Awas! Kecanduan Bermain Game Termasuk Ganguan Kejiwaan

Ilustrasi (pixabay.com)

Apakah Anda memperhatikan bahwa di zaman yang serba canggih ini banyak orang menghabiskan waktu luangnya dengan gawai? Berselancar di internet untuk sekadar membaca berita atau menonton video yang menghibur. Namun, tak sedikit pula orang-orang yang memilih menghabiskan waktu luangnya menggunakan gawai untuk bermain game. Berbagai games menarik mulai diluncurkan perusahaan teknologi untuk berebut pelanggan aktif agar memainkan games buatan perusahaannya.

Sayangnya, Anda harus mengetahui bahwa baru-baru ini Badan Kesehatan Dunia atau yang lebih dikenal dengan WHO memasukkan dan mengolongkan kecanduan bermain game sebagai gangguan kesehatan mental pada buku panduannya, yaitu International Classification of Diseases (ICD-11). ICD ini merupakan daftar klasifikasi medis yang dikeluarkan WHO dan berisi daftar penyakit berikut tanda, gejala, dan penyebabnya.

ICD menjadi standar internasional yang digunakan oleh seluruh praktisi kesehatan dunia untuk melaporan penyakit dan kondisi kesehatan. Dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan game merupakan atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Berdasarkan definisi yang dikutip dari web resmi WHO, kecanduan bermain game merupakan pola perilaku bermain baik secara online maupun offline (game digital atau video game) dengan beberapa tanda sebagai berikut:

1. Tidak dapat mengendalikan keinginan bermain game.

2. Lebih memprioritaskan bermain game dibandingkan minat terhadap kegiatan atau aktivitas lainnya.

3. Seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.

Dikatakan pula dalam web bahwa kecanduan game terjadi bila pola perilaku tersebut sangat kuat dan berdampak padaa pribadi, menyebabkan gangguan atau konflik hubungan sosial dengan keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, maupun area penting lainnya, dan terlihat jelas selama setidaknya 12 bulan.

Jadi, apa sebenarnya yang menyebabkan kita kecanduan bermain game?

Setiap benda atau hal-hal yang membuat kita merasa senang akan merangsang otak menghasilkan dopamin, hormone yang membuat kita merasa bahagia. Dalam keadaan normal, hal ini tidak akan menyebabkan kecanduan. Hanya menimbulkan rasa bahagia dan puas pada umumnya. Akan tetapi, saat kita mengalami kecanduan, objek tersebut akan merangsang otak menghasilkan dopamin yang berlebihan. Jumlah dopamin yang kelewat batas akan mengacaukan kerja bagian otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan suasana hati, sehingga membuat Kita merasa sangat bahagia tidak wajar, bersemangat, dan percaya diri berlebihan, hingga merasa ‘teler’.

Efek membahagiakan ini akan membuat tubuh kita secara otomatis ketagihan, mengidam untuk merasakannya lagi, dan pada akhirnya akan membuat Anda terus menggunakan candu tersebut secara berulang dalam frekuensi dan durasi yang lebih tinggi, guna memuaskan kebutuhan kebahagiaan ekstrem tersebut. Jika hal ini terus terjadi berkepanjangan, lama-lama akan merusak sistem dan sirkuit reseptor motivasi dan penghargaan otak sehingga menyebabkan kecanduan.

Apakah semua pemain games berisiko membuat kita kecanduan?

Dalam batas wajar, bermain game tentu tidak dilarang. Bermain game dapat menjadi aktivitas pengusir stres yang baik dan juga bermanfaat bagi kesehatan otak. Ada sejumlah bukti medis yang mengatakan bahwa bermain game dapat dijadikan terapi alternatif mengobati gangguan mental seperti Alzheimer dan ADHD. Hal ini dikarenakan, selama bermain game, otak kita dituntut untuk bekerja keras mengatur fungsi kognitif (misalnya perencanaan strategi) yang dibarengi dengan kerja fungsi motorik yang kompleks (misalnya, sambil melihat layar kita juga harus menggerakkan tangan untuk memainkan joystick atau menekan tombol).

Penulis: dr. Silbro Milsi Sa’dani, anggota IDI Serang