Banten Darurat Kejahatan Seksual Anak

0
834 views

SERANG – Dugaan pencabulan belasan siswi SD di Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang menambah panjang daftar kasus kejahatan seksual terhadap anak. Dua bulan terakhir, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten telah mencatat sebanyak 21 kasus kejahatan seksual terhadap anak di Banten.

“Dua bulan terhimpun ada 21 kasus. Ini sudah termasuk darurat kejahatan seksual. Kasus ini (seksual-red) terjadi bukan lagi di perkampungan, di pusat kota bahkan di sekolah pun terjadi,” kata Ketua LPA Banten Uut Lutfhi, Senin (2/3).

Kasus kejahatan seks itu paling banyak tersebar di Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Pandeglang. “Daerah itu yang paling banyak,” kata Uut.

Terkait dugaan pencabulan di Kecamatan Gunugsari, Uut mengaku akan memberi layanan psikologis dan pendampingan terhadap korban hingga proses hukum inkrah. “Pihak sekolah punya tanggung jawab menjaga anak,” kata Uut.

Uut juga mengecam oknum guru berinisail AT (50) yang telah melakukan perbuatan bejat tersebut. “Hukumannya ditambah sepertiga dari ancaman pidana mengingat yang diduga pelaku berprofesi sebagai pendidik,” kata Uut.

Uut juga mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang untuk terus gencar menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan bagi para pendidik terkait Konvensi Hak Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak. “Serta memberikan edukasi kepada siswa agar waspada dan berani untuk melawan apabila dalam ancaman serta mengajarkan pendidikan seks sejak dini sebagai wujud pertanggungjwaban dinas dan pihak sekolah dalam mewujudkan sekolah ramah anak,” terangnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Serang Tubagus Entus Mahmud Sahiri juga sudah meminta kepada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) segera menghentikan semua hak oknum guru tersebut yang berstatus ASN. Terutama, soal penerimaan gaji dan tunjangan perbaikan penghasilan (TPP). “Saya minta BKPSDM untuk segera berkoordinasi dengan BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah-red),” katanya.

Kasat Reskrim Polres Serang Kota Ajun Komisaris Polisi (AKP) Indra Feradinata mengatakan, masih mendalami kasus pencabulan. Oknum guru tersebut kekeuh hanya mencabuli lima orang siswi, bukan 11 orang. “Keterangannya masih sama lima orang (bukan 11 orang-red),” kata Indra.

Perbuatan AT telah dilakukan satu tahun terkahir saat jam pelajaran sekolah. Lokasinya di gudang sekolah, perpustakaan, dan kebun. “Dia (pelaku-red) melakukan cabulnya di sekolah, di jam pelajaran, kan anak-anak, mereka enggak paham (dicabuli-red),” kata Indra.

Atas perbuatannya, AT dijerat Pasal 82 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara selama 20 tahun. (jek-mg05/nda/ags)