Banten Produksi Pipa Kelas Dunia

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (tiga dari kiri) mendengarkan penjelasan dari pihak PT FPI terkait ekspor pipa hasil produksi ke AS.

Menperin: Harus Serap Tenaga Kerja

TANGERANG – Tahun ini perusahaan asal Banten berhasil mengekspor pipa sepanjang 5,3 kilometer ke Amerika Serikat. Pipa fiberglass karya anak bangsa senilai 20 juta dolar AS akan digunakan di Kota San Fransisco.

Pipa komposit serat kaca (fiberglass) produksi perusahaan multinasional PT Future Pipe Industries (FPI) yang berlokasi di Balaraja, Kabupaten Tangerang, memulai pengiriman ekspor perdananya, Rabu (26/2). Pengiriman itu dilepas langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar.

“Saya sangat terkesan dengan kinerja FPI yang sudah mampu menembus pasar Amerika Serikat. Kalau sudah mampu ekspor ke AS, artinya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kualitas dan kualifikasinya,” kata Agus kepada wartawan usai melepas pengiriman ekspor pipa.

Agus melanjutkan, industri pipa komposit serat kaca merupakan industri masa depan yang harus dikembangkan, karena memiliki beberapa keuntungan, di antaranya kualitas yang kuat, tahan lama, tidak meninggalkan jejak lingkungan, murah, serta anti korosi.

“Secara umum industri ini efisien. Industri ini sangat dibutuhkan ke depan, sehingga perlu terus dikembangkan. Terlebih ini semua dikembangkan oleh anak bangsa,” ujarnya.

Agus melanjutkan, ada dua pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan pemerintah untuk mendukung industri tersebut. Pertama, yakni rencana FPI yang ingin melakukan ekspansi bisnis, sehingga perlu dukungan pemerintah daerah setempat untuk mempermudah perizinan lahan yang ingin digunakan sebagai fasilitas produksi.

“Secara umum, salah satu materi yang dibahas omnibus law adalah bagaimana kita bisa menjawab isu lahan pada industri. Kita ingin membuat industri jauh lebih mudah membuka lahan,” urainya.

Selanjutnya yakni impor mesin bekas yang ditengarai dilarang digunakan untuk manufaktur di Indonesia. Dalam hal ini, Agus menyampaikan bahwa seharusnya, yang dilarang adalah impor mesin bekas yang diperuntukan untuk dijual kembali, sedangkan jika kebutuhannya adalah sebagai alat produksi, maka hal tersebut diperbolehkan. “Seharusnya tidak dilarang. Nanti, saya akan melihat lagi, mengkaji lagi. Namun, saya pastikan bahwa seharusnya itu diperbolehkan untuk kebutuhan produksi manufaktur,” ungkap Agus.

Ia mengaku optimistis bila pekerjaan rumah itu bisa diselesaikan, maka pemerintah akan mampu mendorong penguatan daya saing sektor manufaktur dan struktur ekonomi nasional. “Sampai saat ini, pertumbuhan ekonomi nasional didorong oleh industri pengolahan nonmigas dengan kontribusi 17,58 persen. Industri pengolahan juga menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan kontribusi 75,6 persen dari total ekspor nasional,” ujarnya.

Atas keberhasilan PT FPI, Agus meminta pemerintah daerah untuk memberikan dukungan pada perluasan industri di Banten. “PT. Future Pipe Industries telah menginvestasikan sekitar USD40 juta, dan pada tahun 2020 ini berencana untuk kembali menambah investasi dalam rangka memenuhi kebutuhan domestik yang semakin besar dan pemenuhan kebutuhan pasar dunia, khususnya ASEAN,” ungkapnya.

Melalui penambahan investasi PT. Future Pipe Industries, menurut Agus, akan membawa efek berganda bagi perekonomian nasional. Dampaknya itu antara lain, penerimaan negara dalam bentuk pajak dan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyerapan produk atau jasa industri pendukung seperti penggunaan resin dalam negeri (misalnya industri petrokimia), serta pemberdayaan dan alih teknologi kepada perusahaan lokal dalam hal instalasi dan perawatan.

“Sektor industri dituntut untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional karena sektor industri berperan penting dalam menciptakan nilai tambah, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Ia berharap, PT FPI bisa menyerap ribuan tenaga kerja lokal, sehingga bisa mengurangi angka pengangguran di Banten. “Di era perdagangan bebas yang terjadi saat ini membuat akses pasar semakin terbuka. Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi industri,” imbuhnya.

PEMDA SIAP BANTU

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar dalam sambutannya mengatakan, pemerintah daerah siap membantu para pengusaha untuk melakukan perluasan lahan untuk pengembangan bisnis di wilayahnya. “Selama persyaratannya dipenuhi, tentu kami akan mempermudah perizinannya. Sebab sektor industri diharapkan bisa menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya,” katanya.

Sementara itu, COO PT FPI Imad Makhzoumi menyampaikan, pipa yang diekspor ke AS berdiameter 3,4 meter dengan panjang total 5,3 kilometer yang dikirim menuju Silicon Valley, AS, untuk pembangunan infrastruktur transmisi pembuangan, yang nantinya akan menghubungkan beberapa kota di San Francisco, Belmont, Redmond, dan San Carlos. “Dengan adanya proyek pengiriman pipa berteknologi tinggi ini, diharapkan dapat mempertegas eksistensi produk-produk Indonesia di kancah dunia internasional,” ujar Imad.

Proyek pengiriman pipa tersebut, lanjut Imad, merupakan yang pertama dan terbesar di Indonesia serta dibuat oleh tim ahli dalam negeri, mulai dari proses desain, perencanaan, hingga produksi akhir. “Kegiatan ekspor ke AS akan terus berlanjut, mengingat kebutuhan akan produk tersebut akan terus meningkat dalam 10-20 tahun ke depan,” ungkapnya. (den/air/ags)