Balita Gizi Buruk di Kasemen Meninggal

Net. ILUSTRASI
Net. ILUSTRASI

SERANG – Seorang balita bernama Robihat (3) yang diduga menderita gizi buruk meninggal dunia, Minggu (17/9) sore. Warga Kampung Babadan, Kelurahan Terumbu, Kecamatan Kasemen, itu sempat sakit dan dirawat di RSUD dr Drajat Prawiranegara, tapi tak tertolong.

Hal itu diungkapkan Ketua TP PKK Kota Serang Vera Nurlaela Jaman. “Makanya, kami terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanganannya,” ujar Vera, Selasa (19/9).

Kata dia, penderita gizi buruk harus diintervensi dengan pemberian makanan tambahan dan beberapa kebutuhan nutrisi lainnya agar kondisinya membaik. Berdasarkan informasi yang diterimanya, Robihat berasal dari keluarga yang fanatik dan tidak mau menerima asupan yang masuk ke tubuh anaknya karena dikhawatirkan haram. Selain kondisi tubuhnya yang kurus karena kekurangan gizi, Vera mengungkapkan, meninggalnya Robihat juga dikarenakan adanya penyakit penyerta.

Ia berharap, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang membantu melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pemberian vaksin-vaksin yang dianjurkan Kementerian Kesehatan RI. “Bisa disosialisasikan bahwa vaksin itu telah diuji terlebih dahulu dan dinyatakan halal. Ini sebagai upaya pencegahan sebelum terkena penyakit,” terangnya.

Camat Kasemen Subagyo mengungkapkan, selama ini bantuan susu yang diberikan untuk Robihat tidak pernah diminum. Sebelum meninggal, Robihat sakit dan hanya dirawat selama sepekan di rumah. “Kemudian baru dibawa ke rumah sakit dan dirawat empat hari, tapi sayang nyawanya tak tertolong,” lirihnya.

Kata dia, ayahnya yang seorang tukang las mempunyai tujuh anak. Sementara, yang terdaftar dalam kartu Indonesia sehat (KIS) hanya orangtua dan dua anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang Toyalis mengatakan, Robihat tidak masuk dalam database penderita gizi buruk. “Kemungkinan karena badannya kurus maka dikira gizi buruk,” ujarnya.

Kata dia, penyebab utama meninggalnya Robihat karena sakit. Sakitnya Robihat tidak langsung dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. Akibatnya, penanganan pun terlambat.

Ia mengaku selama ini banyak warga yang menolak memberikan imunisasi kepada anak-anaknya. Termasuk vaksin MR yang saat ini sedang digalakkan. Padahal, ada fatwa MUI terkait pemberian vaksin MR tersebut. “Minimal anaknya boleh ditimbang agar kami mengetahui kondisinya,” terang Toyalis.

Berdasarkan database Dinkes per Juli 2017, angka gizi buruk di Kota Serang sebanyak 71 anak. Pihaknya terus mengintervensi dengan pemberian makanan tambahan dan pemberian pengetahuan gizi kepada keluarga penderita. (Rostinah/RBG)