Warga Baduy Dalam berjalan kaki usai seba, beberapa waktu lalu.

Suku Baduy.merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi antimodernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya.

Perkembangan teknologi yang demikian pesatnya tidak lantas membuat masyarakat adat Suku Baduy kehilangan identitasnya. Mereka tetap memegang teguh warisan leluhurnya di kaki Gunung Kendeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Tidak berlebihan bila budayawan Banten, Uten Sutendy menilai Suku Baduy sebagai cengcelengan (tabungan) Tuhan yang masih tersisa di abad modern ini.

“Suku Baduy khususnya Baduy Dalam adalah cengcelengan tentang kesederhanaan hidup, tentang keseimbangan alam semesta, dan tentang menjaga ekosistem kehidupan. Kita semua yang merasa makhluk modern harus belajar banyak pada masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak,” kata Uten di hadapan mahasiswa Pendidikan Sosiologi, FKIP, Untirta saat bedah budaya tentang Suku Baduy di Laboratorium Ilmu Sosial, kampus C Untirta, Ciwaru, Kota Serang, Selasa (9/5).

Uten memaparkan, membahas Suku Baduy tidak pernah ada habisnya. Namun, tidak semua masyarakat Banten memahami pesan dari ritual kebudayaan yang selalu dilakukan masyarakat Baduy dari dulu hingga sekarang. Dalam benak masyarakat, Suku Baduy identik dengan ritual seba. Namun, banyak yang salah kaprah memahami Seba Baduy. Kesalahkaprahan itu jika dibiarkan dan tidak diluruskan, dapat mengikis substansi dari ritual seba yang penuh makna.

Pemerintah daerah, kata Uten, wajib menjaga esensi dari ritual Seba Baduy yang rutin digelar setahun sekali. Bagi Uten, Seba Baduy sarat makna. Salah besar jika seba dipahami sebagai ‘pemberian upeti’ kepada penguasa atau pemimpin pemerintahan. “Seba bagian simbol politik masyarakat Baduy, selain banyak simbol lainnya. Sikap politik masyarakat Baduy pada orang luar atau lingkungan sekitar. Sangat filosofis maknanya,” tegasnya.

Narasumber bedah budaya tentang Suku Baduy.

Makna filosofis dari ritual adat Seba Baduy di antaranya tentang konsep warga Baduy dalam menjaga keseimbangan alam. Selain menyampaikan ucapan terima kasih kepada penguasa karena telah mengatur masyarakat, warga Baduy melalui seba ingin menyampaikan pesan tentang pelestarian alam.

Mereka melakukan seba untuk mengajak masyarakat luar Baduy untuk menjaga keseimbangan alam dan melestarikan ekositem kehidupan. Dari sisi ketahanan pangan, warga Baduy pun berhasil membuktikan bahwa dengan menjaga keseimbangan alam, alam pun memberikan kehidupan. Hasil bumi yang melimpah serta ekosistem yang tetap lestari memberikan kedamaian dalam mengisi kehidupan.

Untuk itu, Uteng mengajak mahasiswa, akademisi, generasi muda Banten, serta pemerintah daerah untuk tidak melihat Suku Baduy seperti kebun binatang, di mana warga Baduy jadi objek hiburan. “Saat ritual seba dijadikan tontonan, saat berkunjung ke Baduy dijadikan tontonan, difoto dan didokumentasikan tanpa memahami pesan yang dipegang teguh orang Baduy. Kita semua harus belajar filosofis hidup masyarakat Baduy,” katanya.

“Kenapa warga Baduy hanya memakai baju hitam dan putih? Sebab bagi mereka, ketampanan dan kecantikan bukan dilihat dari baju, tapi dari hati,” sambung Uten.

Pesan lain yang harus dipetik dan dipelajari dari warga Baduy adalah terkait sikap mereka yang menolak pendidikan formal atau sekolah. Menurut Uten, warga Baduy meyakini bahwa sekolah ciptaan orang luar, yang tidak nyambung dengan permasalahan yang dihadapi mereka. Yang pintar karena sekolah malah korupsi dan merusak alam. Malas bertani dan tidak patuh terhadap tradisi karena merasa makhluk cerdas dan modern.

