Banjir Bandang di Lebak, Dua Bayi Dievakuasi dengan Flying Fox

Warga melintasi jembatan alternatif akibat terputusnya Jembatan Muhara, Desa Ciladaeun, Kecamatan Lebakgedong, Lebak.

Jembatan Muhara putus dihantam banjir bandang. Hilangnya jembatan penyambung desa itu saksi bisu ganasnya banjir Sungai Ciberang dan longsor pada permulaan tahun.

Hari menjelang pagi. Mendung mengatup memekat langit. Desa Ciladaeun berselimut kabut yang merambat dari tebing yang menjulang mengelilingi desa.

Udara terasa menusuk sendi tulang. Ditambah hujan yang tak terbilang sejak sekira pukul 03.00 WIB pada Rabu (1/1). Curah hujan semakin deras ketika subuh menjelang.

Debit air tak tertahan. Perlahan-lahan mulai membesar. Akhirnya, meluap hingga masuk ke permukiman. “Baru saja saya diberi informasi, air semakin besar sampai rumah warga di seberang,” kata Kepala Desa Ciladaeun Yayat Dimyati kepada Radar Banten di Posko Utama, Kampung Muhara, Desa Ciladaeun, Minggu (5/1).

Saat air meluluhlantakkan rumah warga di tepi sungai, suara gemuruh tanah dan bebatuan memekakkan telinga. Warga terjepit antara banjir dan longsor. “Di sini (sungai banjir) di sana tebing longsor,” ucap Yayat yang mengaku saat itu tak bisa melihat langsung longsornya tebing karena tertutup kabut.

Warga tak menyangka banjir bakal seganas itu. Sebab, tiap hujan turun debit air memang selalu meningkat. Namun, akan kembali surut setelah hujan reda.

Hujan di luar dugaan. Apalagi berbarengan dengan kejadian longsor. Arus air sungai pun memutuskan Jembatan Muhara. Rumah warga di tepi Sungai Ciberang ikut hanyut digulung air. Setidaknya, ada 18 rumah hilang. Juga, 68 rumah yang luluh lantak dalam kondisi rusak.

Tak banyak yang diperbuat warga. Satu sisi jembatan putus, sisi lain lumpur bercampur pohon menerjang, menutup akses jalan. Tiang listrik juga roboh. Kondisi ini yang membuat desa terisolasi dan listrik padam.

Kampung Muhara hingga saat ini masih terbelah menjadi dua bagian. Tak ada akses apa pun. Evakuasi pertama pun hanya bisa dilakukan dengan tali flying fox. “Cuma dengan tali saja kami harus evakuasi warga dari seberang,” ucap Yayat.

Proses evakuasi pun berlangsung menegangkan. Apalagi ada dua bayi yang harus dievakuasi. Juga ratusan anak-anak dan warga yang lanjut usia.

Bayi itu harus diletakkan pada sebuah boks, lalu digantungkan menggunakan tali seperti main flying fox dari seberang sungai. Sementara, satu petugas harus menjaga dari arus yang masih cukup deras. “Bayinya baru dua bulan, dan satu lagi yang kurang lebih dua tahunan,” ungkap Yayat.

Saat evakuasi berlangsung, belum ada bantuan dari pihak luar. Warga secara gotong royong melakukan sendiri. “Saat itu kita cuma fokus gimana caranya menyelamatkan anak-anak, orang tua, dan perempuan,” kata Yayat didampingi tokoh pemuda Ciladaeun, Anda Fist.

Saat ini bayi itu telah diungsikan pihak keluarga ke daerah Tangerang. Sementara warga lain diungsikan di pos utama. Sebagian lagi, memilih mengungsi ke rumah kerabat.

Kini setelah kondisi berangsur membaik, sudah hampir 90 persen warga yang kembali ke kampung. Bahkan sudah ada yang kembali ke rumahnya masing-masing. Untuk keperluan sehari-hari, mereka mengambil logistik di pos utama yang dibuka Pemprov Banten dua hari pasca kejadian.

Meski akses belum dilalui kendaraan roda empat, bantuan mulai masuk. Bahkan, di posko utama sudah dibuka dapur umum dan pelayanan kesehatan Dinkes Provinsi Banten. “Sejak awal bencana kita sudah buka posko kesehatan, tapi baru sekarang masuk sini setelah kami memaksa menerobos masuk,” kata Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti saat melakukan pemeriksaan pengungsi di Kampung Muhara.

Petugas kesehatan juga menyisir warga di seberang. Menggunakan jembatan darurat, petugas harus melintasi sungai yang masih penuh bebatuan berserakan. “Semua ada 11 tim kesehatan untuk membantu korban banjir Lebak. Satu di Posko Muhara dan satu lagi di atas (Desa Lebakgedong),” kata Ati.

Petugas kesehatan melakukan cek kesehatan untuk pertolongan pertama. Warga akan dirujuk ke rumah sakit daerah jika membutuhkan perawatan lebih lanjut. (Ken Supriyono, Fauzan Dardiri)