Benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti menyentuh tanah. Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, pasti tercium baunya. Bagaimana tidak, dengan jarak yang tak terlalu jauh dari rumah, Jikun (45), bukan nama sebenarnya, yang memiliki dua anak dan istri cantik jelita, sebut saja Lela (38), masih berani bermain gila.

    Parahnya, ia menjalin hubungan dengan janda yang memang terkenal suka menggoda, sebut saja namanya Mona (40). Di salah satu wilayah Kabupaten Tangerang, tepatnya Kampung Bojong Kenyot, sebut saja begitu nama daerahnya, orang-orang seolah tak lagi aneh kalau sang janda terkena masalah.

    Soalnya, berdasarkan cerita tetangga Lela, sejak dicerai suami belasan tahun lalu, Mona sang janda anak satu memang sering bikin resah ibu-ibu kampung. Sikapnya yang genit dan suka cari perhatian ke lelaki, membuat orang-orang risi. Apalagi, dengan penampilan modis bak wanita kota, ia sering diantar pulang cowok-cowok bermobil. Astaga, memang benar begitu, Teh?

    “Saya juga awalnya mah enggak terlalu percaya dan anggap biasa saja, tapi setelah kejadian itu menimpa suami saya sendiri, duh, sumpah kesalnya sampai bikin nangis darah,” curhat Lela kepada Radar Banten.

    Lela mengaku, ia tak menyangka sang suami bisa melakukan hal seperti itu. Soalnya, sikap Jikun yang pendiam dan hangat ketika bersama, membuat Lela tak begitu khawatir. Apalagi mereka sudah menjalani bahtera rumah tangga sepuluh tahun lebih. Tapi ternyata, lamanya usia pernikahan tak menjamin kesetiaan.

    Seperti diceritakan Lela, sewaktu muda Jikun termasuk lelaki baik-baik. Terlahir dari keluarga berada dengan ekonomi mumpuni, ia menjalani hari-hari penuh warna. Ayah pensiunan di salah satu perusahaan milik negara dan ibu pengusaha butik rumahan, membuat Jikun hidup bergelimang harta.

    Tapi meski hidupnya dilengkapi segala fasilitas mewah, tak membuat Jikun bahagia lantaran sikap  tegas sang ayah. Tidak memberi ruang bagi anak untuk bergaul dengan lingkungan sekitar, Jikun muda banyak menghabiskan waktu di rumah. Wah, kasihan banget ya Kang Jikun.

    “Iya, Kang. Dulu saja waktu sebelum menikah dia menceritakan ini sampai menangis di depan saya. Memang bapaknya tuh galak,” terang Lela.

    Cerita berlanjut ketika Jikun beranjak dewasa, setelah menyelesaikan kuliahnya, seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, berkat bantuan saudara, ia diterima bekerja di salah satu dinas pemerintahan. Tak lama bekerja, Jikun diangkat menjadi ASN.

    Merasa sudah bisa mencari penghasilan, Jikun pun meminta ingin berumah tangga pada kedua orangtua. Dicarikan istri oleh sang ayah tercinta. Tak lama kemudian, berawal dari curhat-curhatan orangtua kepada sesama rekan kerja, bertemulah sang ayah dengan orangtua Lela. Saling bercerita tentang anak-anak mereka, kesepakatan menuju perjodohan pun tercipta.

    Lela bukanlah wanita biasa. Dengan status sosial tinggi, ia banyak diincar lelaki. Maklumlah, selain cantik dan manis, Lela yang dianugerahi kulit putih merona, terlahir dari keluarga berada. Dengan rumah megah bak istana, sang ayah yang pernah diamanahi jabatan penting di kursi pemerintahan sangat memanjakan hidup Lela sedari muda.

    Singkat cerita, tiga bulan menjalani masa pendekatan, Lela dan Jikun disatukan dalam ikatan pernikahan. Menggelar pesta meriah sampai mengundang orang-orang penting di daerah sampai luar kota, mereka tampak bahagia. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

    Di awal pernikahan, rumah tangga mereka dimanjakan dengan fasilitas hidup dari orangtua. Rumah, kendaraan, perabotan, pokoknya, baik Lela maupun Jikun tak perlu pusing-pusing memikirkan urusan sandang dan pangan. Dengan penghasilan yang lumayan, apa yang diinginkan pasti bisa didapatkan.

