Banjir Cilegon, Sejumlah Kelurahan Porak Poranda

Warga menyaksikan puing-puing sisa banjir yang terbawa arus akibat banjir bandang yang melanda Kota Cilegon, Senin (4/5) lalu.

CILEGON – Sehari pasca banjir bandang menerjang pada Senin (4/5) lalu, sejumlah kelurahan di Kota Cilegon tampak porak poranda. Rumah masyarakat dan sekolah dipenuhi lumpur dan puing-puing pepohonan. Sejumlah rumah warga hancur, peralatan rumah tangga seperti kasur, bantal, kursi, meja, berserakan di luar rumah, bahkan di kebun.

Pagar tembok sejumlah rumah dan kantor Kelurahan Kotasari pun roboh. Sebagian titik masih terendam oleh air bercampur lumpur.

Di Kelurahan Grogol, selain di rumah warga, lumpur dan puing memenuhi sekolah, salah satunya madrasah Al Ittihad. Sejumlah fasilitas sekolah pun rusak.

Pantauan Radar Banten, warga di Kelurahan Kotasari dan Kelurahan Grogol terlihat sibuk membersihkan  rumah dari lumpur dan puing-puing, serta mengais sisa peralatan yang masih bisa dipakai.

Bagi rumah yang mengalami rusak berat, warga tak bisa berbuat banyak, karena memerlukan kendaraan berat untuk memindahkan lumpur dan puing dari dalam rumah.

Rumah yang alami rusak berat salah satunya adalah Ubaidillah. Rumah milik warga Lingkungan Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol itu rusak parah. Selain pagar, tembok bagian dapur pun hancur.

Isi dapur berserakan di kebun bagian belakang rumah. Sedangkan di dalam rumah yang tersisa hanya lumpur, lemari, pakaian yang kotor, dan sejumlah piring.

Di bagian teras, puing bercampur tanah menumpuk. Tak hanya rumah beserta peralatan hancur, surat-surat rumah dan tanah pun hilang terbawa banjir.

“Ini banjir paling parah, saya gak tahu harus gimana,” ujar Ubaidillah kepada Radar Banten, Selasa (5/5).

Ubaidillah berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya tersebut. Meski pun tidak sepenuhnya ia berharap ada perhatian dari pemerintah.

Untuk sementara, ia pun tinggal di rumah kontrakan yang berada tepat di samping rumahnya.

Warga Kotasari lainnya, Anis menjelaskan, untuk mengangkat lumpur dan puing membutuhkan alat berat karena debit yang sangat banyak.

Namun, sampai kemarin, bantuan itu belum ada dari pemerintah. Menurutnya Pemkot Cilegon baru sekadar memberikan bantuan makan untuk sahur dan buka puasa.

“Saya sih berharapnya pemerintah bergerak cepat dalam menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Ketua RT 03 RW 04 Lingkungan Ciore Kawista, Kelurahan Grogol, Hajali Said menjelaskan, di lingkungannya 50 persen warga terkena banjir.

“Kalau elektronik hancur, kasur juga, hampir semua rumah kena lumpur,” ujarnya.

Menurutnya, selain kebutuhan pokok, saat ini kebutuhan mendesak adalah peralatan untuk membersihkan lingkungan, termasuk alat berat. Karena tak hanya rumah, saluran air pun dipenuhi lumpur.

Baik Ubaidillah, Anis, maupun Hajali berharap pemerintah bergerak cepat menyelesaikan persoalan tersebut agar lingkungan mereka tak lagi menjadi langganan banjir.

Pemerintah harus bisa menyelesaikan persoalan hingga ke akarnya, bukan sekadar menyalahkan curah hujan yang tinggi.

Sementara itu, Sekda Kota Cilegon Sari Suryati menjelaskan, untuk bantuan pangan telah disalurkan pemerintah.

Soal bantuan untuk rumah yang rusak, menurut Sari hal tersebut akan dievaluasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon terlebih dahulu.

“Nanti kita lihat apakah bisa dibantu atau tidak,” ujar Sari.

Sari memastikan bantuan untuk banjir tidak akan memengaruhi bantuan yang telah dianggarkan untuk masyarakat terdampak Covid-19.

KOORDINASI BANTUAN

Terpisah, Kepala BPBD Kota Cilegon Erwin Harahap menjelaskan pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait salah satunya dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Cilegon terkait bantuan alat berat dan penyebab banjir tersebut.

“Infonya kan banjir itu dari bukit, di bukit itu katanya ada yang jebol, cuma yang jebol apa saya enggak tahu, masih saya tanya ke pak Ridwan,” ujarnya.

Dari keterangan Kepala Dinas PUTR Cilego  Ridwan, lanjut Erwin, hal itu masih ditelusuri. (bam/air)