Bebersih Banten Lama yang akan ditingkatkan ke Penataan Banten lama, sesungguhnya sudah dimulai pada tahun 1989 sebagai Penataan Banten Lama Pertama, lalu muncul lagi Penataan Banten Lama Kedua tahun 2002, berikutnya Penataan Banten Lama Ketiga tahun 2005 dan Penataan Banten Lama keempat tahun 2017. 

Penataan Banten Lama tahun 1989, dasarnya adalah hasil penelitian selama 12 tahun di kawasan Banten Lama, tentunya telah menghasilkan naskah akademik. Penataan tahun 2002, hasil yang urgen adalah revitalisasi kanal arah selatan Masjid Agung Banten. Penataan Banten Lama tahun 2005, ingin melanjutkan penataan tahun 1989 yang belum tuntas, namun belum terlaksana. Penataan Banten Lama tahun 2017, nampaknya telah menjadi masterpiece, program unggulan Banten. Hanya beberapa bulan setelah pelantikan, Gubernur Banten Wahidin Halim – Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, langkah program pertama adalah mengkonsentrasikan pada Banten Lama. “Bebersih” nampaknya niat bebersih ini sudah direncanakan sebelum terpilih jadi gubernur.

Persoalannya, bagaimana warisan Banten Lama ini menjadi milik bersama, yang didasari oleh rasa sense of belonging dan sense of responsibility. Banten Lama atau old Banten merupakan sebutan popular oleh kolonial, lebih tepat Banten disebut Banten Hilir atau downstream untuk membedakan Banten Hulu atau Banten Girang atau Upstream. Sesungguhnya yang Banten Lama adalah Banten Girang.

PENDAHULUAN

Bebersih berasal dari kata bersih. Namun dalam kamus bahasa Indonesia, kata bebersih tidak ditemukan. Bebersih merupakan suatu kata serapan dari bahasa Jawa Banten. Sama halnya dengan beberes, bebenah, bebantu. Kata perfek be dalam bahasa Jawa Banten, mengandung arti, kebersamaan, kesadaran, yang dilandasi dengan keihlasan, seperti “bebantu” orang orang di sekitarnya tampa diminta akan membantu tetangga yang sedang ada kegiatan hajatan, selametan, walimahan dan sebagainya. Membantu di dapur, membantu memasang tenda, dan sebagainya. Jadi jelasnya, kata imbuhan be ini dalam bahasa Jawa Banten, mengandung makna perbuatan yang dilakukan dengan suatu kesadaran, tanpa dipaksa. Munculnya kesadaran ini karena ada milik bersama sense of belonging, sense of responsibility. Bebersih sebagai program awal atau tahap awal. Bebersih, mengandung makna membersihkan kotoran secara fisik dan membersihkan kotoran secara non fisik.

Banten Lama, merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Kolonial Belanda, setelah runtuhnya Banten sebagai imperium. Pada waktu Banten sebagai imperium, Banten menjadi pusat tamaddun, Banten menjadi Pusat peradaban, Banten merupakan kota yang teratur dan tertata. Kota yang dikelilingi oleh benteng zigzag dan parit. Kota yang telah menempatkan masyarakat sesuai dengan profesi-profesinya, kota yang mengatur tataguna air, untuk kebutuhan air bersih, kebutuhan pertanian dan kebutuhan rekreasi, dalam satu pengelolaan Tasikardi.

Kota Banten yang memiliki pintu gerbang, yang masing-masing pintu gerbang terdapat pos jaga, husus yang masuk dari utara atau pintu gerbang laut, dikenakan bea masuk atau “tolhuis” melalui Pelabuhan Kepabeaan atau disebut claster Pabean. Berikutnya masuk melalui, atau melewati jembatan Rantai yang sudah siap dibuka. Menurut pengamat orang Belanda yang melihat langsung kota Banten pada sekitar abad 16, Kota Banten luas dan keindahannya seperti kota Amsterdam.

Bersih fisiknya yang tercermin dalam penataan kotanya, juga bersih non fisiknya, keramahtamahannya, menghargai dan menghormati kultur dan masyarakat yang berkunjung ke Banten baik dalam waktu singkat maupun hingga menetap di Banten, tanpa menaruh curiga yang tidak berlasan, sehingga di Banten terdapat klaster-klaster tidak hanya berdasarkan profesinya, juga berdasarkan asal usulnya, seperti klaster Dermayon, claster Kebalen, claster Pakojan, dan sebagainya.

Kekuatan Banten dalam membangun fisik dan non fisiknya, didorong, dilandasai, dasar-dasar seabagi garis bersar haluan Kesultanan. Dasar garis besar Haluan kesultanan Banten yaitu Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis.
Dasar haluan Kesultanan Banten ini satu sisi sebagai pedoman dalam pembangunan fisik Banten yaitu menggunakan bata dan kawis. Pada sisi lain, kawis berarti watak/karakter wong Banten, nilai-nilai, benteng, dan jati diri wong Banten, dan menjadi sifat-sifat wong Banten. Kawis walaupun diterpa oleh ombak dan badai, ia akan tetap kokoh, dan ajeg, bahkan bisa menenggelamkan kapal-kapal, bila ia menabraknya.

