Banten Tertinggi Se-Indonesia, Pengangguran Bertambah 23.409 Orang

SERANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis, dalam setahun terakhir pengangguran di Banten bertambah 23.409 orang. Pada Februari tahun ini, jumlah pengangguran di Banten mencapai 489.216 orang dan penduduk bekerja sebanyak 5,622 juta orang.

Dibandingkan Februari tahun lalu, jumlah penduduk yang bekerja berkurang 54.606 orang, sedangkan pengangguran bertambah 23.409 orang.

Hal ini membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Tanah Jawara ini yang angkanya sebesar 8,01 persen kembali menduduki peringkat tertinggi se-Indonesia. Lantaran angka itu jauh di atas rata-rata TPT nasional yakni 4,99 persen.

Seperti diketahui, pada Agustus 2019, Banten juga merupakan daerah dengan TPT tertinggi se Indonesia dengan angka 8,11 persen.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, berkurangnya jumlah penduduk yang bekerja memang tak sama dengan bertambahnya pengangguran. “Sebagian memang menganggur, tapi yang lain belum tentu karena bisa saja sekolah atau yang perempuan beralih menjadi ibu rumah tangga,” ujar Adhi, Selasa (5/5).

Ia menerangkan, penduduk bekerja yang sharenya menurun dari Februari 2019 ke Februari tahun ini di antaranya yakni sektor perdagangan dari 23,88 persen menjadi 22,11 persen, transportasi dari 6,46 persen menjadi 6,35 persen, dan akomodasi dan makan-minum dari 5,94 persen menjadi 5,73 persen. “Asumsinya di tiga sektor itu terjadi penurunan,” tuturnya.

Kata dia, berbeda dengan sebelumnya, kali ini apabila dilihat dari tingkat pendidikan, TPT tertinggi adalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu sebesar 13,48 persen. Menyusul di posisi kedua, TPT lulusan SMK 13,11 persen. Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA. Penawaran pekerjaan lebih memilih mereka yang berpendidikan tinggi, ini terlihat dari TPT pendidikan tinggi yang cukup rendah, yaitu sebesar 3,58 persen. Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, hal itu dapat dilihat dari TPT SD ke bawah sebesar 4,33 persen. Apabila dibandingkan kondisi setahun yang lalu, peningkatan TPT terjadi pada tingkat pendidikan menengah.

TPT pada Februari tahun ini yang sebesar 8,01 persen juga mengalami peningkatan dibandingkan TPT pada Februari 2019 yang sebesar 7,58 persen.

“Kalau dilihat dari daerah tempat tinggalnya, TPT di perkotaan tercatat lebih tinggi dibanding wilayah perdesaan,” terang Adhi. Pada Februari 2020, TPT di wilayah perkotaan sebesar 8,16 persen, sedangkan TPT di wilayah perdesaan hanya sebesar 7,60 persen. Dibandingkan setahun yang lalu, TPT di perkotaan meningkat sebesar 0,71 persen poin dan TPT di perdesaan turun sebesar 0,31 persen.

Pada Februari tahun ini juga, TPT laki-laki sebesar 8,94 persen, lebih tinggi dari TPT perempuan yang sebesar 6,21 persen. Dibanding setahun yang lalu, TPT laki-laki meningkat sedikit sebesar 0,61 persen poin dan TPT perempuan mengalami sedikit penurunan yaitu 0,05 persen poin.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disnakertrans Banten Al Hamidi menanggapi santai hasil survei BPS terkait tingkat pengangguran terbuka (TPT), yang menempatkan Banten sebagai provinsi paling banyak jumlah penganggurannya pada tahun 2020. Menurutnya, secara persentase, sebenarnya jumlah pengangguran terbuka di Banten pada awal 2020 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019.

“Sebenarnya ada penurunan, namun persentase pengangguran terbuka di Banten masih yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya pada Februari 2020,” kata Al Hamidi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (5/5) malam.

Untuk menekan jumlah pengangguran, lanjutnya, diperlukan kerja keras dan kerja bersama antara  pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. “Masalah pengangguran sebenarnya bukan hanya persoalan Disnaker semata, ini tanggungjawab lintas sektor. Ke depan, program penanganan pengangguran harus terintegrasi dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota,” ujarnya.

Al Hamidi justru mengkhawatirkan jumlah pengangguran di Banten semakin tinggi, pasca pandemi Covid-19. Sebab ribuan buruh terkena PHK dan dunia industri mengalami dampak paling serius dari meluasnya wabah Covid-19.

“Survei BPS yang baru dirilis ini, kan dilakukannya pada Februari 2020 atau sebelum terjadi wabah Covid-19. Angka 8,01 persen kan masih wajar dan itu disebabkan banyak faktor. Justru yang kami khawatirkan angka pengangguran di tengah pandemi covid nanti,” tegasnya.

Al Hamidi memprediksi, jumlah angka pengangguran terbuka di Banten akan melebihi angka 10 persen, bila BPS melakukan survei setelah pandemi Covid-19.

“Kita akan tetap melakukan berbagai upaya menekan jumlah pengangguran, namun wabah covid sudah pasti membuat jumlah pengangguran meningkat drastis disemua daerah. Kemungkinan besar pada Agustus 2020, angka pengangguran di Banten di atas 10 persen. Ini yang sedang kami pikirkan bersama kabupaten/kota,’ pungkasnya. (nna-den/air)