Banjir di Tangerang Sebabkan Akses Banten-Jakarta Terputus

Banjir parah merendam Kota Tangerang. Warga dievakuasi menggunakan perahu karet.

TANGERANG – Salah satu jalan penghubung Tangerang ke Jakarta yakni Jalan Hasyim Ashari Ciledug-Pinang masih digenangi banjir setinggi paha orang dewasa, Kamis (2/1). Kondisi ini mengakibatkan akses warga menuju ibukota terputus.

Jalur tersebut masih ditutup total sejak Rabu (1/1) yang mengakibatkan kemacetan di sekitar lokasi, dan jalur alternatif melalui Bintaro dan Cipete Tangerang. Di jalan tersebut terdapat beberapa perumahan yang juga tergenang banjir dengan ketinggian bervariasi yakni Perumahan Ciledug Indah I, Ciledug Indah II, Pinang Griya Permai, dan Duren Village.

Abdul Sarwani warga Ciledug, Kota Tangerang, yang bermukim di Perumahan Pinang Griya Permai mengatakan, jalur Hasyim Ashari terputus karena masih meluapnya Kali Angke. ”Belum bisa dilalui Pak. Jalurnya masih tergenang air,” singkatnya.

Menurut data BPBD DKI Jakarta, tìnggi air di pintu Angke Hulu sudah siaga I atau setinggi 3,45 meter per Kamis pukul 15.30 WIB. “Untuk di perumahan sekitar Ciledug juga masih banjir. Masih banyak warga yang perlu dievakuasi,” ujar Imam.

Ia menyebut banjir karena luapan air di Kali Angke ini merupakan yang terparah sejak 2007 atau 13 tahun yang lalu. Tinggi air yang menggenangi rumahnya naik dengan cepat dari setinggi mata kaki hingga setinggi leher orang dewasa dalam tempo 4-5 jam saja pada Rabu (1/1). “Banjir kali ini cepat sekali naiknya, dan tidak bisa diperkirakan,” ujarnya.

Warga lainnya di Ciledug, Eriskan Sandi (28) menuturkan tinggi air di dalam Perumahan Ciledug Indah 1 masih mencapai 1,5 meter. Sementara tinggi air di Perumahan Pinang Griya Permai satu meter pada Kamis sore ini. Tinggi air itu sudah menurun dibanding beberapa hari lalu, ketika air di Perumahan Ciledug Indah I dan Pinang Griya Permai bisa mencapai dua meter. “Kami cuma minta Tim SAR dari Pemkot Tangerang, kami harapkan lebih cepat bereaksi,” ujarnya.

Banjir di Kota Tangerang juga menyebabkan dua orang tewas. Pertama Jamilah (52) warga Gang Asidiqiyah RT2/6, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper, yang ditemukan tewas di genangan banjir dekat kediamannya, Rabu (1/1) lalu. Korban diduga tewas lantaran tersengat aliran listrik.

Satu korban lainnya yakni, Aceng Ismail (53) diduga tewas karena hipoteria usai menyelamatkan anaknya saat banjir di Kompleks Ciledug Indah I, Karang Tengah.

Kemarin, Walikota Tangerang Arief R Wismansyah terjun ke lapangan meninjau Perumahan Ciledug Indah I dan II, Kecamatan Ciledug. Arief didampingi Wakil Walikota Sachrudin, Dandim 0506/Tgr Kolonel Inf. Wisnu Kurniawan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Decky Priambodo dan sejumlah pejabat eselon II lainnya.

Arief mengatakan, banjir yang terjadi di Ciledug Indah berasal dari luapan air Kali Angke yang debitnya sangat deras. Pemkot Tangerang melalui Dinas PUPR melakukan beberapa upaya penanganan di antaranya dengan membangun tanggul darurat banjir (sandbags).

“Ini kita cek kondisi Ciledug Indah dibandingkan kemarin sudah turun, kurang lebih 60 sentimeter. Tanggul ini dibuat sejak kemarin karena air Kali Angke yang masuk limpasannya dari Duren Villa, jadi ini ditanggul. Kita akan tanggul juga depan Ciledug Indah I, supaya arus airnya tidak masuk kedalam kemudian kita akan turunkan pompa air, semoga ini bisa tertangani,” kata Arief.

Untuk titik banjir di wilayah Perumahan Pondok Arum, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Arief telah berkoordinasi agar pintu air yang dibuka di Pintu Air 10 dapat dikurangi. Rabu (1/1) lalu pintu air yang terbuka tujuh pintu, sementara Kamis (2/1) pintu yang terbuka hanya dua dan nantinya hanya satu  yang dibuka. “Ini dilakukan agar Pondok Arum dan Periuk Jaya bisa turun termasuk saudara-saudara kita di wilayah Tanjung Burung,” ungkap Walikota Tangerang dua periode ini.