“Keyakinan warga Baduy tentang sekolah bukan tanpa dasar. Selama sekolah masih teralienasi dengan problem sosial kultural masyarakat maka lulusan sekolah hanya menjadi perusak. Itu pun nyata terbukti. Dulu hutan di Indonesia lestari, tapi kini gundul karena keserakahan manusia yang telah belajar di bangku sekolah,” tegasnya.

Seba Baduy di Rangkasbitung, Lebak tahun 2016.

Di akhir pemaparannya, Uteng menegaskan kembali tentang totalitas warga Baduy. Menurutnya, Suku Baduy Dalam sesungguhnya adalah para petapa. Mereka menyatu dengan alam. Tugasnya menjaga ekosistem. “Mereka tidak pernah meminta apa pun, mereka hanya minta pemda untuk menjaga lingkungan sekitar. Wilayah Baduy mereka sendiri yang menjaganya,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitek Banten Muqodas Syuhada menuturkan, hidup makmur dan alam yang lestari di kawasan Suku Baduy karena mereka memegang teguh warisan luhur para pendahulunya. Dengan menanam padi setahun sekali, hidup mereka tidak pernah kekurangan beras.

“Setelah diteliti, pola kawasan di Baduy ternyata mereka hidup sangat menjaga keseimbangan alam. Menerapkan 50, 30 dan 20, 50 persen disebut sebagai hutan tutupan yang boleh dimanfaatkan khusus nonkayu. Buah-buahan dan hasil tambang diperbolehkan. Ini fungsinya untuk menjaga mata air. Berikutnya, 30 persen hutan titipan, semua tidak boleh dimanfaatkan, baik kayu maupun nonkayu untuk menjaga keseimbangan alam. Dan terakhir yang 20 persen khusus untuk dimanfaatkan atau tanah olahan seperti sawah, tempat tinggal. Dengan pola kawasan seperti itu, alam tetap seimbang dan lestari,” katanya.

Bandingkan dengan pola kawasan di luar Baduy, di mana semua lahan nyaris dieksploitasi. Untuk itu, kata Muqodas, melalui ritual Seba Baduy, warga Baduy ingin mengajak masyarakat luar menjaga ekosistem. Orang Baduy meninggalkan tanahnya semacam memberi peringatan kepada penguasa bahwa alam itu mesti dijaga, jangan dieksploitasi. “Hasil bumi yang mereka bawa dan diserahkan sebagai buktinya. Alam harus dijaga agar memberikan kehidupan,” ungkapnya.

Narasumber lain, Rohendi, mewakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten mengatakan, kegiatan seba menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata kendati bidang kebudayaan kini menjadi kewenangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Rohendi, Pemprov berupaya keras agar ritual seba tidak hanya terkesan menjadi tontonan, tapi menjadi ritual adat yang sangat dalam maknanya. “Peran pemerintah memfasilitasi agar ritual seba berjalan semestinya. Namun karena harus jadi event pariwisata makanya dibuat kemasan dengan berbagai acara. Semua kegiatan dalam seba disesuaikan dengan keinginan warga Baduy,” katanya.

“Kami pun perlu masukan dari akademisi agar ritual seba tidak kehilangan maknanya sebagai event pariwisata di Banten,” tambah Rohendi.

Sosiolog Untirta Nurul Hayat dalam kesempatan tersebut meminta Pemprov Banten melalui instansi terkait tidak menjadikan Seba Baduy sebagai ajang komersialisasi dan eksploitasi atas nama pariwisata. Menurutnya, nilai-nilai ritual Seba Baduy mulai terkikis karena pemerintah gagal mengemas ajang seba sebagai kegiatan adat yang sakral.

”Yang harus dikedepankan substansinya, bila itu bisa dijaga. Kami yakin substansinya itu yang menjadi nilai tertinggi. Kalau seba tanpa substansi, ya kegiatan seba setiap tahun hanya seremonial belaka,” ungkapnya.

Hayat pun mengkritisi pelaksanaan Seba Baduy 2017 yang kurang manusiawi, di mana 1.658 warga Baduy yang melakukan Seba Gede ke Kota Serang, berjalan rombongan di jalan raya.

“Ini tidak sesuai dengan tradisi mereka, warga Baduy tidak pernah mengganggu jalan orang lain. Mari kita semua bergandengan tangan agar tradisi Baduy ditempatkan pada posisi yang luhur, jangan mengedepankan sisi komersial semata!” tegasnya. (Deni Saprowi/RBG)