Beberapa Kali Terjadi, Waspadai Investasi Bodong

Sejumlah korban saat mendatangi Mapolres Serang Kota untuk melaporkan investasi dan arisan bodong, Selasa (3/12) malam.

SERANG – Kasus investasi bodong di Provinsi Banten sudah beberapa kali terjadi. Pada 2012, Koperasi Langit Biru (KLB) pernah ditangani oleh Polres Tangerang Kabupaten sebelum diambil alih oleh Mabes Polri. Kantor koperasi di Desa Cikasungkan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang tersebut diduga telah melakukan penipuan hingga triliunan rupiah.

Sebelum berdiri, KLB bernama PT Transindo Jaya Komara (TJK). Jenis usaha mereka adalah pengelolaan daging dan hasil peternakan, bekerja sama dengan 62 penyuplai daging sapi. Perusahaan itu milik Jaya Komara, seorang mantan penjual kerupuk. Setelah itu, TJK kemudian bertransformasi menjadi Koperasi Langit Biru atau KLB pada Januari 2011.

Untuk menjaring investor, PT KLB menawarkan dua paket investasi, yakni investasi paket kecil dan investasi paket besar. Investasi paket kecil bernilai Rp385 ribu atau setara dengan harga lima kilogram daging dan investasi paket besar dengan nilai Rp9,2 juta atau sama dengan 100 kilogram daging sapi.

Profit yang didapat pada investasi paket kecil yang ditawarkan KLB adalah Rp10 ribu per hari. Angka itu akan dibagi kepada perusahaan Rp9 ribu, sementara investor Rp1.000. Dengan demikian, dalam satu bulan, investor mendapat profit sebesar Rp150 ribu.

Adapun investasi paket besar dibagi lagi ke dalam dua pilihan, yakni investasi non-bonus kredit sepeda motor (BKSM) yang bonusnya senilai Rp1,7 juta per bulan (dari bulan kesatu sampai kesembilan).

Memasuki bulan kesepuluh, investor akan langsung mendapat bonus Rp12 juta. Pada bulan ke-24, investor juga dijanjikan akan mendapat keuntungan Rp31,2 juta.

Dengan tawaran yang menggiurkan itu, KLB akhirnya berhasil menghimpun 125.000 anggota dengan nilai total investasi mencapai Rp6 triliun. Pihak KLB menjanjikan bahwa dana investasi itu akan diputarkan untuk menjalankan bisnis di daerah Tulung Agung, Jawa Timur. Namun, dari hasil penelusuran aparat kepolisian, bisnis di Tulung Agung ternyata tidak menghasilkan dan selama ini KLB bekerja gali lubang tutup lubang atau hanya mengandalkan uang setoran investor baru yang masuk untuk membayar bonus investor lama.  Aktivitas penyerahan bonus akhirnya macet pada bulan Januari 2012 sehingga sejumlah investor mengadukan persoalan ini ke Polres Tangerang Kabupaten.

Kemudian, pada 2014 kasus Koperasi Bina Mandiri. Kasus tersebut telah menipu ratusan warga Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, sebesar Rp10 miliar. Dalam modus operasinya DS selaku pimpinan koperasi menjanjikan bunga dua persen bagi nasabah.

Warga yang tergiur dengan bunga dijanjikan kemudian menyimpan uang mereka di Koperasi BM. Namun setelah uang disetorkan, para nasabah tidak menerima keuntungan yang dijanjikan. Hingga akhirnya, Kamis (9/7/2015) warga melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Serang.

Terbaru, Selasa (3/12), warga Kota Serang membuat laporan ke Mapolres Serang Kota. Mereka melapor karena diduga telah ditipu oleh pasangan suami istri AL dan YS untuk investasi dan arisan. Nilai uang yang berhasil dihimpun oleh kedua pasutri tersebut mencapai Rp5 miliar. Rinciannya Rp2 miliar investasi dan Rp3 miliar arisan.

Awalnya investasi yang sudah berjalan sejak 2018 tersebut berjalan lancar. Usaha katering dijanjikan oleh AL dan YS diterima oleh korban sebesar sepuluh persen dari modal yang diberikan. Namun setelah modal ditambah, AL dan YS menghilang. Uang investasi yang ditaksir mencapai Rp2 miliar kini diduga raib.

Modus yang sama dilakukan AL dan YS terhadap arisan. Miliaran rupiah uang arisan tersebut kini tidak jelas sehingga korban menempuh langkah hukum.  “Sampai sekarang uang saya tidak pernah kembali,” ujar salah satu korban Elvina.

