Bau Badan Suami Bikin Risi

Bagai bunga bangkai yang indah tetapi beraroma tak sedap, Parjo
(35) nama samaran, membuat sang istri, sebut saja Imah (35) tak nyaman tinggal
serumah. Bau badan Parjo bikin Imah risi. Keributan pun diperparah dengan
ekonomi yang serba kekurangan. Rumah tangga mereka berujung perceraian.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Tunjungteja, Imah siang itu tampak menuntun anaknya yang masih balita. Imah berinstirahat di saung tak jauh dari pasar. Saat itulah obrolan dengannya berlangsung seru. Kisah masa lalu yang unik dan lucu.

Imah tak pernah menyangka kalau Parjo memiliki bau badan yang menyengat. Padahal penampilan lelaki yang pernah menjadi suaminya itu keren. Selalu terlihat rapi dengan kemeja dan jeans. Tapi, Parjo jarang membeli parfum apalagi pengharum tubuh. Oalah.

Parjo juga termasuk lelaki tampan. Kulit sawo matang dan tubuh kekar, ia membuat Imah jatuh cinta pada pandang pertama. Imah pun berparas cantik, kulit putih dan bodi aduhai, membuat banyak lelaki suka padanya. Bahkan, Imah pernah dilamar kepala desa tapi ditolaknya.

“Masa saya mau dijadiin istri kedua, ya enggak maulah,” katanya.

Perjumpaannya dengan Parjo bermula di ruang tengah rumah. Siang itu Imah tak menyangka kalau ayahnya diam-diam merencanakan perjodohan dengan Parjo. Beruntung keduanya saling tertarik. Parjo dengan penampilannya yang kece membuat Imah kesemsem.

Meski Parjo bukan berasal dari keluarga berada, Imah tak memikirkan hal itu. Katanya sih, Imah pernah punya pengalaman pahit menjalin hubungan dengan lelaki yang banyak uang. “Kalau lelaki kaya kebanyakan cuma nyakitin doang,” katanya.

Singkat cerita, setelah pertemuan hari itu, Imah dan Parjo sempat melakukan pendekatan. Jalan-jalan berdua naik motor. Mengobrol tentang banyak hal tentang pribadi masing-masing, Imah semakin yakin memilih Parjo sebagai suaminya. Tapi, satu hal yang membuat Imah tak nyaman, bau badan Parjo yang menyengat. “Pas di motor tuh kerasa banget, pengin ngomong tapi enggak enak. Akhirnya ya pasrah,” akunya.

Hingga mendekati hari pernikahan, Imah mencoba membuang semua pikiran buruk tentang Parjo. Akhirnya, resepsi pernikahan pun berlangsung. Pesta berlangsung sederhana, dengan hiburan musik dangdut kampung. Di pelaminan Imah dan Parjo terlihat bahagia.

“Anehnya, pas malam pertama sih badan dia wangi. Saya jadi nyaman sampai nambah tiga ronde,” akunya cengengesan.

Mengawali rumah tangga, Parjo dan Imah tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Saat itu badan Parjo tak bau. Mungkin, Imah menduga, Parjo dinasihati keluarga agar rutin memakai minyak wangi dan mandi. Imah pun dibuat nyaman setiap kali tidur seranjang berdua.

Setahun kemudian mereka dikaruniai anak pertama membuat hubungan semakin mesra. Parjo yang bekerja sebagai karyawan pabrik pun semakin semangat mencari nafkah. Berangkat pagi pulang malam, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.

Namun, nasib sial menimpa Parjo karena ada pengurangan karyawan di tempat kerja. Parjo menganggur dan banyak menghabiskan waktu di rumah. Sejak itu, Imah mulai sering mengeluh karena tidak mendapat jatah uang bulanan. Parjo malah seolah menikmati masa menganggurnya dengan banyak bermain dengan teman-temannya.

“Setiap sore dia main bola. Itu bau keringetnya enggak hilang walau sudah mandi,” katanya.

Sejak tak bekerja, Imah merasa bau badan Parjo kumat lagi. Setiap malam Imah selalu tak tahan jika Parjo tidur di sampingnya. Namun, rasa bimbang karena tak berani menegur dengan alasan takut dimarahi Parjo, Imah diam-diam pindah kamar dan tidur bersama anaknya. “Baunya bikin sesak napas, enggak tahan,” keluhnya.

Suatu hari Imah memberanikan diri menegur Parjo. Imah tak tahan dan risi jika tidur berdua dengan suami. Tapi, apesnya, Parjo mengamuk dan merasa terhina. Imah malah dimarahi dan dibentak. Imah merasa Parjo berubah, sikapnya menjadi kasar semenjak tak bekerja.

“Ya saya paham dia pusing mikir kerjaan, tapi kan enggak ngebentak istri juga,” katanya.

Rumah tangga mereka semakin merenggang. Imah semakin merasa tak nyaman menjalani hidup dengan Parjo. Imah pun tak mau lagi tidur berdua dengan Parjo alias pisah ranjang. Akhirnya, lantaran tidak tahan dengan keadaan, di tahun kedua rumah tangga, Imah memilih pulang ke rumah orangtua dan minta cerai dengan Parjo.

Parahnya, seolah tak ada penyesalan atau usaha untuk memperbaiki rumah tangga, Parjo malah cuek dan bersikap biasa. Kesehariannya dijalani seperti tak ada masalah. Kedua orangtua Imah pun mengirimkan surat perceraian. Mereka pun berpisah. Astaga.

Beruntung saat ini Imah sudah menemukan suami baru dan hidup bahagia. Sedangkan Parjo masih sendiri dan menganggur. “Ya, saya juga bingung sama sikap dia, semoga dia cepat dapat istri biar ada yang ngurus,” harapnya. (mg06/ira)