Sampah berserakan di salah satu sudut parit Benteng Spellwijk.

Dalam sejarah kejayaan Banten, nama Benteng Spellwijk merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan. Bangunan yang dibangun pada tahun 1681-1684 yaitu pada masa Sultan Abu Nas Abdul Qohar tersebut merupakan benteng yang dibangun oleh Belanda untuk mengatisipasi serangan dari masyarakat pribumi.

Dari situs Wikipedia, nama spellwijk diambil dari nama gubernur jenderal belanda yang menjabat pada masa benteng ini dibangun, Cornelis Janszoon Speelman. Benteng tersebut dibangun tepat di depan Vihara Avalokitesvara.

Dulu yah dulu, sekarang kondisi Spellwijk tak lagi gagah, selain hanya puing-puing disekitarnya pun dipenuhi sampah, khususnya ditepi parit yang mengelilingi benteng tersebut. Ini ironis ketika sebagian orang melakukan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional.

Pantauan Radar Banten Online di lokasi, sampah menumpuk tidak hanya berada ditepi parit, tapi juga berserakan di parit yang saat ini terlihat berlumpur.

Di sisi parit lain yang masih terlihat ada airnya, sampah masih terlihat berserakan. Bercampur air yang sudah kehijau-hijauan, sampah yang didominasi oleh sampah pelastik terlihat berlumut.

Meski kondisi seperti itu, tetap saja ada masyarakat yang mengadu nasib dengan memancing ikan disekitar parit. Bahkan ada juga pasangan muda-muda terlihat pacaran di sekitar parit yang hampir mirip dengan empang tersebut.

“Adem saja sih mas, yah kalau ikan mah kecil-kecil mah ada cuma jarang, wajar aja kaya gini tempatnya,” kata Hadi saat ditemui sedang memancing di parit yang berjarak sekira enam meter dari Benteng Spellwijk, Minggu (21/2/2016).

Hadi mengaku sangat sayang melihat kondisi benteng dan parit yang dipenuhi sampah. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada masyarakat.

“Kalau pemerintah mengatur, dan ada fasilitas saya rasa masyarakat tidak akan buang sampah sembarangan dan sampai menumpuk,” ujar Hadi.

Dibagian dalam benteng pun, meski tak separah di bagian luar, sampah masih terlihat berserakan. Namun, yah sama saja seperti di luar, benteng masih dijadikan tempat berakhir pekan dan “tempat pacaran” muda-mudi.

Bukan hanya tempat pacaran, sepertinya benteng pun beralih fungsi menjadi sarana olahraga sebab di dalamnya terdat gawang sepak bola yang terbuat dari besi. Entah pemerintah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dengan kondisi benteng yang disebut cagar budaya tersebut. (Bayu)