Bank bjb Sabet Penghargaan Bank Sehat

SERANG – Bank bjb berhasil menorehkan deretan kinerja positif sepanjang  2019 di tengah situasi perekonomian global dan nasional yang penuh tantangan. Bank bjb mendapat penghargaan sebagai Bank berpredikat sehat pada kategori BUKU 3 dengan aset di atas Rp100 triliun.

Komplimen tersebut diraih Bank bjb dalam Indonesia Best Bank Award 2019 yang diselenggarakan di Mawar Ballroom, Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (15/11).

Kualitas pertumbuhan berada dalam koridor positif seiring likuiditas yang terjaga tinggi di atas rasio yang dipersyaratkan regulator. Dari segi kinerja, tercatat Bank bjb berhasil membukukan laba sebesar Rp1,37 triliun hingga September 2019. Pertumbuhan total laba tersebut diikuti oleh capaian luar biasa di sektor aset yang menembus Rp123,6 triliun. Pencapaian tersebut, dibarengi tingginya likuiditas mencerminkan kondisi kesehatan perusahaan yang terbilang sangat prima.

Penghargaan yang dihelat oleh salah satu perusahaan tersebut diberikan kepada bank berkinerja optimal dan memiliki kondisi keuangan baik atau sangat baik. Likuiditas perbankan yang kuat turut membantu Indonesia menghadapi gejolak perekonomian dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang salah satunya dipicu ancaman resesi ekonomi global.

Direktur Utama Bank bjb Yuddy Renaldi mengatakan, kualitas pertumbuhan usaha yang baik adalah kunci bagi kondisi kesehatan keuangan perseroan yang kuat. Kinerja optimal yang senantiasa diperlihatkan perseroan tidak bisa dilepaskan dari penerapan prinsip good corporate governance yang apik di segala lini usaha.

“Ini sekaligus kerja keras seluruh insan perseroan dalam menghadapi tantangan dan perubahan dengan semangat sinergi dan inovasi,” katanya dikutip dari siaran pers.

Pengukuran tingkat kesehatan bank sebagai peraih penghargaan dilakukan melalui lima aspek variabel. Pertama, aspek profil risiko yang dinilai berdasarkan faktor risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, stratejik, kepatuhan dan risiko reputasi. Kedua, aspek good corporate governance (GCG) di mana aspek ini dinilai berdasarkan transparansi, akuntabilitas, profesionalitas dan kewajaran. Ketiga, aspek rentabilitas di mana aspek ini dinilai berdasarkan faktor kinerja bank dalam menghasilkan laba, sumber pendukung rentabilitas yang diukur indikator rasio pendapatan bunga bersih terhadap total aset dan rasio pendapatan operasional.

Selain pendapatan bunga kredit dan stabilitas (keberlanjutan) komponen pendukung rentabilitas yang diukur dengan rasio primary core net income terhadap total aset. Keempat, permodalan yang dinilai berdasarkan capital adequacy ratio (CAR) dan rasio modal inti terhadap aset. Kelima, kinerja intermediasi yang dinilai berdasarkan dua indikator, yaitu pertumbuhan kredit dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). (skn/aas/ira)