Azab Memakan Harta Saudara

Love Story

0
18218
Love Story
Love Story

Tidak semua orang percaya dengan istilah azab, sampai orang itu mengalaminya sendiri. Setidaknya itu yang dirasakan Sentot (45), nama samaran, anak pertama lima bersaudara. Sebab semasa muda, ia menghabiskan seluruh harta warisan orangtua. Bukan hanya harta miliknya, namun termasuk harta yang seharusnya menjadi hak keempat saudaranya.

Kisruh ini terkuak ketika keponakan-keponakan Sentot menuntut hak orangtua mereka. Anak dari adik-adik Sentot mendaftarkan gugatan hak waris melawan Sentot di Pengadilan Agama.

Menyikapi hal ini, Sentot tentu tertunduk malu dan sangat menyesal. Sebab, perbuatan rakusnya ini membuat Sentot hidup sendiri. Bukan hanya ditinggal keluarga besar, namun ia pun ditinggal lima istrinya. Bukan ditinggal pergi atau cerai, tapi ditinggal meninggal. “Setiap saya menikah, istri selalu meninggal karena penyakit. Ini azab atas perbuatan saya di masa lalu. Saya sangat menyesal,” kata Sentot.

Waw, kenapa azabnya malah menimpa para istri ya? Tapi begitulah nasib yang menimpa Sentot, ia terpaksa menjalani masa tua dengan sepi. “Sekarang saya tinggal sendirian. Rumah saya sampai reot enggak pernah dibetulin. Uang dari mana? Yang ada kan cukup untuk makan saja,” jelasnya.

Sentot juga tidak sempat memiliki anak, beberapa kali istri mengandung selalu keguguran. Sudah begitu sang istri meninggal dunia karena sejumlah penyakit. “Dokter bilang kanker, tapi gejalanya komplikasi,” tuturnya.

Berdasarkan pengakuan Sentot, ia menghabiskan harta para adik karena tidak kuat akan godaan. Ia tidak puas hanya memiliki harta pemberian orangtua, ia pun ingin menguasai harta adik-adiknya. “Saya memang tergoda. Ayah kan mempercayakan saya untuk membagi-bagikan harta sesuai surat wasiat. Karena itu sertifikat diberikan semua kepada saya. Karena ingin uang cepat, satu per satu saya jual,” akunya.

Sebagai pemborong, ayah Sentot memang kaya raya. Ia memiliki tanah dan sawah di mana-mana. Karena itu, seharusnya empat adik Sentot bergelimang tanah di beberapa lokasi. Namun tidak satu pun yang menjadi hak mereka hingga akhir hayat.

Menurut Sentot, ini semua karena ketidakmampuannya menerima perubahan pola hidup ketika menjelang remaja. Ini ketika ayah Sentot meninggal dunia, ekonomi keluarga merosot drastis. “Waktu ayah meninggal, uang jajan saya jadi kepangkas habis. Biasanya saya traktir orang, ini untuk makan sendiri saja susah,” tuturnya.

Sentot juga terbiasa diagung-agungkan para gadis di sekitarnya. Karena itulah, ia sulit untuk kehilangan sensasi dipuja para gadis. “Saya malu, jadinya tidak terima kalau saat itu keluarga kami jatuh miskin,” tuturnya.

Tentang bagaimana ia menjual hak waris para adik, itu ia pelajari dari ibunya. Ketika itu sang ibu beberapa kali menjual sejumlah tanah untuk kepentingan pendidikan Sentot dan keempat adik. “Saya dan empat adik berhasil sekolah sampai SMA. Sejak SMP, modal sekolah itu dari menjual tanah-tanah warisan. Dari situ saya belajar bagaimana menjual tanah warisan,” tuturnya.

Pengalaman pertama Sentot menjual harta waris, ketika sang ibu telah meninggal dunia ketika ia duduk di bangku SMA. Ia mulai menjual satu per satu harta warisan untuk kepentingan sekolah Sentot dan adik-adik.

Hal ini jadi keterusan, Sentot menjual tanah untuk menyogok oknum pejabat agar dirinya diterima jadi PNS. Sentot pun menjual harta bukan miliknya ketika hendak menikah dengan istri pertama.

Namun seperti yang diceritakan di awal, Sentot ditinggal meninggal istri pertama. Begitu pula istri kedua hingga keempat. “Waktu mereka sakit, saya jual lagi tanah-tanah milik mereka untuk biaya pengobatan,” tuturnya.

Selain karena biaya obat, para istri yang dinikahi Sentot relatif banyak menuntut ini dan itu, alias materialistis. Gara-gara hal tersebut, Sentot juga banyak menjual tanah yang seharusnya menjadi hak keempat adiknya.

Sekarang, kata Sentot, tanah-tanah warisan orangtua tinggal beberapa petak sawah. Rencananya tanah-tanah itu akan ia serahkan kepada para keponakan yang saat ini tengah memperkarakannya. “Sudah saatnya saya memberikan hak adik-adik saya. Walau pun terlambat, setidaknya bisa mengurangi dosa saya,” katanya.

Menurut Sentot, ia telah kenyang dengan azab karena menjual harta milik saudara kandungnya. Kini ia tengah berusaha bertobat dan mendalami agama. “Sekarang saya sering ikut pengajian di masjid. Apa pun yang nanti terjadi ke depan, biar Allah yang menentukannya,” kata Sentot pasrah. (Sigit/Radar Banten)