Dalam kesultanan Banten, seorang kadi yang memiliki kepastian hukum dan teguh dalam menjalankan aturan hukum dalam kesultanan Banten, dikenal dengan nama Entol Kawista. Di bukit makam Kalijaga di Gersik, telah terdapat manuscript dari Banten, yang berjudul Nasehat Ki Karang. Apakah nama Gunung Karang, berasal dari nama seseorang yang bernama Ki Karang? Hal itu sama halnya Gunung Lokon yang terdapat di Menado adalah nama seseorang dari Banten, putra dari Tubagus Buang, yang bernama Tubagus Lokon. Demikain juga parit keraton Tirtayasa, nama parit sungainya disebut sungai Ki Karang.

HABIS TERANG TERBITLAH GELAP

Keindahan Banten sebagai kota Islam, sirna. Banyak faktor sirnanya Banten akan dibahas pada bagian berikutnya (Banten Bebenah). Namun yang jelas Banten sebagai kota Islam telah terjadi perubahan total yang dilakukan oleh kolonial. Tempatnya, nomenclature pemerintahannya, sturktur pemerintahannya, bahkan asas dalam pemerinthannya. Dalam hal ini akan dicoba dibahas tempatnya, atau perpindahan tempat ibukota, dari Banten atau pesisir Banten ke Serang atau selatannya dari Banten pesisir.

Kapan perpindahan kota tersebut? Perpindahan kota setelah runtuhnya Kota Banten, setelah dianeksasi pemerintahan Kesultanan. Kolonial Belanda sudah tidak lagi di bawah VOC atau perkumpulan dagang, tetapi sudah diambil alih oleh pemerintahan. Pada waktu Banten masih berada di bawah VOC, Kesultanan Banten masih melakukan aktivitasnya secara mandiri. Tetapi setelah Banten berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda, Kesultanan sudah berada sepenuhnya di bawah kolonial Belanda. Fungsinya sudah menjadi pembantu kolonial, diangkat dan digaji. Jabatan yang paling tinggi adalah bupati.

Perpindahan kota dari kota Islam, di pesisir Banten, ke kota kolonial di Serang, telah terjadi perubahan besar di Banten peisir sebagai kota Islam. Banten pesisir yang memiliki pelabuhan internasional, sebagai tempat belabuh kapal-kapal dagang insuler maupun interinsuler, berubah menjadi pelabuhan nelayan yang hanya bisa dilabuh oleh kapal-kapal atau perahu perahu kecil, karena kondisi pelabuhan yang terus menerus terjadi pendangkalan, nelayan yang hendak melaut, menunggu air pasang, sekitar di bawah pukul 9 pagi. Kalau sudah di atas pukul 9, nelayan tidak bisa melaut, air laut surut tidak bisa dilalui oleh kapal-kapal /perahu, perahu. Bahkan pulau burung telah menyatu dengan daratan. Dan di sisi lain pendangkalan tersebut dijadikan sebuah empang, sehingga sebagian nelayan berubah menjadi pencari ikan di darat yang terdapat di empang-empang.

Kota Banten yang memiliki tiga plabuhan besar, terdapat di barat yang dikenal dengan Pelabuhan Pabean, di tengah tidak diketahui namanya dan di timur yang dikenal dengan nama Karangantu. Dari tiga plabuhan terebut yang masih ada, adalah Plabuhan Karangantu. Itu pun kondisinya memprihatinkan karena telah dibuat sodetan pada masa Kolonial yang dikenal dengan sungai Cengkok.

GELIAT BANTEN LAMA

Bebersih Banten, yang dicanangkan pada hari Jumat tanggal 21 Juli 2017 oleh Gubernur Banten Wahidin Halim, sekaligus penandatangan MOU, dengan Walikota Serang Tb Haerul Jaman dan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Dilakukan di alun-alun Banten Lama, disaksikan oleh para aparatur pemerintahan di lingkungan Provinsi Banten, Kota Serang, dan Kabupaten Serang dan masyarakat sekitar Banten juga para Zuriat Kesultanan Banten. Nama kegiatannya disebut Gerakan Kebersihan Banten. Gerakan Kebersihan Banten ini yang nantinya akan melahirkan Penataan Banten. Untuk kemanfaatan masyarakat di sekitar Banten hususunya, bangsa dan negara pada umumnya. Masyarakat akan memperoleh pemanfaatan dari penataan, karena itu perlu dukungan, partisipasi masyarakat untuk mensukseskan penataan Banten Lama.

Konsep penataan Banten Lama, sebagaimana yang diungkapkan oleh Gubernur Banten dalam sambutan pembukaan Bebersih Banten, yaitu “Kembali Pada Akar Budaya Banten”. Bentuk kegiatannnya adalah revitalisasi. Seperti apa bentuk kegiatannya, akan bersambung dalam episode berikutnya.

