Bang Kalan, Balikin Anakku

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Sumenep (34), nama samaran, tengah khawatir dengan nasib tiga anaknya. Setelah bercerai dengan Bang Kalan (36), juga nama samaran, dia melihat, ketiga anaknya yang di asuh Bang Kalan tidak dididik dengan baik. Sumenep mendengar jika anak kedua dan ketiganya kerap mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tiri mereka. Jelas, hal itu membuat Sumenep menjadi gusar dan gundah.

Lantaran itulah, Sumenep melayangkan gugatan hak asuh ke pengadilan agama. Dia menginginkan ketiga anaknya kembali ke pangkuannya. “Saya tidak bisa hidup tenang selama anak-anak saya di asuh sama Bang Kalan. Saya berharap, pengadilan agama mau mengabulkan permohonan saya,” ujar Sumenep.

Sumenep paling khawatir dengan nasib anak pertamanya, sebut saja Jek (19). Sebab, setelah bercerai, Jek berperilaku buruk, bahkan sering terlibat perkelahian. “Anak pertama saya jadi urakan, liar, dan kasar. Dia, sekarang, sering mabuk-mabukan, perokok berat. Terakhir, dia ditahan polisi karena pukul orang sampai masuk rumah sakit,” tuturnya.

Perilaku Jek berubah 180 derajat. Sebelumnya, menurut Sumenep, Jek terbilang anak baik. Jek sering mengasuh adik-adiknya dan membantu ibu kandungnya berdagang. “Usaha saya kan banyak, Jek sering bantu saya. Ketika saya sedang sibuk, Jek yang urus adik-adiknya. Dia itu hatinya baik loh. Tapi sekarang, ya Allah, jadi kasar dan urakan. Sudah seperti preman,” tukas Sumenep.

Dia heran Bang Kalan yang seolah membiarkan perubahan perilaku Jek. Sebagai ayah kandung, Bang Kalan seharusnya mampu menggali potensi dan bakat Jek agar lebih kreatif dan pintar. “Dia tidak mendidik Jek seperti seharusnya. Buktinya, membiarkan Jek sering minum-minuman keras. Itu tidak benar. Saya ingin, anak-anak saya dikembalikan,” cetus Sumenep.

Bang Kalan, dituduh Sumenep, mendidik Jek dengan hal-hal yang tidak benar. Jek beberapa kali disuruh oleh Bang Kalan mencuri barang berharga milik Sumenep.

Salah satunya, ketika Jek disuruh Bang Kalan untuk menagih uang kepada orang, padahal itu piutang Sumenep. Uang itu kemudian tidak diberikan kepada Sumenep, tapi diambil oleh Bang Kalan dan dibagi dua dengan Jek.

“Saya ada laporan dari orang yang berhutang kepada saya, kalau uangnya di ambil Jek. Saya tanya ke Jek, katanya, uangnya sudah habis karena dibagi dua dengan ayahnya,” jelas Sumenep.

Jek juga pernah membuka paksa rumah Sumenep ketika akan mengambil sepeda motor yang terparkir di dalam rumah. Jek juga menjual satu unit kapal nelayan milik Sumenep tanpa sepengetahuannya. Jek dan anak buah Bang Kalan pun pernah membobol toko material milik Sumenep dan mengambil bahan bangunan senilai ratusan juta rupiah.

“Saya tidak mengerti, kok anak saya disuruh mencuri barang-barang dagangan dan usaha saya. Kok setega itu,” tukas Sumenep.

Hal-hal lain yang dikhawatirkan Sumenep adalah kalau anak kedua dan ketiganya jarang diberi uang oleh Bang Kalan. Sehingga, anak-anak Sumenep jarang jajan setiap kali sekolah.

“Anak saya pernah pulang ke rumah. Dia bilang, ingin tinggal dengan saya, karena ayahnya jarang memberi uang ketika sekolah. Saya makin sedih,” tuturnya.

Sejak awal, Sumenep memang sangat keberatan dengan pengambilan hak asuh ketiga anak mereka oleh Bang Kalan. Apalagi, ketiga anaknya diambil dengan cara tidak baik. Ketiga anaknya, aku Sumenep, diculik oleh Bang Kalan. Anak keduanya diambil ketika bermain di kali kecil, tidak jauh dari rumah, sedangkan anak ketiganya diambil oleh Bang Kalan ketika sedang mengaji di rumah seorang ustadz.

“Kalau anak pertama diintimidasi oleh Bang Kalan. Entah seperti apa omongannya, tapi Jek menuruti omongan Bang Kalan,” kata Sumenep.

Ketiga anak itu diambil Bang Kalan setelah Sumenep melayangkan gugatan hak asuh ke pengadilan agama. Dia meminta agar pengadilan agama memberikan hak asuh anak kepadanya. Tapi sayang, kepastian hukum hak asuh anak yang diinginkan Sumenep berjalan lamban. Penyebabnya, Bang Kalan berkali-kali tidak memenuhi panggilan pengadilan agama.

Beberapa bulan berlalu, Sumenep semakin mengkhawatirkan nasib anak-anaknya. Karena itu, dia melayangkan surat gugatan hak asuh anak untuk kedua kalinya.

“Tapi surat gugatan kedua saya ditolak. Pengadilan agama menilai, substansi gugatan kedua saya sama dengan gugatan pertama, sementara gugatan pertama saja belum terselesaikan. Makanya, saya berharap, pengadilan agama segera memberikan kepastian huku kepada saya,” ujar Sumenep. (Sigit/Radar Banten)