri, istirahat, kemudian melakukan swab ulang sesuai yang sudah ditentukan. Jika hasilnya negatif bisa dilakukan pemeriksaan kesehatan,” ujar Irfan.

Kata Irfan, jika sampai jadwal penetapan calon Walikota dan Wakil Walikota Cilegon Ati masih dinyatakan masih positif Covid-19, sesuai rekomendasi tim pemeriksaan kesehatan tahapan penetapan itu akan diundur.

JALANI TES KESEHATAN

Sementara itu, lantaran merasa baik-baik saja dan hasil swab dua rumah sakit berbeda negative, kemarin Ratu Ati Marliati mendatangi RSUD Kota Cilegon untuk menjalani rangkaian tes kesehatan.

Ati menjelaskan, hasil tes swab yang dikeluarkan oleh RSKM dan RS Siloam sudah menjadi bukti kuat jika dirinya bersih dari virus yang berbahaya itu.

Untuk itu, sebagai bagian dari kandidat di Pilkada Kota Cilegon, ia mengikuti aturan yang telah ditetapkan, yaitu dengan menjalani rangkaian tes kesehatan di RSUD Kota Cilegon.

“Saya ucapkan terima kasih kepada dokter yang paham ke ibu, yang sudah melakukan tes kesehatan. Sudah bekerja secara profesional,” ujar Ati usai pemeriksaan.

Disinggung soal isolasi mandiri, kata Ati, jika KPU Kota Cilegon tetap menggunakan hasil tes yang dikeluarkan oleh tim pemeriksaan kesehatan maka isolasi mandiri pun harus dilakukan oleh tujuh kandidat lain, karena setelah pengambilan sampel swab, semua kandidat sempat berdekatan.

“Enggak apa-apa kalau mau diisolasi, isolasi lah semua, karena aturannya, siapa yang berdekatan dengan yang positif harus diisolasi,” ujar Ati.

Ati meyakinkan kepada masyarakat jika ia dalam kondisi baik-baik saja. Untuk itu, ia berharap masyarakat tidak takut dan bingung atas informasi yang beredar.

Terpisah, Ketua Tim Pemenangan Pasangan Ati-Sokhidin (PAS) Isro Miraj menjelaskan, menyikap kisruh hasil swab tersebut, pihaknya melakukan upaya permohonan kepada KPU Kota Cilegon agar Ati bisa mengikuti rangkaian proses pilkada sama seperti kandidat lain. “Kami harapkan ada pertimbangan sisi keadilan terhadap proses,” ujar Isro.

Menurutnya, hasil tes yang dikeluarkan oleh RSKM serta RS Siloam sudah bisa menjadi bukti konkret jika Ati bersih dari Covid-19.

Lanjut Isro juga, bukti itu yang digunakan tim pemenangan untuk meyakinkan masyarakat jika Ati negatif. “Ada bukti yang realistis, yaitu hasil tes swab dari RSKM dan Siloam itu,” kata Isro.

Penjelasan Dokter

Perbedaan hasil tes swab untuk Ratu Ati ditanggapi oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten Budi Suhendar. Menurutnya, dua hasil swab bisa berbeda kendati jarak tes dilakukan dalam waktu yang dekat.

“Itu bisa terjadi. Semua punya makna, jadi kita bisa lakukan analisis kedokteran. Dimaknai bahwa individu yang mendapat hasil seperti itu, terpapar Covid-19, tapi belum dalam jumlah besar. Sehingga tampilan luarnya belum mengalami gejala Covid-19, bukan berarti dia tidak memiliki virus Covid-19,” papar Budi.

Kendati pada dua tes menyatakan positif dan negatif, namun dari sisi medis, hasil tes positif yang perlu diambil sebagai langkah pencegahan.

Hal senada pun diungkapkan oleh anggota tim pemeriksaan kesehatan, Rizki. Menurutnya, hasil positif yang perlu diterapkan dibandingkan hasil negatif sesuai dengan  pedoman penanganan Covid-19 yang telah diperbaharui oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Hasil positif  karena lebih banyak manfaatnya untuk pencegahan, penularan, dan treatment terhadap si pasien dibandingkan kita mengambil yang negatifnya,” ujarnya.

