Banten Dikepung Banjir

0
659 views
Kemacetan kendaraan terjadi akibat adanya banjir di ruas jalan protokol Ahmad Yani, Kota Cilegon, Kamis (3/12).

SERANG – Menjelang tutup tahun, lima kabupaten/kota dikepung banjir akibat hujan deras yang terjadi lebih dari delapan jam. Bahkan di Kabupaten Lebak tidak hanya banjir, tapi juga terjadi longsor.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, banjir terjadi di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon hingga Kota Serang selaku ibukota Provinsi Banten.

Kepala Pelaksana BPBD Banten, Nana Suryana mengungkapkan, hingga Kamis (3/12) sore tidak ada laporan korban jiwa akibat banjir yang terjadi di lima kabupaten/kota, hanya saja ratusan rumah warga terendam dengan ketinggian air rata-rata setengah meter hingga satu meter.

Ia merinci, banjir di Kabupaten Lebak paling parah terjadi di Kecamatan Cimarga, Banjarsari, Cikulur, Gunung Kencana, dan Cibadak. Sementara longsor terjadi di Desa Wantisari Kecamatan Cimarga dan Desa Muara Dua Kecamatan Cikulur dan jalan amblas di Kecamatan Leuwidamar.

“Banjir dan longsor di Kabupaten Lebak merendam 116 rumah, satu pondok pesantren, dan jalan raya Rangkasbitung-Leuwidamar amblas setinggi 100 senti meter tepatnya di Kampung Cibeas Desa Wantisari Kecamatan Leuwidamar,” kata Nana kepada wartawan usai meninjau banjir di Kota Serang, kemarin.

Ia melanjutkan, untuk di Kota Serang banjir paling parah terjadi di Kecamatan Cipocokjaya. Selain merendam kawasan perumahan, banjir juga merendam sejumlah ruas jalan raya. “Saat ini kami masih melakukan pendataan terkait dampak banjir di Kota Serang,” katanya.

Nana melanjutkan, banjir di Kota Cilegon terjadi di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Cilegon, Jombang, Cibeber, Ciwandan, Citangkil dan Purwakarta. “Lebih dari 1.500 KK terdampak banjir akibat rumahnya terendam air, meskipun saat ini mulai surut,” jelasnya.

Sedangkan di Kabupaten Serang banjir terparah di Kecamatan Padarincang, sementara di Kabupaten Pandeglang ada beberapa kecematan yang terendam banjir. “Saat ini masih proses pendataan rumah warga yang terendam banjir,” pungkasnya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten, M. Juhriyadi menambahkan, hingga saat ini BPBD masih menyiapkan kemungkinan warga korban banjir untuk tinggal di pengungsian. “Sejauh ini warga memilih bertahan di rumahnya masing-masing, namun intensitas hujan diperkirakan terus meningkat hingga akhir tahun sehingga BPBD kabupaten/kota siaga penuh,” katanya.

Ia melanjutkan, sebagian besar kecamatan di Provinsi Banten memang masuk peta daerah rawan bencana banjir. Oleh sebab itu pihaknya terus meningkatkan koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota dan instansi terkait lainnya untuk melakukan mitigasi bencana.

“Semua daerah harus siaga bencana, masyarakat diminta waspada terjadinya ancaman banjir terutama saat malam hari,” kata Juhriyadi kepada Radar Banten, kemarin.

Juhriyadi mengungkapkan, berdasarkan peta daerah rawan banjir di Banten, lebih dari 90 kecamatan merupakan daerah paling rawan.

“Sedikitnya ada 12 sungai yang rawan meluap ketika intensitas hujan semakin tinggi, namun banjir juga mengancam wilayah perkotaan,” urainya.

Berdasarkan hasil kajian BPBD, lanjut Juhriyadi, ada enam faktor penyebab terjadinya banjir. Pertama, perubahan iklim dan pemanasan global yang mengakibatkan curah hujan. Kedua, meningkatnya luas lahan kritis yang menyebabkan terjadinya erosi, sedimentasi sehingga alur sungai menyempit dan mengalami pendangkalan. Ketiga, perubahan fungsi kawasan sepadan sungai menjadi kawasan permukiman. Keempat, perubahan fungsi ruang terbuka hijau dan situ sebagai resapan air. Kelima, sistem drainase perkotaan yang kurang memadai. Keenam, penurunan permukaan tanah akibat over pumping air tanah.

“Berkaca pada bencana banjir pada awal tahun 2020 lalu, ada lima kabupaten/kota, 43 kecamatan dan 182 desa yang terendam banjir cukup parah,” jelasnya.

LEBAK TUJUH KECAMATAN

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama mengatakan, ada tujuh kecamatan yang terdampak banjir, yakni Banjarsari, Cikulur, Gunungkencana, Cimarga, Kalanganyar, Cibadak, dan Rangkasbitung. Jumlah rumah yang terendam masih didata relawan BPBD. Tapi, dari enam kecamatan sudah masuk data sebanyak 299 rumah terendam dan data tersebut diyakini akan terus bergerak.

