Banyak Industri di Banten tapi Serapan Tenaga Kerja Minim

Lulusan SMK Belum Penuhi Kualifikasi

Sebanyak 500 peserta yang terdiri dari siswa SMK se-Banten mengikuti pelatihan dan penempatan kerja yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten, di Pendopo Gubernur, KP3B, Curug, Kota Serang, Senin (23/4).

SERANG – Banten termasuk salah satu provinsi yang memiliki industri atau perusahaan di atas seribu. Namun, tingginya industri tersebut belum sejalan dengan penyerapan tenaga kerjanya.

Masalah tersebut menjadi sorotan Gubernur Wahidin Halim saat memberikan pengarahan penerimaan, pelatihan, dan penempatan kerja sumber daya manusia (SDM) Industri Banten 2018 di Pendopo Gubernur Banten, Senin (23/4). Ia memulai dengan memberikan kemungkinan persaingan kompetensi di era kemajuan teknologi informasi.

“Sekarang fasilitas lengkap, ada medsos, tapi persaingan semakin tinggi,” ujarnya.

Orang nomor satu di Banten ini lantas mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten yang menyebut tingkat pengangguran terbuka di Banten tercatat sebesar 9,28 persen atau setara dengan 520 ribu orang. Padahal, perusahaan di Banten jumlahnya mencapai 15.945. “Kontribusi SMK sudah 150 ribu orang lulusan yang tidak mendapatkan pekerjaan,” katanya.

Situasi itu dinilainya menjadi tantangan kepada Pemprov untuk melakukan terobosan. Menyiapkan program link and match antara sekolah dengan industri. “Itu contoh gubernur lagi mikirin bagaimana rakyat supaya jangan menganggur,” kata pria yang akrab disapa WH itu.

Mantan walikota Tangerang itu lantas mengajukan pertanyaan kepada audiens, yang mayoritas berstatus pelajar SMK itu. Disebutnya ada dua faktor utama yang menyebabkan tingkat pengangguran terbuka di Banten tinggi. “Pertama, calon-calon tenaga kerja tidak kompetensi, tidak punya profesi,” katanya.

Menurutnya, faktor itu tidak lepas dari SDM pengajar, sarana, dan prasarana sekolah yang tidak memadai, bahkan tidak lagi sesuai kebutuhan industri. Sekolah juga belum dilengkapi dengan laboratorium praktikum yang memadai.

“Lulusan listrik yang mengajar hukum, jurusan mesin mobil, mobilnya bukan pakai matik tapi pakai mesin mobil Kijang tahun 80. Begitu juga jurusan yang lain, jadi begitu lulus tidak punya profesi,” ujarnya.

Faktor kedua, disebutnya, karena malas. Kata dia, ada sebagian orang yang malas untuk bekerja. Jika pun bekerja, lebih banyak istirahatnya sehingga produktivitasnya kurang baik.

“Sekarang kalah bersaing dengan tenaga kerja dari Cina. Cina itu dari pagi sampai malam, dua hari baru istirahat. Sementara, kita, duhur istirahat, ashar istirahat, magrib istirahat, isya istirahat,” katanya.

Karena faktor mental itu, pekerja di Banten kalah bersaing dengan orang-orang luar yang memiliki etos kerja lebih. “Jadi, memang kita harus bersaing dari mentalitas jiwanya, moralitasnya, kemauannya, motivasinya, dan keinginannya untuk bersaing. Jiwanya yang harus diibangun, kalau kerja sekadar kerja tanpa mau meningkatkan profesi dan komptensi,” katanya.

Padahal, kata WH, tanpa harus bergantung pada perusahaan, masyarakat bisa membuka kesempatan kerja sendiri dengan membangun kreativitas. Misalnya dengan memanfaatkan bahan baku singkong menjadi produksi olahan yang memiliki nilai tambah lebih.

“Makanya, kita tumbuhkan petani-petani kita yang bisa bersaing. Tapi, harus ada upaya karena sektor pertanian memberikan kontribusi cukup besar pada pengangguran. Jadi, jangan berharap dari pabrik atau industri saja, tapi kita kembangkan kreativitas kita agar kita bisa ciptakan lapangan kerja, minimal buat kita sendiri,” serunya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banten Alhamidi mengatakan, rekrutmen, pelatihan, dan penempatan kerja tersebut sebagai upaya untuk mengurangi angka pengangguran. Diikuti oleh 500 pencari kerja, acara tersebut mempertemukan mereka dengan perusahaan yang siap menerima pencari kerja.

“Hasil yang diharapkan bisa terekrut 500 orang tenaga kerja di sektor garmen, alas kaki, manufaktur otomotif, dan elektronik,” ujarnya.

Kata dia, mereka yang lolos seleksi nantinya akan menjalani training hard skill di Badan Diklat Industri (BDI) selama tiga minggu untuk sektor garmen dan alas kaki. Lalu, pelatihan di Korean Training Center selama dua setengah bulan untuk sektor manufaktur. (Supriyono/RBG)