Banten Targetkan Luas Tanam Padi Bertambah 61.038 Hektare

Proses penandatanganan kesepakatan peningkatan produksi padi, kemarin. (Foto: Yan Cikal)
Proses penandatanganan kesepakatan peningkatan produksi padi, kemarin. (Foto: Yan Cikal)

SERANG – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Pemprov Banten dan pemerintah kabupaten/kota di Banten memaksimalkan potensi lahan atau sawah tadah hujan untuk meningkatkan produksi pertanian. Selain itu, Amran menilai, petani di Banten dapat menjadi orang yang kaya sekaligus penyangga Jakarta sebagai Ibukota Indonesia.

Apalagi, kata dia, pada Juli, Agustus, dan September merupakan bulan kritis produksi pertanian yang berdampak pada Desember, Januari, dan Februari. “Karena itu, kita perlu tambah luas tanam sehingga bulan ini optimal,” kata Amran usai menyaksikan penandatangan kesangggupan penambahan luas tanam pada enam kabupaten/kota se-Banten di Pendopo Gubernur Banten, Selasa (19/7).

Target penambahan luas tanaman padi seluas 61.038 hektare di enam wilayah. Perinciannya, Kabupaten Serang 16.733 hektare, Pandeglang 22.319 hektare, Lebak 8.151 hektare, Kabupaten Tangerang 9.822 hektare, Kota Cilegon 55 hektare, dan Kota Serang 3.898 hektare. Sementara menurut data Radar Banten dari Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, luas area panen padi di Banten pada 2015 mencapai 386,68 ribu hektare, meningkat dari 386,40 ribu hektare pada 2014.

Hadir pada kesempatan tersebut, di antaranya Ketua DPRD Banten Asep Rahmatullah, Sekda Banten Ranta Soeharta, Kepala Distanak Banten Agus M Tauchid, Komandan Korem 064/MY Serang Kolonel Inf Wirana Budi Prasetya, Wakil Kapolda Banten Kombes Pol Lilik Setiadi. Kemudian, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, Bupati Pandeglang Irna Narulita, Kepala Bulog Subdivre Serang Sri Hardiyanti, perwakilan perusahaan fedfloter, dan perwakilan masing-masing wilayah melakukan pendandatangan tersebut.

Kata Amran, hasil panen padi yang dahulunya hanya 500 sampai 600 ribu ton per bulan, kini ditambah menjadi satu juta per bulan. Pencapaian tersebut bukan hanya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Banten, tetapi juga daerah lain. “Kami angkat di atas satu juta per bulan sehingga Desember, Januari, Februari tidak ada paceklik lagi untuk padi,” katanya.

Untuk mencapai peningkatan tersebut, lanjutnya, pihaknya akan membangunkan lahan yang tertidur atau tadah hujan yang kurang produktif. Termasuk, 3.000 hektare sawah tadah hujan di Banten. “Khusus lahan yang tidur kita program agar bangun. Lahan tadah hujan kita siapkan pompa sumur dangkal, sumur dalam, dan sungai di sekitarnya kita optimalkan,” katanya.

Selain program perbaikan irigasi, Amran mengatakan, perlu dorongan melalui pembangunan infrastruktur pendukungnya. “Bersama kita perbaiki infrastruktur. Kita berikan porsi agar terus, jadi ada solusi yang kita berikan kepada masyarakat,” katanya.

Menurutnya, petani Banten dapat lebih kaya dari petani daerah lain. Selain potensi pertanian yang baik, biaya transportasi dari Banten ke Jakarta sebagai pasar lebih murah. “Jadi tidak mungkin bersaing dengan Sulawesi Selatan, Jawa Timur karena biaya transportasinya murah, infrastrukturnya dekat dengan Jakarta,” kata Amran. (Irfan M-Supriyono/Radar Banten)