Mumun (41), nama samaran, memang berasal dari kampung yang masih memegang erat budaya masyarakat tradisional. Meski begitu, ia tidak pernah memaksakan kehendak siapa pun dalam hal mengimbangi kemajuan teknologi. Tak terkecuali sang suami, sebut saja Parjo (48).

Namun apalah daya, yang namanya rumah tangga pasti tak pernah lepas dari masalah. Hingga suatu hari, peristiwa menegangkan itu terjadi, tepatnya saat Mumun usia 28 tahun dan Parjo berusia 35 tahun. Rumah tangga yang dibangun beberapa tahun lamanya kandas tak berdaya.

Seperti diungkapkan Mumun, meski memiliki kepribadian yang jauh berbeda, ia dan sang suami tetap bisa saling menghargai satu sama lain. Mumun yang memilih hidup sederhana dengan tetap tidak melupakan petuah orangtua, bersanding dengan Parjo yang memiliki keaktifan super dengan ponsel genggamnya. Ah, sekarang mah biasa sih Teh orang suka main ponsel mah.

“Ya, dulu kan beda sama sekarang. Wuh, dia mah Kang, bangun tidur saja langsung pegang HP, bahkan lagi makan pun dia mah pegang HP, pusing lihatnya,” curhat Mumun kepada Radar Banten.

Mumun bercerita, Parjo sebenarnya lelaki baik. Ia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya perempuan, ia laki-laki satu-satunya di keluarga. Menghayati betul apa yang dikatakan sang ayah sebelum pergi merantau, Parjo yang saat itu masih berusia muda, pergi dengan keteguhan hati. Bekerja keras dan menghindari ketergantungan pada orang lain, sempat bekerja di berbagai demi menopang hidupnya.

Mulai dari menjadi office boy, sampai menjadi karyawan di toko waralaba, semua dilakukan penuh kesungguhan. Jatuh bangun hidup di daerah orang, akhirnya, seiring banyaknya teman, ia memiliki jaringan dan bekerja menjadi buruh di salah satu perusahaan ternama di Kota Tangerang.

Hari demi hari dilalui, Parjo selalu menyisihkan uang untuk ditabung. Tapi di sisi lain, ia juga menikmati masa muda dengan membeli pakaian modis, ponsel merek terbaru, bahkan pergi kencan dengan pujaan hati. Parjo menjalani hari layaknya orang kota.

Sampai tiga tahun bekerja, posisinya perlahan naik, upah pun bertambah. Dengan keyakinan tingkat tinggi, Parjo memulai karirnya sebagai karyawan biasa, hingga menjadi karyawan tetap. Tiga tahun berlalu, ia membangun rumah sederhana.

Sampai suatu ketika, barulah ia berani mengundang keluarga ke rumah. Seperti diceritakan Mumun, saat itu Parjo kaget, lantaran sibuk bekerja, ia tak menyangka sang ayah menanyakan kapan menikah. Aih kan sudah punya pacar, kok kaget?

“Dia dulu sih bilang kalau pas ditanya itu, dia baru putus sama pacarnya,” ungkap Mumun.
Lantaran melihat sang anak yang gugup ketika ditanya soal pasangan, akhirnya, sang ayah meminta Parjo pulang ke kampung untuk menemui calon pilihan ayahnya. Di situlah awal ia bertemu dengan Mumun.

“Ya, waktu itu kedua orangtua kita di kampung sudah ada rencana untuk menjodohkan. Akhirnya Kang Parjo dateng ke rumah saya,” kata Mumun berseri.

Meski berasal dari kampung, Mumun bukanlah perempuan biasa. Memiliki paras cantik dengan lesung pipi dan gigi gingsul yang manis, membuat Mumun berbeda jika dijejerkan dengan teman-teman wanitanya. Ya, Mumun terlihat sempurna mewakili keasrian kampungnya, di salah satu wilayah di Kabupaten Serang.

Awalnya tampak tak bersemangat, namun setelah tahu Parjo sudah mapan, Mumun mulai membuka diri. Parjo sendiri jelas tak menolak tawaran ayahnya. Mendapat tanggapan positif, ia rutin berkunjung setiap ada waktu libur. Bagai pemuda yang tengah dimabuk cinta, Parjo dan Mumun menikmati asmara yang bergelora.

Singkat cerita, pernikahan mereka berlangsung meriah. Mengikat janji sehidup semati, Parjo dan Mumun resmi menjadi sepasang suami istri. Hingga berjalan setahun kemudian, mereka dikaruniai anak pertama.

Rumah tangga mereka berjalan sempurna, hidup nyaman dengan rumah dan kerjaan yang maju, membuat Mumun dan Parjo dihormati masyarakat sekitar. Tak ayal, ibarat ekosistem lingkungan, mereka memiliki teman dari beragai kalangan mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas yang hidup bergelimang harta.

Kebetulan waktu itu media sosial baru muncul dan sedang marak di masyarakat. Hal itu pun yang membuat Parjo menjadi lebih sibuk menatap ponsel ketimbang bercengkerama dengan anak istri. Ibarat langit dan bumi, Mumun berbeda dengan sang suami.

Mumun yang penurut tampaknya tak bisa memiliki Parjo sepenuhnya. Meski tinggal serumah, mereka jarang mengobrol berdua. Hingga suatu hari diam-diam Mumun penasaran dengan ponsel sang suami. Ia iseng-iseng membuka semua isi pesan dan menemukan hal mencurigakan. Aih apaan, Teh?

“Ya, walaupun selama ini saya enggak pernah memeriksa ponsel dia, bukan berarti saya enggak peduli. Setelah saya cek, ternyata benar kekhawatiran saya, dia punya selingkuhan dan janjian bakal ketemuan,” ungkap Mumun.

Keesokan harinya, diam-diam Mumun mengikuti sang suami ke tempat kerja. Rela seharian menunggu sampai sore, ia kembali bergegas saat melihat Parjo lewat tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Benar saja, sepulang kerja, Parjo tak langsung pulang ke rumah.

Mumun yang mengintai dari belakang dengan menyewa ojek, terus memantau gerak-gerik sang suami. Tepat di persimpangan jalan, Parjo masuk ke sebuah gang yang banyak berjejer kos-kosan wanita. Masuklah Parjo ke salah satu kosan yang berada di pojokan.
Tiga puluh menit kemudian Mumun tak sanggup menahan kesabaran. Dengan napas yang tak beraturan, mata yang mula berkaca-kaca, dibukalah pintu kosan dan mendapati suaminya tengah berduaan dengan wanita. Ia pun mengamuk bak keseurupan. Keributan tak dapat dihindari.

Apa mau dikata, siang itu juga Mumun mengemasi barang dan memilih pulang ke kampung halaman. Akhirnya rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.

Astaga, sabar ya Teh Mumun. Semoga segera mendapat lelaki yang jauh lebih baik lagi. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)