PENETAPAN TERANCAM MOLOR

Pada bagian lain, Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Banten Nuryati Solapari mengungkapkan, bapaslon yang terpapar Covid-19 tidak akan didiskualifikasi dari pencalonannya. Hanya saja tahapan pilkada 2020 akan terkena dampaknya.

“Misalnya di Kota Cilegon, tahapan penetapan calon terancam molor dari jadwal yang sudah ditentukan pada 23 September 2020,” ujar Nuryati kepada Radar Banten, kemarin.

Terkait konsekuensi pencalonan, lanjut Nuryati, berdasarkan PKPU 10/2020 Pasal 50C ayat (1) disebutkan bahwa KPU menunda tahapan pemeriksan kesehatan jasmani, rohani dan narkoba bagi bapaslon yang terpapar Covid-19.

“Bapaslon yang positif Covid-19 diwajibakan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Jadi jika bapaslon sembuh maka diperiksa, diverifikasi administrasi (vermin) kelengkapan dan absah syarat pencalonannya. Sekaligus pemeriksaan kesehatan jasmani, rohani dan narkoba. Diberi waktu selama 20 hari untuk verifikasi administrasinya,” tuturnya.

Terkait salah satu bakal calon Walikota Cilegon yang diumumkan KPU Cilegon terpapar Covid-19, pihaknya belum menerima laporan resmi dari Bawaslu Kota Cilegon. Itu lantaran Bawaslu belum menerima salinan hasil Swab yang dilakukan oleh pihak rumah sakit melalui KPU Kota Cilegon. “Hingga hari ini (kemarin) Bawaslu belum menerima secara resmi kebenaran informasi tersebut. KPU Kota Cilegon belum memberikan salinan dokumen hasil swab ke Bawaslu Kota Cilegon,” tegasnya.

Sementara itu, Komisioner KPU Banten, Masudi membenarkan bila tahapan pilkada terancam molor, lantaran bapaslon atau salah satu bakal pasangan calon yang dinyatakan positif Covid-19 belum bisa mengikuti tahap pemeriksaan kesehatan dan narkoba.

“Pemeriksaan kesehatannya ditunda sampai bapaslon dinyatakan sembuh atau negatif Covid-19. Tentu akan berdampak pada penetapan calon dan pengundian nomor urut peserta pilkada,” katanya.

Disinggung Pilkada Kota Cilegon, Masudi mengaku pihaknya masih menunggu laporan terakhir dari KPU Kota Cilegon.

“Informasi detilnya ada di teman-teman KPU Cilegon, terkait hasil swab salah satu bapaslon yang dinyatakan positif Covid-19,” ungkapnya.

Ia berharap, Pilkada Serentak 2020 di empat daerah se-Banten tidak menjadi cluster baru penyebaran covid-19. “Makanya besok (hari ini) bertempat di kantor KPU Banten, digelar kampanye penerapan protokol kesehatan yang digagas Polda Banten dan akan dihadiri Gubernur, Danrem, KPU dan Bawaslu Banten,” pungkasnya.

Terpisah, Komisioner KPU RI, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi mengatakan, KPU tidak akan mendiskualifikasi bapaslon yang terpapar Covid-19.

“Semua bakal calon yang hasil swab-nya positif covid, tetap bisa mengikuti tahapan pilkada setelah melakukan isolasi mandiri dan sembuh dari covid,” katanya.

Ia melanjutkan, untuk bakal calon yang terpapar Covid-19, nantinya akan menjalani tahapan-tahapan pilkada dengan jadwal yang berbeda.

“Setelah tahapan pendaftaran, selanjutnya masuk tahap pemeriksaan kesehatan. Bagi bakal calon yang diketahui hasil tes swab-nya negatif maka diberikan surat pengantar untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Akan tetapi, bagi yang hasil tes swab-nya positif Covid-19, maka yang bersangkutan belum bisa diberikan surat pengantar untuk menjalani tes kesehatan,” ujarnya.

Bakal calon yang positif Covid-19 itu, lanjut I Dewa, harus menjalani isolasi mandiri hingga dinyatakan negatif Covid-19. Setelah itu bisa melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Jadi kondisi seperti ini mungkin juga berdampak kepada penetapan calon, pengundian nomor urut dan seterusnya,” tegasnya. (den/bam/air)