Puluhan rumah di Kompleks Untirta, Kelurahan Penancangan, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang, pada Minggu (17/2). Foto: Qodrat/Radar Banten

SERANG – Setiap hujan deras yang belangsung lama, tiga tahun terakhir ini pusat Kota Serang kerap banjir. Bahkan semakin meluas. Jika tidak segera ditangani dengan baik, akan menjadi ancaman serius bagi ibukota Provinsi Banten ini.

Seperti hujan deras pada Sabtu (16/2) hingga Minggu (17/2) pagi, sejumlah jalur arteri tergenang. Yaitu Jalan Ahmad Yani; Jalan Raya Petir-Serang; dan Jalan Letnan Jidun, Kepandean. Kemudian, Jalan KH Sochari, Kidang; Jalan Ayip Usman, Kebaharan; Jalan Juhdi, Cinanggung; Jalan Raya Rau Timur, dan Perempatan Warung Pojok, Cijawa.

Beberapa kompleks perumahaan yang tidak biasa banjir, kini menjadi banjir. Yang Sering banjir, kondisinya semakin parah. Seperti Kompleks Untirta, Bumi Mutiara Serang, Grand Sutera, Perumnas Ciracas, Citra Gading, dan Kompleks Angsana Kasemen. Kemudian, Kampung Lebak, Cipocokjaya, Kampung Kiara Walantakan, dan Kampung Kenari Kasemen.

Di Kompleks Untirta, Pakupatan, banjir hingga sepinggang orang dewasa. “Kayaknya mulai jam satuan, soalnya tahu-tahu jam tiga pagi itu air sudah masuk rumah,” kata Susi, warga Kompleks Untirta ditemui di lokasi, Minggu (17/2).

Meski rumahnya tergenang air, Susi dan seluruh anggota keluarganya memilih bertahan. “Kan di rumah ada barang-barang yang belum dipindahin. Dan takutnya ada banjir susulan jadi bisa waspada,” cetusnya.

Andi, warga Kompleks Untirta, mengaku kaget karena tiba-tiba air meluap ke dalam rumahnya. Menurutnya, banjir bukan yang pertama kalinya. Sebab, setiap hujan deras, perumahan tersebut selalu dikepung banjir. “Sudah rutin Mas. Alhamdulillah sekarang beberapa jam, sudah menyusut,” ujarnya.

Intensitas hujan yang lebat juga membuat Sungai Cibanten meluap dan mengakibatkan dua jembatan yang ada di Kota Serang jebol. Kedua jembatan yang jebol yakni Jembatan Perumnas Ciracas, RW 11, Kota Serang dan Jembatan Kelunjukan Kavling Kemuning, Ciracas, Kota Serang.

Seorang warga Ciracas menuturkan, jembatan penghubung masyarakat di Ciracas jebol pukul 02.00. Akibatnya, Kavling Kemuning, Ciracas, banjir setinggi dada orang dewasa. “Banjir juga Mas, sampai ke dalam sana, sampai di musala, kalau di sini setinggi dada orang dewasa ada juga yang selutut,” katanya.

Wakil Walikota Serang Subadri Usuludin ikut meninjau lokasi banjir. Didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Subadri menyusuri tiap gang yang terendam air setinggi pahanya.

Ia menyusuri jalan-jalan yang tergenang air dengan menggunakan perahu karet yang disediakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang. Kata Subadri, sebetulnya Kota Serang itu tidak akan banjir jika hujannya tidak terlalu besar, hanya tergenang saja. “Gimana yang namanya hujan itu rezeki juga, patut kita syukuri sekalipun pada akhirnya warga kita yang bangunannya dekat dengan garis sempadan kali akhirnya jadi korban,” kata Subadri kepada wartawan saat ditemui di lokasi kebanjiran.

Ia meminta kesadaran masyarakat agar ketika membangun tidak terlalu berdekatan dengan garis sempadan kali. “Kalau ada space kan antara bangunan dan sempadan kali tidak begini, tapi apa pun itu karena ini warga kita, harus dibantu agar normal kembali. Secepatnya PU mengatasi permasalahan yang ada,” ujarnya.

Selain itu, dikatakan Subadri, masih banyak warga Kota Serang yang belum sadar buang sampah pada tempatnya. Diakui Subadri, sadar tidak sadar banjir juga ada yang diakibatkan oleh kelalaian warga. “Contohnya di Kompleks Untirta ini, saya rasa masih kurang sadarnya masyarakat sehingga buang sampah sembarangan. Nanti Pemkot Serang akan langsung mencari penyebabnya. Di drainase mana yang tersumbat penyebab banjir,” katanya. (Supriyono)