Bangun Literasi Lewat Gerakan Banten Membaca

Dinas Pendidikan Provinsi Banten

Dinas Pendidikan Provinsi Banten

Dalam rangka memberikan akses bacaan bagi masyarakat Banten, mulai tahun 2016 ini Pemprov Banten akan mengupayakan untuk mendirikan satu Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di satu desa. Hal ini dilakukan agar masyarakat yang sudah melek aksara tidak buta aksara kembali. Upaya ini sesuai dengan komitmen Gubernur Rano Karno saat Deklarasi Gerakan Banten Membaca dan Gerakan Indonesia Membaca yang dilaksanakan pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional Tingkat Provinsi Banten di Kabupaten Lebak pada 2015.

Tahun ini, Gerakan Banten Membaca ini akan terus digaungkan sebagai wujud implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang di dalamnya memuat kewajiban seluruh warga sekolah meluangkan waktu 15 menit membaca buku non-teks pelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

advdindik1jun16_1Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Banten E. Kosasih Samanhudi mengatakan, Gerakan Banten Membaca ini akan menyasar siswa sekolah untuk lebih meningkatkan minat baca atau literasi. “Sebagai komitmen untuk keberhasilan program ini, kita (Dindik Banten-red) akan membuat 10 buku cerita rakyat Banten. Buku cerita ini nantinya dibagikan untuk siswa, agar dibaca sebelum jam pelajaran dimulai,” ujarnya.

advdindik1jun16_2Dijelaskannya, Gerakan Banten Membaca ini perlu dukungan dari semua kepala daerah agar menjadi suatu gerakan bersama. “Memang harus ada semacam pergub agar kepala daerah mendukung,” ungkapnya.

Kata Engkos, diharapkan gerakan ini terus meluas dengan menularkan budaya literasi kepada seluruh masyarakat di perdesaan. Untuk itu upaya untuk membangun satu desa satu TBM akan terus dilakukan. “Melalui TBM ini nantinya anak-anak yang putus sekolah mampu terbangun budaya bacanya secara terus menerus. Saat ini jumlah TBM masih sekira 400,” jelasnya.

advdindik1jun16_3Gubernur Rano Karno menyatakan, Gerakan Banten Membaca ini tidak akan bisa optimal tanpa kehadiran pemangku kepentingan termasuk dukungan dari lembaga CSR. “Untuk itu kami berharap agar semua bisa bersinergi, sehingga kelak gerakan ini menjadi gerakan bersama,” ujarnya.

Diketahui, sebelumnya Gerakan Banten Membaca pernah dilakukan pada 2006 melalui gerakan yang melibatkan masyarakat, mahasiswa, akademisi, dan stakeholder lainnya. Dari Gerakan Banten Membaca ini berhasil mengumpulkan 1.000 buku dalam sehari dan memecahkan rekor MURI. (ADVERTORIAL/Dinas Pendidikan Provinsi Banten)

advdindik1jun16_5