    Sampai setahun usia pernikahan, lahirlah anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Bayi laki-laki tampan dan lucu membuat mereka semakin disayang keluarga. Pokoknya, rumah tangga Lela dan Jikun diselimuti kebahagiaan. Subhanallah, dulu mah harmonis banget ya, Teh?

    “Ya begitulah, Kang. Waktu itu keluarga kita memang lagi jaya-jayanya. Mau apa-apa juga enak, semua tinggal menikmati. Makanya kalau ingat awal-awal menikah mah saya juga suka senyum-senyum sendiri,” ungkap Lela.

    Seiring berjalannya hari, dengan sikap Jikun yang perhatian dan penuh kasih sayang, membuat Lela menikmati hari-hari sebagai ibu rumah tangga. Terlebih, dibanding teman-teman yang lain, Jikun termasuk tipe lelaki penurut. Tak pernah kelayaban sepulang bekerja, mereka saling percaya.

    Hingga kebahagiaan bertambah dengan hadirnya anak kedua, membuat suasana rumah semakin ceria penuh tawa. Namun apalah daya, mungkin sudah hakikat kehidupan, setiap ada yang datang pasti ada yang pergi. Tak lama setelah lahirnya anak kedua, kebahagiaan itu bercampur duka ketika sang ayah meninggal dunia. Jikun dan seluruh keluarga berduka.

    Selepas kepergian sang ayah, Jikun sempat bersikap aneh. Banyak diam dan cenderung menyendiri, Lela takut akan keadaan sang suami. Mencoba memahami dengan selalu memberi perhatian dan kasih sayang, akhirnya Jikun berhasil melewati masa-masa stres yang dialaminya.

    Sejak saat itu, di mata istri dan orang-orang terdekat, Jikun justru selalu memancarkan keceriaan. Seolah tak mau terlalu lama dirundung pilu, ia berperilaku layaknya anak remaja dimabuk cinta. Mendapati suami yang selalu terlihat bahagia, Lela tentu ikut senang.

    Tapi, di balik kebahagiaan Jikun yang menggembirakan, ternyata ada sesuatu yang menyakitkan. Ibarat udang di balik batu, suami pendiam mendadak ceria karena ulah janda anak satu. Tanpa sepengetahuan Lela, diam-diam Jikun bermain gila. Astaga, kok bisa begitu ya?

    Lela pun bercerita, seperti hari-hari biasanya, tak ada yang aneh dari sikap suami di rumah. Semua seolah tak ada masalah. Mencium kening ketika berangkat kerja, mengantar anak sekolah, semua dilakukan Jikun dengan penuh kasih sayang. Hingga matahari tepat berada di ubun-ubun, seorang warga datang mengetuk pintu. Tak menunggu lama, setelah memastikan suaminya tak ada di rumah, sang tetangga langsung berkata kalau ia sering melihat Jikun bolak-balik ke rumah Mona sang janda.

    Lela pun gelisah. Namun tak mau bersikap gegabah, ia tak langsung melabrak suaminya. Hingga suatu ketika, tanpa sepengetahuan suami, diam-diam Lela mengikuti Jikun yang datang ke rumah mona. Betapa kagetnya ia ketika suaminya membelikan motor baru untuk anak Mona.

    Menganggap sang suami sudah keterlaluan, Lela pun langsung melabrak Jikun tepat di depan rumah sang janda. Apalah daya, keributan pun terjadi sampai menarik perhatian warga. Tak terima dicaci maki Lela, Mona balas mengamuk membela diri. Pokoknya, hari itu suasa kampung geger akibat ulah Jikun dan Mona.

    Akibat dari perbuatannya itu, Jikun ditinggal sang istri. Lela memilih pulang ke rumah orangtua. Berkali-kali dijemput suami, Lela tak sudi bertemu. Bahkan terkadang Jikun sampai tak dibukakan pintu. Beruntung, sebulan kemudian, setelah terjadi musyawarah, Lela pun memaafkan Jikun. Mereka kembali bersama. Subhanallah.

    “Ya setelah dia cerita kalau dia bisa melakukan hal itu karena pelarian dari duka ditinggal bapaknya, terus juga mengaku khilaf, ya saya enggak tega. Yang penting dia harus janji enggak akan begitu lagi,” kata Lela.

    Semoga ini jadi pelajaran berharga buat Kang Jikun supaya tidak main gila. Sehat selalu dan bahagia ya Teh Lela. (daru-zetizen/zee/ira)