Banjir Rob Terjang Lebak Selatan, Ratusan Warung Rusak

Sejumlah warung di tepi Pantai Pasir Putih, Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara, rusak berat akibat banjir rob, Rabu (25/7)

LEBAK – Banjir rob yang menerjang wilayah Lebak Selatan pada Rabu (25/7) dini hari mengakibatkan kerusakan pada ratusan warung di sejumlah pantai. Sedikitnya tak kurang dari 27 rumah dan 220 warung pantai di wilayah Lebak Selatan rusak. Bangunan yang rusak tersebut berlokasi di Kecamatan Malingping, Cihara, Panggarangan, dan Bayah.

Pantauan Radar Banten di lapangan, warung-warung di tepi Pantai Bagedur, Malingping, dan Pasir Putih, Kecamatan Cihara, rusak berat setelah dihantam ombak tinggi pada Rabu dini hari. Ombak tinggi tersebut mulai terjadi lagi pukul 03.00-06.00 WIB. Akibatnya, 207 warung di Pantai Bagedur rusak berat, 13 warung Pantai Pasir Putih, Cihara, rusak berat, dan 27 rumah di Panggarangan dan Bayah rusak.

Mahmudin, pemilik warung di Pantai Pasir Putih, Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara, mengatakan, ombak besar menghantam warung warga di pesisir pantai sejak Selasa (24/7) sore. Pada Rabu pagi, ombak besar kembali menghantam bangunan yang berdiri di pinggir pantai. Akibatnya, warung-warung tersebut mengalami kerusakan cukup parah sehingga tidak bisa digunakan lagi untuk berjualan.

“Dalam dua hari, terjadi dua kali banjir rob yang melanda Pantai Pasir Putih. Air laut sampai ke pinggir Jalan Simpang-Bayah. Karenanya, warung-warung di tepi pantai banyak yang rusak,” kata Mahmudin kepada Radar Banten, kemarin.

Para pemilik warung, lanjutnya, telah mengungsikan sebagian barang dagangannya ke dataran yang lebih tinggi sejak Selasa (24/7) malam. Apalagi, sebelumnya telah terjadi banjir rob yang mengakibatkan warung-warung di pinggir pantai rusak ringan. Dia tidak menyangka, banjir rob akibat gelombang tinggi dan angin kencang kembali terjadi pada Rabu pagi.

“Kondisi ombak di Perairan Lebak Selatan sempat surut. Tapi, kami tetap waspada karena cuaca bisa berubah dengan cepat dan mengakibatkan gelombang tinggi di pesisir pantai Lebak Selatan,” jelasnya.

Warga Ciparahu, katanya, tidak ada yang berani beraktivitas di pesisir pantai. Bahkan, para nelayan memilih untuk beristirahat di rumahnya masing-masing. Mereka tidak ingin kecelakaan laut di Binuangen terjadi kembali di wilayah Cihara dan sekitarnya. “Saya dan pemilik warung yang lain belum berani memperbaiki bangunan yang rusak. Kami hanya memantau kondisi ombak. Setelah kondisi ombak tenang, kami baru mau memperbaiki bangunan tersebut,” tandasnya.

Kepala Desa Ciparahu, Kecamatan Cihara, Ade Sujana mengatakan, banjir rob kembali terjadi pada Rabu pagi di Pantai Pasir Putih. Kondisi tersebut mengakibatkan belasan warung milik masyarakat rusak. “Saya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD-red) Lebak,” terangnya.

Terpisah, pengelola Pantai Bagedur di Desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, menyatakan, sebanyak 207 warung milik masyarakat rusak akibat banjir rob. Bahkan, beberapa warung ambruk sehingga tidak bisa digunakan kembali. Kerugian akibat banjir rob yang terjadi pada Rabu pagi diperkirakan mencapai Rp414 juta lebih.

“Jika satu warung saja mengalami kerugian Rp2 juta, maka total kerugian akibat banjir rob mencapai Rp414 juta,” terangnya.

Mumu meminta kepada Pemkab Lebak memperhatikan nasib para pemilik warung pantai di wilayah Lebak Selatan. Apalagi, sekarang jumlah kunjungan wisatawan ke pantai mengalami penurunan semenjak cuaca buruk yang terjadi sejak 22 Juli 2018.

“Beberapa warung di Bagedur ambruk dan sekarang belum diperbaiki pemiliknya. Mereka masih khawatir terjadi banjir rob susulan yang berpotensi merusak bangunan yang ada di pinggir pantai,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Lebak Kaprawi mengatakan, BPBD masih menghimpun data jumlah warung pantai dan rumah yang rusak akibat banjir rob di wilayah Lebak Selatan. Sekarang, relawan bencana alam di selatan masih ada yang belum melaporkan kondisi bangunan yang rusak. Untuk itu, data tersebut masih bersifat sementara karena masih menunggu laporan dari semua kecamatan di Lebak Selatan.

“Saya pun akan berangkat ke Lebak Selatan. Apalagi, potensi gelombang tinggi di perairan Banten Selatan masih akan terjadi hingga 28 Juli 2018,” katanya.

Untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan laut, para relawan bencana di enam kecamatan di Lebak Selatan diimbau untuk mencegah nelayan dan masyarakat beraktivitas di laut. Jangan sampai ada nelayan yang memaksa pergi ke laut karena kondisi ombak di pesisir pantai cukup tinggi, yakni mencapai enam meter.

“Kami akan segera mendistribusikan bantuan tanggap darurat kepada masyarakat yang terdampak banjir rob di wilayah Lebak Selatan,” paparnya. (Mastur/RBG)