Foto KLK Achmad Halim Mardyansyah semasa hidup. Foto: JawaPos.com

SURABAYA – Kasus kematian Kelasi Kepala (KLK) Achmad Halim Mardyansyah di markas Detasemen Perbekalan Pangkalan Marinir (Denbek Lanmar) Karangpilang, Surabaya, banyak kejanggalan.

Setelah dilihat oleh keluarga, jenazah Halim dibawa ke RSAL. Sayangnya, hanya visum luar. Tidak dilakukan otopsi. Namun, hasil visum yang keluar pada Kamis (13/9) lalu menunjukkan bahwa kematian Halim lebih karena dibunuh, bukan bunuh diri. Ada sejumlah kejanggalan.

Yang pertama adalah banyak luka dan memar di sekujur tubuh korban. ”Wajar tidak jika orang mau bunuh diri memukuli diri sendiri lebih dulu? Buat apa?” tanya seorang petugas Pomal Lantamal V yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

Kedua adalah bekas tali yang terlihat di atas telinga. Itu posisi tali yang tidak wajar pada korban bunuh diri. Selain itu, tiang bambu untuk menggantung diri hanya setinggi dua meter, sementara tubuh Halim setinggi 191 cm. Artinya, cukup jinjit saja sudah sampai. Tentu sulit untuk tergantung sempurna.

Kejanggalan ketiga ada pada posisi tangan Halim yang menggenggam. Korban bunuh diri biasanya tangannya tidak menggenggam. ”Tapaknya terbuka. Memang sempat nggenggam karena sakit, tapi ketika mulai lemas, tapak tangannya pasti terbuka,” paparnya. Posisi tapak tangan Halim seperti dia mati dalam keadaan menahan sakit. Artinya, kemungkinan dia mati karena dianiaya.

BERITA TERKAIT : Seorang Marinir di Surabaya Tewas di Markas

Jasad Halim sendiri sempat dipotret oleh Sukisman, ayah Halim. Pria yang sudah purna berdinas di Marinir dengan pangkat Peltu itu nekat mengambil foto anaknya saat divisum. Dari sinilah Sukiman yakin anaknya meninggal dengan tak wajar. “Wajahnya lebam, matanya berdarah,” tutur Istiatin yang sedari tadi duduk di samping suaminya.

Dari foto itu, luka lebam ternyata tidak hanya di bagian wajah. Tapi di seluruh tubuh. Berwarna biru kehitaman. Bahkan ada luka terbuka berupa lubang di bagian pangkal paha atas sebelah kanan. Jasad Halim sudah agak membengkak. Tampaknya, usia kematian jasad tersebut sudah lebih dari 24 jam.

Seorang rekan korban berinisial KAR mengaku sudah mencium gelagat tak beres sejak awal prosesi pemakaman. Dia yang membantu mengangkat jenazah hingga ke liang kubur. Jasad Halim tertutup rapi. Bagian wajahnya pun tertutup kain kafan. Tak ada yang diperbolehkan untuk melihat wajah almarhum. “Saya nekat waktu masukin jenazah ke liang lahat,” kata pria yang kerap menggunakan udeng di kepalanya itu.

KAR menyingkap kain kafan di bagian wajah korban. Ternyata ditemui kejanggalan lain. Di balik kafan itu ada plastik bening yang membungkus tubuh korban. “Di situ saya tahu wajahnya almarhum seperti apa,” sebutnya.

Berdasar paparan dokter forensik kepada keluarga, Halim dinyatakan tewas dengan tidak wajar. Ada luka lebam bekas pukulan benda tumpul di sekujur tubuhnya. Juga luka terbuka di bagian paha. “Dokter yakin dia tidak meninggal gantung diri,” sebut Istiatin.

Selain itu, penjelasan dokter kepada keluarga dengan foto yang dimiliki punya logika lurus. Kaki korban sudah kaku dengan posisi menekuk. Padahal, jika benar-benar tergantung, seharusnya sedari awal kaki dalam kondisi lurus dan kaku. “Rencananya ke depan mau ada pembongkaran makam untuk pengecekan jenazah,” tutur salah seorang kerabat korban.

Pihak keluarga menyatakan tidak percaya sama sekali dengan keterangan dari rekan-rekan Halim. Terutama rekan piket jaganya. Sebab, saat itu Istiatin diberitahu bahwa Halim pergi sejak Sabtu malam (8/9) dan tak kunjung kembali. Padahal, motor juga sudah terparkir di halaman. “Katanya beli makan malam tapi nggak balik lagi,” jelas Istiatin.

Sepanjang wawancara, hanya Istiatin dan Aisyah yang banyak memaparkan. Sukiman lebih banyak diam dan menatap kosong ke semua orang. Dia memang yang paling shock atas kepergian Halim. Saat diminta menunjukkan foto anaknya, tangannya gemetar. Perlahan dia peluk foto putra satu-satunya itu. Kepalanya terus menunduk. Begitu sang istri pergi ke belakang rumah, dia menangis. Tangisannya lirih tapi menyayat hati. Pria bertubuh kekar itu tak mampu menguasai dirinya. Derai air mata turun deras menetesi foto dan baju kokonya yang berwarna putih.

Di konfirmasi terpisah, Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir Letkol (Mar) Ali Sumbogo menyatakan Pomal Lantamal V Surabaya sudah diterjunkan untuk menyelidiki kasus tersebut. Kini mereka sedang di lapangan untuk menggali semua yang dibutuhkan untuk mengungkap tabir gelap kasus tersebut. “Sudah kami laksanakan sesuai prosedur,” ungkapnya.

Perwira dengan dua melati di pundak itu menyebutkan proses penyelidikan sedang berlangsung. Oleh karena itu dia belum bisa memberikan informasi apapun. Dia meminta Jawa Pos untuk menunggu proses hingga selesai. Ali berjanji akan segera memaparkan hasilnya ke publik begitu hasil penyelidikan sudah muncul. “Saya akan merilis sesuatu jika proses sudah selesai,” tutupnya. (jpg/air)