Bakamla Tempel Kapal Asal Tiongkok

0
1911
Kapal riset asal Tiongkok bernama Xiang Yang Hong 03 saat melintasi di perairan Selat Sunda, kemarin. Kapal itu dicurigai oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI karena sempat mematikan automatic identification system (AIS). Setelah dibayangi ketat oleh KN Pulau Nipah 321, akhirnya kapal asing itu dapat diperingati untuk meninggalkan perairan Cilegon dan melanjutkan perjalanan.

Matikan Sistem Tracking Hingga Tiga Kali

CILEGON-Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI membayangi kapal berbendera Tiongkok yang sedang berlayar di Selat Sunda.

Bakamla mencurigai kapal riset atau research vessel bernama Xiang Yang Hong 03 itu karena sempat mematikan sistem tracking atau automatic identification system (AIS).

Informasi yang dihimpun, kapal Tiongkok tersebut telah memasuki perairan Kota Cilegon hingga akhirnya diminta kembali ke negara asal oleh Bakamla RI.

Berdasarkan keterangan resmi dari Bakamla RI, kapal riset Xiang Yang Hong 03 memasuki perairan Selat Sunda pada Rabu  malam.

Kecurigaan Bakamla berawal dari informasi yang diberikan oleh Puskodal Bakamla, terdapat kapal asal Tiongkok sedang berlayar di perairan Selat Sunda dengan kecepatan 10,9 knots dan haluan ke barat daya.

Berdasarkan pantauan, kapal tersebut telah mematikan AIS sebanyak tiga kali selama melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia – I (ALKI-I).

Sebagaimana diketahui bahwa AIS adalah sistem tracking kapal otomatis yang memberikan informasi tentang keadaan kapal baik posisi, waktu, haluan dan kecepatannya untuk kepentingan keselamatan pelayaran.

Xiang Yang Hong 03 diketahui telah mematikan AIS saat berada di Laut Natuna Utara, Laut Natuna Selatan dan Selat Karimata.

“Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 7 Tahun 2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis bagi Kapal yang berlayar di Wilayah Perairan Indonesia tertanggal 20 Februari 2019, setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing yang berlayar di wilayah perairan Indonesia wajib memasang dan mengaktifkan AIS,” papar Kabag Humas dan Protokol Bakamla RI Kolonel Bakamla Wisnu Pramandita, Kamis (14/1).

Menerima informasi tersebut, Direktur Operasi Laut Bakamla Laksamana Pertama Bakamla Suwito  yang sedang memimpin tim SAR Bakamla di perairan Pulau Lancang, memerintahkan komandan KN.Pulau Nipah 321 Letkol Bakamla Anto Hartanto,  bertolak menuju Selat Sunda mendekati kapal tersebut.

Pada pukul 09.30 KN Pulau Nipah 321 bertolak menuju Selat Sunda. Tiba di Selat Sunda pukul 13.40, kapal survei Tiongkok terdeteksi berada pada jarak 40 Nm dengan kecepatan 9 knots dan arah haluan ke selatan.

“KN Pulau Nipah meningkatkan kecepatan hingga 20 Knots untuk mendekati kapal,” ujarnya.

Sekira pukul 20.00 Kapal Xiang Yang Hong 03 terdeteksi pada jarak 10 Nm dari kapal Bakamla. KN Pulau Nipah 321 membuka komunikasi melalui radio marine band di channel 16 dan mendapat respons dari kapal survei Tiongkok tersebut.

Berdasarkan hasil komunikasi dan identifikasi, dapat diketahui bahwa kapal ini memang bertolak dari Tiongkok menuju Samudera Hindia dan melewati perairan Indonesia menggunakan Hak Lintas Alur Kepulauan sesuai dengan United Nations Convention on The Law of the Sea (UNCLOS).

Dari keterangan yang diberikan, penyebab tidak terdeteksinya AIS dalam tiga periode waktu disebabkan kerusakan sistem.

Sesuai Permenhub, apabila AIS tidak berfungsi, maka nahkoda wajib menyampaikan informasi kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) atau Stasiun Vesstel Traffic Service (VTS) serta mencatat kejadian tersebut pada buku catatan harian (log book) kapal yang akan dilaporkan kepada Syahbandar.

“Dalam situasi ini, KN Pulau Nipah 321 tidak dapat melaksanakan dokumentasi dan pemeriksaan lebih lanjut dikarenakan cuaca buruk. KN Pulau NIpah 321 terus membayangi kapal survei Tiongkok hingga keluar dari ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia),” tuturnya.

Pukul 21.00 WIB setelah diamati kapal sasaran telah keluar dari ZEEI, KN Pulau Nipah 321 putar arah kembali ke daerah Operasi SAR. Kamis (14/1) pukul 08.00 KN Pulau Nipah 321 tiba di daerah SAR dan bergabung kembali dengan tim SAR Gabungan Pesawat Sriwijaya Air SJ182. (bam/alt)