Banten Jadi Kawasan Strategis untuk Pengembangan Jagung

0
116

SERANG – Provinsi Banten menjadi kawasan produsen pangan yang strategis dalam pengembangan jagung, karena memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif berupa lahan dan pasar.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Amiruddin Pohan mengatakan potensi lahan di Provinsi Banten yaitu berupa sawah tadah hujan seluas 30.734 hektare, tegal atau kebun seluas 157.546 hektare, ladang atau huma 76.562 hektare dan perkebunan 60.807 hektare.

“Dalam hal pasar, kebutuhan jagung untuk pabrik pakan di wilayah Banten pada tahun 2017 sekitar 2.168.875 ton, kebutuhan jagung sekitar 4.178 ton per hari, sedangkan harga di tingkat pabrik berkisar Rp 4.000 sampai Rp 4.500 per kilogram,” ujar dia, saat meninjau lahan jagung di Desa Pagintungan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Rabu (27/9).

Dikatakannya, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pertanian menetapkan sasaran tanam jagung tahun 2017 seluas 128.095 hektare, luas panen 122.971 hektare dan produksi 479.103 ton (produktivitas 38,96 ku/ha).

“Sasaran tersebut sebagian besar berada di kawasan penyangga pangan yaitu Kabupaten Pandeglang 85.850 hektare, Kabupaten Lebak 30.000 hektare dan Kabupaten Serang 10.900 hektare,” terangnya.

Realisasi tanam jagung di Provinsi Banten, kata dia, sampai akhir Agustus 2017 seluas 17.329,7 hektare dengan perkiraan luas panen sampai September 2017 adalah 12.371,7 hektare, harga di tingkat petani berkisar Rp 2.700 – Rp 3.200 per kilogram.

“Khusus di Kabupaten Serang, salah satu lokasi pengembangan budidaya jagung terdapat di Kecamatan Jawilan dengan potensi lahan 300 hektare, dimana 125 hektare sudah dimanfaatkan untuk budidaya jagung oleh petani sekitarnya, yang sudah panen 120 hektare,” ujarnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Muhammad Syakir mengatakan Provinsi Banten ditetapkan sebagai kawasan produsen pangan guna mencapai swasembada pangan menuju kedaulatan pangan. Dengan terobosan mengembangkan lumbung pangan orientasi ekspor di wilayah perbatasan dan penyangga kota besar.

“Kebijakan pemerintah ini sejalan dengan perencanaan 2017 sebagai tahun swasembada jagung, sehingga program ini sangat direspon oleh industri pakan dan asosiasi Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT),” ujarnya.

Di Indonesia, kata dia, jagung dibudidayakan pada lingkungan yang beragam. Sebanyak 79 persen areal pertanaman jagung berada di lahan kering dan sisanya di lahan sawah irigasi 11 persen, jagung di lahan sawah meningkat 10 hingga 15 persen dan sawah tadah hujan 20 hingga 30 persen. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com)