Awas, Bumbu Dapur dan Sayuran Beracun Beredar

0
1.333 views
DIUJI: Petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten saat uji kandungan beberapa bahan pangan dari pedagang Pasar Petir, Kamis (15/6). FOTO: ROZAK/RADAR BANTEN

PETIR – Beberapa jenis bumbu dapur dan sayuran yang dijual pedagang di Pasar Petir terindikasi mengandung zat berbahaya dan beracun. Hal itu diketahui petugas Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten yang menguji kandungannya, kemarin (15/6).

Inspeksi mendadak di Pasar Petir dilakukan oleh petugas gabungan dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Banten, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang. Mereka tiba di Pasar Petir sekira pukul 09.00 WIB dan langsung mengambil sampel beberapa jenis bahan makanan dan sayuran dari pedagang untuk diuji kandungannya. Petugas BPOM memeriksa pangan hasil olahan, sedangkan petugas Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten dan DKPP Kabupaten Serang memeriksa bahan pangan segar asal tumbuhan.

Staf pemeriksaan BPOM Banten Fitri Sofia mengatakan, ada 26 sampel bahan makanan dan sayuran yang diuji. “Di antaranya, bakso, saus, kwetiau, kerupuk, tahu, ikan asin, garam, dan terasi,” katanya kepada wartawan.

Pengujian cepat dilakukan menggunakan rapid test kit. Hasilnya, ada tiga jenis bahan pangan dan bumbu dapur terindikasi mengandung zat berbahaya. “Pada produk garam kuning bermerek Ayam Mas, diduga mengandung boraks. Sementara, dua terasi bermerek Cap Dua Burung dan Cap Bangau Terbang diduga mengandung Rhodamin B. Kalau dikonsumsi, akan berbahaya untuk kesehatan. Bisa menyebabkan penyakit ginjal,” ungkap Fitri.

Bahan pangan dan bumbu dapur yang terindikasi mengandung zat berbahaya itu akan diteliti lagi di laboratorium untuk mengetahui kadar zat berbahaya. “Nanti, di kantor akan dilakukan uji konfirmasi,” terangnya.

Produsen garam dan terasi yang terindikasi mengandung zat berbahaya itu, jelas Fitri, pernah terlibat kasus serupa. Karena itu, BPOM akan menyelidikinya. “Kita akan evaluasi di kantor untuk melakukan tindakan selanjutnya,” tegas Fitri.

Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada DKPP Kabupaten Serang Endang Kurnia menambahkan bahwa dari hasil pengujian 12 sampel pangan tumbuhan, ada tiga jenis sayuran yang terindikasi mengandung zat berbahaya. “Cabai merah dan bawang merah mengandung zat pestisida, sedangkan buah anggur mengandung formalin,” tandasnya.

Kadar pestisida dan formalin dalam cabai merah, bawang merah, dan anggur itu belum bisa diketahui. Kadar pestisida dalam bahan pangan tumbuhan, menurut Endang, masih diperbolehkan jika tidak melebihi baku mutu yang ditentukan. “Kalau melebihi baku mutu itu tidak boleh. Kalau formalin, jelas tidak dibolehkan sama sekali,” tukasnya.

Endang menduga, cabai merah dan bawang merah itu hasil pertanian lokal. Sementara, anggur yang mengandung formalin itu diindikasikan hasil impor. “Biasanya, buah pakai formalin itu impor dari luar negeri, agar awet dalam proses pengirimannya,” jelasnya.

Endang mengaku tidak bisa memberikan sanksi kepada pedagang yang menjual bahan pangan dengan kandungan zat berbahaya. Untuk mencegah peredaran bahan pangan berbahaya, DKPP akan melakukan pembinaan kepada pedagang. “Kalau sudah tahu ada kandungan zat berbahaya, kita larang untuk diterima lagi. Kita akan coba telusuri produsen yang dari lokal. Pertama, akan kita beri teguran dulu,” pungkasnya.

Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten Muhammad Ansori menerangkan bahwa pengujian kandungan bahan pangan menggunakan rapid test kit bukan hasil akhir. “Baru diduga. Hasil akhirnya nanti, setelah dilakukan uji laboratorium,” ujarnya. (Rozak/RBG)