Di Gunungkencana, banjir juga merendam puluhan rumah akibat luapan air Sungai Ciakar. Di Cimarga, banjir di terjadi pada Rabu malam akibat luapan Sungai Cisariap, sedangkan di Kalanganyar belasan rumah terendam akibat luapan Sungai Cikatapis dan Ciberang. Sementara itu, di Cibadak banjir luapan Sungai Cisangu merendam puluhan rumah dan hektaran sawah. Selanjutnya, di Kecamatan Rangkasbitung, banjir luapan Sungai Ciujung merendam belasan rumah yang berlokasi di bantaran sungai.

“Data sementara, jumlah rumah yang terendam 299 unit. Tapi sebagian besar sudah surut dan masyarakat telah kembali ke rumahnya masing-masing,” ungkapnya.

Tidak hanya banjir, tiga kecamatan di Lebak juga diterjang longsor. Di Leuwidamar, tiga rumah rusak berat dan dua rumah rusak ringan. Di Muncang, dua rumah rusak berat dan di Cikulur satu unit rumah terancam longsor. “Kita terus pantau ketinggian permukaan air dan debit air di dua sungai tersebut. harapannya, kembali surut,” tukasnya.

LOGISTIK PILKADA TERENDAM

Banjir menerjang enam kecamatan di Kota Cilegon akibat hujan deras yang terjadi pada Rabu (3/12) malam dan Kamis (3/12) dini hari.

Berdasarkan pantauan, hingga Kamis (3/12) siang, banjir masih terjadi di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Ciwandan dan Kecamatan Jombang. Banjir tak hanya merendam permukiman masyarakat, tapi juga merendam akses jalan seperti jalan protokol di Kecamatan Cibeber tepatnya di depan Cilegon Center Mall (CCM), Jalan Lingkar Selatan (JLS), serta jalan nasional Cilegon-Anyer di Kecamatan Ciwandan.

Selain menerjang pemukiman serta membuat akses lalu lintas terhambat, banjir pun merusak sejumlah logistik Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Cilegon.

Hal itu terjadi karena banjir menerjang gudang penyimpanan logistik Pilkada di Kecamatan Jombang.

Komisioner KPU Kota Cilegon, Fatchurohman membenarkan hal tersebut. Menurutnya tak banyak logistik yang rusak akibat terjangan banjir. “20 kotak suara yang diganti,” ujarnya.

Sementara itu di Kota Serang, banjir terjadi akibat penyempitan saluran air dan tanggul jebol. Kondisi ini mengakibatkan luapan air naik, seperti halnya di kali yang melintas di perumahan Citra Gading. “Ada lima titik di Kota Serang berdasarkan laporan ke BPBD. Kalau diperkirakan banyaknya genangan bisa puluhan titik genangan,” ujarnya kepada Radar Banten, Kamis (3/12).

DEBIT SUNGAI CIUJUNG NAIK

Berdasarkan informasi yang diterima dari UPT Ciujung Cidanau PUPR Banten, terjadi kenaikan debit air di Sungai Ciujung. Khususnya di wilayah hilir yakni Kabupaten Serang.

Di Bendung Pamarayan, debit air pada pukul 06.00 WIB 449 meter kubik. Hingga pukul 10.00 WIB, debit air naik menjadi 639 meter kubik. Warga juga diimbau untuk waspada karena debit air terus naik.

Kenaikan debit air tersebut menyebabkan sejumlah wilayah di bantaran Sungai Ciujung terdampak banjir. Air Sungai Ciujung meluap hingga ke pemukiman warga.

LAKUKAN PERBAIKAN

Pemkot Tangerang melakukan antisipasi siaga banjir yang pasti terjadi setiap tahun di beberapa lokasi titik yang ada di Kota Tangerang.

Walikota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, tahun ini Pemkot Tangerang sudah menyiapkan antisipasi banjir dengan menyiagakan pasukan yang bekerjasama dengan TNI, Polri dan juga PMI Kota Tangerang. Hal itu untuk mengantisipasi agar masyarakat bisa tertolong khususnya di lokasi yang menjadi langganan banjir.

“Kita sudah siapkan antisipasinya, apalagi ini masih di tengah pandemi virus corona. Jadi ada skema yang disiapkan jika lokasi banjir kembali banjir pada saat musim hujan di bulan ini,”ujarnya saat ditemui Tangerang Ekspres usai apel siaga banjir di Puspemkot, Kamis (3/12).

Arief menambahkan, tidak hanya pemerintah saja yang bergerak mengantisipasi banjir, masyarakat juga diminta untuk bersama dan membantu Pemkot Tangerang dalam mencegah adanya banjir dan juga genangan air pada saat musim hujan.

“Masyarakat diminta untuk bisa menjaga lingkungan, membuat sumur resapan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Hal itu dilakukan, agar pada musim hujan air tidak kembali membanjiri lokasi banjir seperti tahun lalu,”paparnya.(den-bam-jek-tur-ran/air)