Untuk wilayah Panunggangan Barat, banjir telah surut lantaran limpasan air dari Pintu Air 10 telah berkurang. Meski demikian, Arief meminta jajaran OPD, kecamatan dan kelurahan tetap melakukan pendamping kepada masyarakat yang terdampak bencana banjir.

Terkait penyaluran bantuan logistik, Arief meminta siapa saja yang hendak menyalurkan bantuan korban banjir silahkan didistribusikan melalui posko-posko terdekat agar distribusi bantuan merata. “Pusatnya ada Gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, beberapa bantuan logistik diantaranya mi instan, nasi, air mineral, popok bayi, pakaian layak pakai dan masih banyak lagi. Bulog memberikan bantuan 40 ton beras dan bantuan dari masyarakat juga terus mengalir,” tutur Presiden Direktur PT Sari Asih Group itu.

Sementara itu, Wakil Walikota Tangerang Sachrudin memastikan proses evakuasi terhadap korban banjir yang masih bertahan. “Tokoh masyarakat dan warga lain harus saling bantu, usahakan agar warga mau dievakuasi demi keselamatan,” katanya.

Perumahan Pesona Serpong menjadi lokasi terparah di wilayah Kota Tangsel terendam banjir mencapai empat meter. Akibatnya, 250 kepala keluarga (KK) mengungsi. Salah satu warga Perumahan Pesona Serpong Ila Rofikoh menyatakan sudah tinggal 10 tahun, kejadian banjir kali ini  paling terparah. Terakhir banjir pada bulan April 2019. ”Memang langganan banjir, tapi kejadian Rabu (1/1) lalu ketinggiannya sampai atap rumah,” sebutnya.

Sementara, Camat Setu, Hamdani menyatakan Pesona Serpong menjadi titik terparah yang terdampak banjir ”Solusi terbaiknya harus direlokasi. Soalnya enggak hujan aja bisa banjir karena permukiman berbatasan langsung dengan aliran sungai Cisadane yang kerap meluap karena kiriman air dari daerah lain,” ucapnya.

Ia menambahkan bila tetap dipertahankan, warga akan terdampak terus. Pihaknya akan mencoba melakukan kajian kepada Pemkot Tangsel. ”Kita aparat ke wilayahan akan menyampaikan ke pimpinan. Supaya bisa mendapatkan solusi terbaik. Kasihan warga yang menghuni selalu mengalami bencana,” tukasnya.

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie menyatakan ada 31 posko penanganan banjir yang terdiri dari unsur BPBD,PMI, Dinkes, Damkar, Satpol PP, Dinsos, Tagana, Polri, TNI, Pramuka dan relawan warga masyarakat.  ”Sebanyak 29 Puskesmas disiagakan untuk menangani para korban bencana banjir,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Kosrudin mengatakan, status banjir di Kabupaten Tangerang kini meningkat dari siaga menjadi darurat. Hal tersebut lantaran banjir meluas di sejumlah wilayah kecamatan. “Hasil informasi dari tim di lapangan, hingga pukul 19.00 WIB banjir di Kecamatan Teluknaga meluas. Sebelumnya hanya di Desa Lemo dan Tanjung Burung, tapi kini Desa Teluknaga juga mulai terendam. Ada 500 KK  yang terdampak. Selain itu, banjir juga mulai menggenang di Kecamatan Jayanti yaitu di Perum Jayanti Residence akibat luapan dari kali mati di wilayah tersebut,” katanya.

Sebelumnya, kata Kosrudin, wilayah kecamatan yang terdampak banjir pada Rabu (1/1) Kecamatan Kelapa Dua, Pagedangan, Teluknaga, Pakuhaji, Pasarkemis, Cisauk, Solear, Sepatan Timur, dan Cisoka. Kemudian meluas ke Kecamatan Jayanti dan Kresek.

Untuk jumlah korban yang terdampak, diperkirakan mencapai 5.000 lebih kepala keluarga diberbagai wilayah yang tedampak banjir. Selain merendam ribuan rumah, banjir yang diakibatkan luapan berbagai sungai seperti Cisadane, Cimanceuri, dan Cidurian.

Sementara itu, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar meninjau langsung ke Desa Carenang Kecamatan Cisoka yang terdampak banjir. “Banjir juga sudah surut, warga sudah kembali ke rumah untuk membersihkan sisa banjir serta beraktivitas seperti biasanya,” katanya(one-you-mg04/alt/ags)