Banjir Terjang Cilegon

Foto udara puluhan rumah yang terendam banjir akibat luapan kali, di Lingkungan Sambirata, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon Minggu (22/3). Akibat banjir. sejumlah barang elektronik milik warga mengalami kerusakan.

CILEGON – Sejumlah kelurahan di Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Jombang, Kota Cilegon terendam banjir pada Minggu (22/3). Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, banjir terjadi sejak Minggu (22/3) sekira pukul 02.00 WIB dini hari.

Banjir dengan ketinggian bervariasi merendam Lingkungan Sambirata, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cibeber; Lingkungan Cibeber Barat, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cibeber; Lingkungan Kadipaten, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber; dan Lingkungan Kranggot, Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cilegon Erwin Harahap menjelaskan, ketinggian air di setiap lingkungan berbeda-beda. Di Lingkungan Sambirata dan Cibeber Barat ketinggian air berkisar di 50 hingga 100 sentimeter, di Lingkungan Kadipaten sekira 80 sentimeter, sedangkan di Lingkungan Kranggot sekira 50 sentimeter.

Untuk sementara, BPBD menduga banjir itu terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Cilegon pada Minggu (22/3) dini hari, kemudian menyebabkan air sungai meluap dan memasuki permukiman masyarakat. “Kami duga luapan sungai juga akibat sampah yang menyumbat saluran air,” ujar Erwin kepada wartawan, Minggu (22/3).

Ia melanjutkan, dampak banjir paling parah terjadi di Lingkungan Cibeber Barat, dimana sebanyak 791 jiwa menjadi korban banjir. Sedangkan di Lingkungan Sambirata sebanyak 173 KK, Lingkungan Kadipaten 25 KK, dan Lingkungan Kranggot sebanyak 44 KK.

Menyikapi banjir tersebut, BPBD Kota Cilegon telah melakukan asesmen ke lokasi banjir, mengevakuasi korban, serta berkoordinasi dengan pihak terkait. Menurutnya, pada musim hujan, ia berharap masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, tak hanya terkait ancaman banjir dan longsor, tetapi juga saat ini sedang merebak wabah Covid-19 serta penyakit demam beradarah dengue (DBD).

Ia menilai kewaspadaan sangat penting untuk menghindari dari ancaman potensi bencana alam tersebut serta ancaman kesehatan tersebut. “Langkah dari pemerintah saja tidak cukup jika tidak didukung oleh masyarakat. Mari kita sama-sama meminimalkan potensi-potensi tersebut,” ujar Erwin.

RENDAM DUA PERUMAHAN

Di wilayah Kabupaten Serang, banjir menerjang dua perumahan di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Minggu (22/3), yakni Kompleks Puri Cilegon dan Kompleks Mataraya dengan ketinggian air mencapai 60 sentimeter. Banjir disebabkan intensitas hujan tinggi selain buruknya saluran drainase.

Pantauan Radar Banten Minggu (22/3) pagi, air sampai masuk ke rumah warga di dua kompleks tersebut. Kondisi itu mengakibatkan aktivitas di dua perumahan terhambat. Sejumlah warga sibuk menyelamatkan barangnya di rumah masing-masing.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, Nana Sukmana Kusuma mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan tim untuk melakukan evakuasi dan asesmen di lokasi banjir. Katanya, ketinggian air di dua kompleks tersebut setinggi 30 sentimeter hingga 60 sentimeter. Nana juga mengungkapkan, di Kompleks Puri Cilegon terdapat 72 rumah yang terendam dengan 74 keluarga dan 237 jiwa, sementara di Kompleks Mataraya 150 rumah yang terendam dengan 160 keluarga dan 450 jiwa. “Hujan turun sekitar jam 01.30 WIB. Beberapa jam kemudian, air langsung menggenangi permukiman di dua kompleks itu,” ungkap Nana sesuai laporan yang diterimanya dari warga.

Kendati demikian, Nana memastikan, tidak ada warga yang dievakuasi dari tempat tinggalnya. “Warga masih tinggal di rumahnya masing-masing,” tegasnya.

Sementara di Kampung Cikadu Embawang, Desa Mekarjaya, Kecamatan Bojonegara terjadi longsor di depan rumah warga. Menurutnya, longsor disebabkan intensitas curah hujan yang tinggi selain tidak adanya tembok penahan tanah (TPT) di lokasi tersebut. “Longsornya sepanjang 12 meter,” katanya.

Sementara itu, pada waktu yang sama, rumah warga yang berstatus janda bernama Murki (64) di Kampung Silebu Masjid, Desa Silebu, Kecamatan Kragilan ambruk. Rumah semipermanen itu ambruk diduga akibat terjangan hujan lebat disertai angin kencang.

Informasi yang diterima Radar Banten, bencana itu terjadi sekira pukul 09.00 WIB saat pemilik rumah sedang berpergian keluar. Saat pemilik rumah pulang, rumah sudah dalam kondisi ambruk hingga rata dengan tanah.

Camat Kragilan Epon Anih Ratnasih mengatakan, rumah yang ambruk dihuni wanita paruh baya yang tinggal bersama dua anaknya. Marki berstatus janda sejak ditinggal suaminya meninggal. Kata Epon, rumah Marki masuk daftar rumah tidak layak huni (RTLH) karena hanya terbuat dari kayu dan bilik. “Kondisi rumahnya juga sudah lapuk,” terangnya.

Epon memastikan, tidak ada korban jiwa atas kejadian itu karena saat kejadian pemilik rumah sedang di luar. “Waktu itu pemilik rumahnya sedang beli sayur, jadi alhamdulillah enggak ada korban jiwa,” tegasnya.

Epon mengaku, pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada BPBD dan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Serang. Saat ini, pemilik rumah sementara tinggal di rumah saudaranya. “Kita juga nanti akan mengajukan ke pihak swasta untuk memberikan bantuan,” katanya (bam-jek/air/ags)