Penataan Banten Lama yang dicanangkan oleh Gubernur Banten pada 21 Juli 2017, sesungguhnya lanjutan atau melanjutkan dari penataan tahun 1947. Saat itu Residen Banten KH Tubagus Ahmad Chatib mencanangkan Bebersih Banten Lama, dengan nama geraknnya Komando Banten Lama. Banten Lama sebagai kota Islam yang telah dibumi hanguskan oleh kolonial Belanda, sebagian besar penduduknya meninggalkan kota tersebut. Banten Lama telah menjadi kota mati, yang hidup tumbuh-tumbuhan liar, baik terdapat pada dead monumen, maupun terdapat pada life monument.

Berikutnya sekitar tahun 1960-an, lembaga Purbakala setelah dipimpin oleh bangsanya sendiri, mulai tahun 1954-1974, bernama Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (Dinas Purbakala), secara berkala mulai tahun 1960-an, menyosialisasikan tentang kawasan Banten Lama di Pendopo Kabupaten Serang, disampaikan oleh Drs Uka Tjandrasasmita, hingga tahun 1976/1977. Pada tahun 1976/1977, untuk pertama kalinya dilakukan kegiatan Penelitian Arkeologi di Banten Lama.
Sumber refrensinya, dari berita kokal seperti manuscript, berita asing seperti Daghregister, peta kuna, informasi masyarakat tentang Banten Lama. Setelah 12 tahun melakukan kegiatan penelitian dan perlindungan, atas inisiatif, gagasan Prof Dr Hasan Muarif Ambary, sebagai kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mencanangkan Penataan Banten Lama, dengan nama kegiatannya Otoritas Banten Lama, disusun selama 5 tahun dari tahun 1989 sampai tahun 1994, dan telah menghasilkan naskah akademik, program penataan. Berupa hasil-hasil penelitian, tersusun maket Penataan Banten Lama, telah keluar Perda Kabupaten Daerah Tk II Serang tahun 1990, tentang Penataan Kawasan Banten Lama sebagai Kawasan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Banten Lama Sebagai Taman Wisata Budaya. Telah merelokasi dan pembebasan tanah untuk penataan Banten Lama sekitar tahun 1989-an, telah diselenggarakan seminar internasional tentang Banten sebagai Bandar Internasional tahun 1994 dalam kegiatan Festival Keraton. Miskomunikasi dengan pemerintah daerah, telah terjadi in-sinkronisasi, hususnya dalam penempatan terminal.

Rencana Penataan Banten Lama pada masa awal Provinsi Banten tahun 2002, terminal dipindahkan ke Sukadiri, yang jaraknya berdekatan dengan lefe monument (Masjid Agung Banten) juga di tempat tersebut dibangun kios-kios.

Dalam perjalanan waktu berikutnya, terminal kembali ke tempat semula yaitu di dekat dead monument (Keraton Surasowan), bahkan halaman keraton Surasowan dijadikan sebagai tempat parkir kendaraan, yang seharusnya dalam maket Penataan Pertama tahun 1989 sebagai zoning inti yang sudah dibebaskan pada tahun 1980-an, melalui tanda pemagaran. Sementara kios-kios yang dibangun melalui penataan tahun 2002 juga tidak ditempati, kios-kioas kosong, telah mendirikan kios-kios baru di halaman-halam masjid dan halaman Surasowan dengan menggunakan tenda-tenda.

Sudah 15 tahun dari Penataan Kedua Banten Lama, terjadi kesemrawutan, dengan anggaran yang dikeluarkan oleh Provinsi Banten ketika itu sekitar 72 miliar, hanya menghasilkan pembersihan parit pada selatan dari Masjid Agung Banten, membangun terminal dan kios-kios yang ditinggalkan, tumpang tindih biaya perparkiran yang dikeola pemerintah dan masyarakat.
Tiga tahun kemudian dari tahun 2002, sekitar tahun 2005, membangun Penataan Banten Lama Tahap ketiga, nama bentuk kegiatannya Badan Pengelola Banten Lama. Bentuk kegiatan hendak melanjutkan Penataan Banten Lama pada tahap pertama tahun 1989, namun gagal karena miskomunikasi, yang belum ada kesefahaman antara yang mengatasnamakan masyarakat dengan pemerintah.

Setelah 12 tahun dari tahun 2005 hingga tahun 2017, Penataan Banten Lama, mulai menggeliat kembali. Yang diawali dengan Bebersih Banten Lama dalam suatu Gerakan Kebersihan Banten Lama. Yang dilakukan setiap hari Jumat, Jumat Bersih. Gerakan moral ini merupakan langkah baik menuju Penataan Banten Lama tahap keempat. *

Simak tulisan berikutnya berjudul Bebenah Banten Lama.

Tubagus Najib, Peneliti pada Pusat Penelitan Arkeologi Nasional