Memang benar kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon, semakin besar angin menerpa. Kehidupan Joko (36) yang semakin hari semakin meningkat berkat usaha kebun milik keluarga sang istri, sebut saja Munah (30), membuatnya lupa diri. Cinta yang dibangun bersama, hampir kandas hanya gara-gara tergoda wanita tetangga desa.

Seperti diceritakan Munah, semenjak ayahnya meninggal, kebun di belakang rumah milik keluarga tidak ada yang menggarap. Tadinya, tanah itu akan dijual untuk modal usaha bisnis keluarga. Tapi karena Joko ingin mencoba mencari nafkah dengan bercocok tanam, perlahan kebunnya menjadi berkembang. Ekonomi pun meningkat.

“Dulu itu Kang Joko bukan siapa-siapa, tapi karena dia orang yang mau belajar, tekun, ulet, jadinya bisa ngebangun kebun ini!” kata Munah kepada Radar Banten.

Tetap saja, meski memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja, jika tidak kuat menahan godaan harta, takhta dan wanita, Joko pasti akan jatuh juga. Begitulah kiranya yang ada dalam benak Munah. Jadi kaya bukannya tambah mesra, ini malah menimbulkan derita.

“Kalau tahu bakal begini jadinya, mending dulu tanah ini dijual saja,” curhatnya.

Munah anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya masih sekolah SMA dan yang paling kecil SMP. Sebagai anak tertua, Munah memiliki peran besar dalam keluarga. Tak jarang, meski wanita, ia kerap diajak bermusyawarah dalam menentukan keputusan dalam keluarga. Termasuk penjualan tanah warisan.

Tumbuh sebagai anak yang dididik dengan baik, Munah menjadi wanita yang mandiri. Terbukti, meski bisa dibilang hidupnya berkecukupan, Munah tak malu berjualan makanan ringan. Di kalangan teman-temannya, ia terkenal perempuan yang ramah dan mudah bergaul. Pokoknya, kalau sudah kenal dengan Munah, serasa kayak saudara. Orangnya terbuka dan tidak perhitungan.

Kalau membicarakan wajah, relatif lah ya. Munah memang tidak terlalu cantik, tapi setidaknya dengan penampilan menarik, ia mampu membuat lelaki mudah terpesona. Apalagi lekuk tubuhnya yang sangat menggoda. Pokoknya, siapa pun tidak akan bisa berkedip saat melihatnya.

Lain Munah lain pula dengan Joko. Lelaki bertubuh kekar tinggi itu terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya petani biasa, ibunya tak bekerja. Meski sama-sama anak pertama, Joko dan Munah memiliki karakter yang berbeda. Sejak muda, Joko tak mau bekerja, apalagi kalau diminta berdagang. Bisa dibilang ia orang yang gengsian. Sebenarnya mau, tapi karena malu, Joko lebih memilih menikmati kekurangan.

Tapi, Joko termasuk lelaki yang tampan. Di mata orang-orang, ia juga terkenal sopan dan sederhana. Meski penampilannya biasa saja, kalau sudah diajak mengobrol berdua, wanita akan mudah hanyut terbawa obrolan yang asyik. Maklumlah, Joko juga lelaki yang humoris alias pandai melucu.

Singkat cerita, entah bagaimana awalnya, Joko dan Munah menjalin asmara. Saat itu ekonomi keluarga Munah sedang meningkat. Meski Joko tidak pernah memanfaatkan posisi sang kekasih, Munah selalu mengeluarkan banyak pengorbanan. Mulai dari mentraktir makan sampai beli pakaian, semua Munah yang bayar. Beruntung banget ya Kang Joko.

“Karena dianya juga enggak macam-macam, dulu saya sih oke-oke saja mengeluarkan uang. Ya namanya juga sudah sayang,” ungkap Munah.

Setahun lebih menjalin kisah asmara, keduanya mengaku siap menikah. Lantaran keluarga Munah yang sederhana dan tidak menilai orang dari harta, Joko pun dengan mudah diterima. Pernikahan berlangsung meriah. Para tamu undangan turut memberi ucapan kebahagiaan bagi Munah dan Joko yang resmi menjadi sepasang suami-istri.

Di awal pernikahan, Joko menjadi suami yang perhatian. Meski belum punya pekerjaan, setidaknya ia mampu memberi kenyamanan untuk sang istri tercinta. Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan mereka semakin mesra. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti awan kebahagiaan.

Musibah datang tak terduga, ayah Munah meninggal terkena serangan jantung. Sejak saat itu, perokonomian keluarga pun menjadi menurun. Mau tak mau, Joko harus bertindak demi menyelamatkan kehidupan rumah tangga. Berbagai jenis pekerjaan sudah banyak dilakukan, mulai dari pelayan di toko sembako, sampai menjadi penjual sandal. Tapi, seperti tidak menikmati pekerjaan, baru juga berjalan dua sampai tiga bulan, Joko tak mau melanjutkan.

Hari demi hari berlalu, seperti berada di ujung tombak harapan, pihak keluarga Munah berniat menjual tanah di belakang rumah. Namun dengan lantang Joko melarang, ia berencana melanjutkan usaha kebun pepaya dan buah lainnya seperti pisang, ada juga mangga dan lainnya milik keluarga. Dengan belajar dari sang paman, Joko pun mulai bertani.

Tak disangka usahanya tidak sia-sia. Tiga tahun kemudian Joko mulai merasakan hasilnya. Perlahan perekonomian rumah tangga mereka meningkat. Membuat Munah semakin cinta. Tapi, ya namanya juga orang kaya baru. Seperti tak mempunyai pegangan, Joko mudah goyah tergoda wanita cantik tetangga desa.

Ternyata, diam-diam Munah mengetahui tingkah sang suami. Ya namanya juga wanita, ia punya mata-mata yang tak lain teman yang tinggal dekat dengan perempuan selingkuhan sang suami. Baru merasakan hidup mapan, Joko lupa daratan. Punya banyak uang, membuatnya malah sering kalayaban. Sontak hal itu membuat Munah geram.

Dengan emosi yang sudah tak terkendali, ketika Joko pulang pagi, Munah langsung membanting perabotan rumah tangga. Piring, gelas, bakul, sampai penanak nasi hancur menjadi pelampias amarah. Weleh-weleh.

“Biar tahu rasa dia, baru juga usaha maju sedikit, sudah ingin selingkuh saja!” kata Munah kepada Radar Banten.

Saking marahnya, Munah pergi entah ke mana, meninggalkan Joko dengan penyesalannya. Masak-masak sendiri, makan juga sendiri, Joko tak henti-henti menitikkan air mata. Tiga Minggu kemudian, atas nasihat sang ibu dan saudara, Munah memaafkan suaminya. Mereka pun kembali membangun rumah tangga yang sempat terluka.

Sabar ya Teh Munah, semoga Kang Joko sadar dan tidak mengulangi kesalahan lagi. Yang penting tetap mesra dan bahagia, insya Allah sejahtera. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)