Kasus dugaan investasi dan arisan bodong tersebut saat ini ditangani oleh Satreskrim Polres Serang Kota. Penyelidik masih mendalami laporan warga tersebut. “Masih dalam pendalaman,” ujar Kasat Reskrim Polres Serang Kota Ajun Komisaris Polisi (AKP) Indra Feradinata.

Sementara itu, Satgas Waspada Investasi mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dengan tawaran investasi ilegal berkedok perkebunan atau penanaman pohon dan sejenisnya. Satgas Waspada Investasi menghentikan kegiatan investasi perkebunan ilegal Kampung Kurma yang diumumkan pada 28 April 2019 lalu.

“Karena diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari pihak berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat. Untuk itu, kami mendorong agar korban segera membuat laporan kepada Kepolisian RI,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing.

Ia menjelaskan, sebelum diumumkan pada 28 April, pengurus Kampung Kurma diundang dalam rapat Satgas Waspada Investasi. Namun, Kampung Kurma tidak hadir. Dalam rapat tersebut, diperoleh konfirmasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bahwa Kampung Kurma memiliki izin usaha untuk melakukan kegiatan investasi perkebunan. Dalih Kampung Kurma bahwa mereka melakukan perdagangan tidak bisa dibenarkan karena skema perdagangan hanya dapat dilakukan dengan cara cash and carry, bukan investasi.

“Satgas mengajukan pemblokiran situsnya kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Selain itu, Satgas juga melaporkan Kampung Kurma kepada Bareskrim Polri,” katanya.

Sementara skema bisnis Kampung Kurma adalah menawarkan investasi unit lahan pohon kurma dengan skema satu unit lahan seluas 400-500 meter persegi ditanami lima pohon kurma dan akan menghasilkan Rp175 juta per tahun. Selanjutnya, pohon kurma mulai berbuah pada usia empat sampai sepuluh tahun dan akan terus berbuah hingga usia pohon 90-100 tahun.

Investasi Kampung Kurma pernah hadir di Kota Serang pada 2017, tepatnya di Kelurahan Gelam, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang. Saat kehadirannya, sejumlah media promosi seperti investasi ilegal itu hadir di berbagai titik di Kota Serang. Perlahan tapi pasti berbagai media promosi tersebut hilang di Kota Serang.

Ia menjelaskan, modus seperti itu tidak rasional karena menjanjikan imbal hasil tinggi dalam jangka waktu singkat, tidak ada transparansi terkait penggunaan dana yang ditanamkan. Selain itu, tidak ada jaminan pohon kurma yang ditanam tersebut benar tumbuh, atau tidak mati, atau tidak ditebang oleh orang lain.

“Untuk itu, Satgas Waspada Investasi mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dengan penawaran investasi ilegal dengan modus penanaman pohon, perkebunan, dan sejenisnya karena hal tersebut masih sering terjadi,” katanya.

Ia mengimbau, sebelum melakukan investasi masyarakat diminta benar-benar memahami dan memastikan pihak yang menawarkan investasi. Apakah perusahaan tersebut memiliki perizinan dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan. Selain itu, memastikan pihak yang menawarkan produk investasi, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi atau tercatat sebagai mitra pemasar.

“Memastikan jika terdapat pencantuman logo instansi atau lembaga pemerintah dalam media penawarannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” katanya.

Ia menilai, masyarakat diminta waspada ketika penawaran investasi terutama yang memberikan bagi hasil besar. Misalnya ada bagi hasil satu persen per hari atau sepuluh persen dari uang disetorkan. “Masyarakat harus mengecek apakah investasi tersebut legal atau ilegal,” katanya.

Ia mengungkapkan, sebelum melakukan investasi harus dicek dua L, yakni legal dan logis. Apakah investasi yang ditawarkan memiliki legalitas dan logis tidak penawaran tersebut terutama berkaitan dengan bagi hasil. “Jika kedua L ini tidak terpenuhi, jangan ikuti investasi tersebut,” ungkapnya.

Kabid Humas Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Edy Sumardi Priadinata mengimbau agar masyarakat lebih selektif dalam memilih investasi. Pastikan perusahaan investasi telah berbadan hukum dan kantornya diketahui. “Kita harus tahu aktivitas perusahannya, ini penting biar nasabahnya tahu uangnya digunakan untuk apa. Selain itu, ya berbadan hukum,” kata Edy didampingi Paur Penum Subdid Penmas Ajun Komisaris Polisi (AKP) Mochmmad Ridzky Salatun, Minggu (8/12).

Dia meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan keuntungan yang besar dari investasi. Sebab, bisa jadi keuntungan yang besar tersebut menjadi modus kejahatan seperti yang sebelumnya terjadi. “Jangan mudah tergiur dengan keuntungan yang besar. Ini biasanya modus untuk melakukan penipuan,” tutur Edy. (mg05-skn/air/ira)