Bantah Dugaan Suap, CEO CU: Ini Murni Sponsorship

0
85

CILEGON – Manajemen Cilegon United (CU) membantah uang yang disita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan uang suap dari dana CSR PT KIEC dan PT Brantas Abipraya (BA). Uang tersebut murni bentuk sponsorship PT KIEC dan PT Brantas Abipraya terhadap CU dalam mengarungi kompetisi babak 16 besar Liga 2 Indonesia 2017.

CEO CU Yudhi Apriyanto mengatakan, pihaknya secara resmi mengajukan proposal ke PT KIEC dan PT Brantas Abipraya untuk bersedia menjadi sponsorship atau donatur bagi CU untuk mengarungi Liga 2. “Kami mengajukan proposal itu pada awal September 2017. Proposal dan invoice yang kami ajukan tanpa sepengetahuan Pak Walikota (Tb Iman Ariyadi-red). Jadi, salah besar kalau ada yang bilang Pak Walikota yang mengatur agar kami mengajukan proposal ke PT KIEC dan PT Brantas Abipraya. Kami bekerja sendiri dan mencoba mengajukan proposal agar mendapat bantuan dari sponsor,” kata Yudhi kepada Radar Banten sebelum pertandingan antara CU versus PSPS Riau di Stadion Krakatau Steel, Kota Cilegon, Minggu (24/9) sore.

Kata dia, wajar bagi tim sepak bola mendapatkan sponsorship. “Konsekuensinya nama atau logo perusahan yang menjadi sponsor akan terpampang di jersey tim. Jadi, dana itu murni untuk sponsorship,” tegasnya.

Dengan tegas, ia menyatakan bahwa uang sponsorship yang diberikan PT KIEC sebesar Rp700 juta dan PT Brantas Abipraya sebesar Rp800 juta kepada CU tidak ada hubungannya dengan Walikota Cilegon. “Tidak ada sepeser pun uang sponsorship yang mengalir ke Pak Wali. Semua masuk ke rekening PT Cilegon United. Semuanya sudah saya jelaskan kepada penyidik KPK. Tapi, mungkin saja KPK punya penilaian lain,” tuturnya.

Ia juga membantah bahwa Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi ikut terkena OTT. Yudhi menceritakan kronologi OTT yang dilakukan KPK di Cilegon. “Kejadian itu (OTT) pada Jumat (22/9) sekira pukul 14.30 WIB. Saya didampingi tiga anggota manajemen CU, yakni Wahyu (Bendahara CU), Rinaldi (Bendahara tim CU), dan Asari (anggota manajemen CU) melakukan pencairan sebesar Rp800 juta di Bank bjb Cabang Cilegon. Jadi, tidak ada Pak Wali saat OTT (operasi tangkap tangan). Tiba-tiba pada saat akan keluar bank, kami ditahan oleh beberapa orang yang mengaku dari KPK,” urainya.

Kata dia, handphone langsung disita semuanya dan dibawa ke sekretariat CU, Jalan Jenderal Ahmad Yani No 12, Lingkungan Priuk, Kelurahan Sukmajaya. “Di sekretariat CU, KPK melakukan penggeledahan dan kembali menyita uang sebesar Rp352 juta. Uang Rp352 juta itu merupakan bagian dari dana sponsorship yang diberikan PT KIEC kepada CU sebesar Rp700 juta. Kenapa bisa tersisa Rp352 juta, karena sisanya kami gunakan untuk biaya tim saat bertandang ke Sleman, Jogjakarta,” terangnya.

Setelah melakukan penggeledahan di sekretariat CU, sekira pukul 16.00 WIB, Yudhi beserta tiga anggota manajemen CU dibawa ke kantor KPK, Jakarta, untuk dimintai keterangan. “Lebih dari 12 jam kami di KPK. Kami keluar dari kantor KPK pada Sabtu (23/9) sekira pukul 23.30 WIB. Semua keterangan sudah kami sampaikan kepada penyidik dan ini semua tidak ada indikasi korupsi. Ini semua murni bentuk sponsorship. Kami tetap men-support dan mendukung serta berdoa agar masalah ini cepat selesai. Serta Pak Wali kembali ke tim CU,” pungkasnya. (Andre AP/RBG)