Azmi Abubakar, Ketua PSI Banten yang juga Pelanggan Setia Radar Banten

0
2208

Baca Koran Sembari Ngeteh, Kemewahan yang Tak Tergantikan

Kebiasaan membaca koran masih menjadi budaya di Indonesia. Meski saat ini, penggunaan internet sedang booming-boomingnya. Terutama, portal berita online dan media sosial. Itu dialami Azmi Abubakar, salah seorang pembaca setia koran Radar Banten. Pria yang juga Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Banten ini mengibaratkan, belum baca berita kalau belum baca koran. Persis seperti kebanyakan orang Indonesia, belum makan jika belum “ketemu” nasi.

Agung S Pambudi – Pamulang

FOTO tiga koran sekaligus diunggah akun resmi instagram (IG) Azmi Abubakar. Satu koran nasional. Dua koran lokal. Salah satunya Radar Banten. Di bawah unggahan foto itu, Azmi menulis komen begini; “Masih mencoba bertahan sebagai pelanggan. Kemewahan sembari ngeteh yang tak tergantikan”. Hingga sekarang, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di kawasan BSD ini masih mempertahankan ‘budaya’ membaca koran. Terutama saat pagi hari. Ditemani secangkir teh atau kopi.

“Membaca koran bagi Saya, menjadi kebutuhan mendapat informasi yang benar. Karena sehari sebelumnya, saya dibanjiri informasi dari banyak portal berita online. Nah, biasanya pagi hari saya cari rujukan berita yang benar itu, ya di koran. Terus terang Saya merasa nyaman mengawali hari dengan membaca koran di pagi hari. Dan benar itu, bagi saya itu menjadi kemewahan tersendiri,” tutur ayah empat anak ini dalam obrolan santai di Bandoel Kedai Kopi, Kawasan Pamulang, Kota Tangsel, Senin (7/6) malam.

Membaca koran, bagi pria kelahiran Gayo, Aceh ini bermanfaat untuk memahami secara jernih sebuah isu yang terjadi di masyarakat. Kenapa bisa begitu? Alasan mantan bakal calon (Balon) wakil walikota Tangsel ini simpel saja. Sebelum berita terbit di koran, menjalani proses berlapis. Intinya, melalui beberapa tahapan editing. Tentunya, sesuai dengan kode etik jurnalistik. Pengelola koran pastinya telah mempertimbangkan kemungkinan munculnya resiko hukum di balik penyajian berita.

“Saya rasa ini yang membedakan koran dengan berita online. Kalau di koran, ketika terjadi komplain pemberitaan, jelas barang buktinya. Makanya saya yakin, pengelola koran tidak pernah asal-asalan menerbitkan sebuah berita. Karena resikonya kan besar,” ujar laki-laki kelahiran 3 Maret 1972 ini.

Budaya ini berbeda dengan platform media digital. Lima menit setelah kejadian, bisa langsung tayang. Proses seleksi berita, kecenderungannya menjadi terlupakan. Langsung tulis dan uplod demi mengejar ‘klik’. Dan, gampang sekali minta maaf jika terjadi kesalahan, meralat bahkan mentake down berita. Dan, ini menjadi sesuatu yang lazim di platform media online. Bahkan, kebiasaan itu juga dilakukan media online besar.

Azmi mengaku terbiasa membaca koran sejak masih kecil. Saat itu, ayahnya berlangganan beberapa koran. Tak heran, jika saat ini kebiasaan membaca koran sulit dihilangkan. Bisa dibilang, seperti ada yang hilang jika tidak baca koran. Bahkan meski sehari saja. Kebiasaan membaca koran itu juga ditularkan kepada istrinya. Terbilang ekstrim. Di usia awal perkawinannya, Azmi ‘mengharamkan’ televisi ada di rumahnya. Soalnya, saat itu Azmi menilai tayangan televisi bisa berdampak negatif. Terutama, menyangkut pola hidup. Berpotensi besar menimbulkan budaya konsumtif.

“Cuma koran atau majalah yang boleh ada. Namun, akhirnya saya harus berkompromi juga. Setelah dipikir-pikir, kasihan banget istri saya. Ketika saya dinas luar kota, selain membaca, televisi juga bisa jadi hiburan untuk dia (istri-red),” ujar Bro Azmi, panggilan akrab Azmi Abubakar.

Hingga sekarang, upaya menularkan pentingnya membaca koran tidak pernah putus. Apalagi, saat ini dirinya menjabat sebagai politisi. Sebagai orang nomor satu di PSI Banten. Tentunya kudu “melek” dengan berbagai isu aktual di delapan kota/kabupaten di Banten. Dia juga tekankan semua rekan-rekannya di DPW PSI Banten untuk selalu membaca koran. Kenapa lagi-lagi koran? Soalnya, karena space koran terbatas, sehingga tidak semua berita diterbitkan. Jadi, berita-berita yang muncul di koran merupakan berita-berita pilihan.

“Untuk kader PSI yang terpilih sebagai wakil rakyat, korannya sudah kita sediakan. Dia hanya tinggal membaca saja. Saya ingin kader kami punya wawasan yang luas. Ngomong pun tidak asal ngomong. Harus ada acuan datanya. Dan, ketika bicara Banten, kita acuannya Radar Banten,” pungkas Azmi.

Kebiasaan membaca koran yang masih menjadi budaya memang bukan mengada-ada. Seperti dicuplik dari salah satu media cetak nasional, dalam riset yang dipublish Inside.ID tahun 2016 (lembaga riset kreatif Group Growinc Indonesia-red) didapat data, delapan dari 10 orang Indonesia gemar membaca berita setiap harinya. Sumber informasi didapat dari media-media online seperti internet, media sosial, dan koran atau majalah elektronik. Dan ternyata, pada tahun itu, sebanyak 45 persen responden masih terbiasa mendapatkan informasi berita dari koran. Padahal portal berita online sedang seperti tanaman jamur di musim penghujan. (*)