Begini Nih Kalau Enggak Bisa Hidup Susah

Unik tapi menggelikan, begitulah kisah rumah tangga pasangan Adul (35) dan Siti (35), keduanya nama samaran. Selama dua tahun hidup bersama, mereka kerap berpisah di saat hidup susah. Oalah.

Adul dan Siti memang sama-sama anak manja. Maklum, keduanya terlahir dari keluarga berada dan sama-sama paling bontot di keluarganya. Setelah menikah, ceritanya mereka mencoba hidup mandiri membangun mahligai rumah tangga memisahkan diri dari kedua orangtua mereka. Namun, sampai dua tahun berjalan rumah tangga, keduanya selalu pulang kepada masing-masing keluarganya, hanya sekadar untuk meminta uang. Intinya, baik Adul maupun Siti tidak bisa hidup susah dan tidak tahu cara menghidupi diri sendiri. Huh dasar anak-anak mama.  

“Ya habis mau gimana lagi, Mas Adulnya juga begitu (tidak bisa hidup susah-red), ya saya juga ikut-ikutan,” ujar Siti kepada Radar Banten sambil menyapu halaman rumah di salah satu kelurahan di Kecamatan Taktakan, Kota Serang, kemarin.

Meskipun sudah berumah tangga, Siti sepertinya tidak bisa lepas dari peran kedua orangtua, begitu pula dengan Adul. Apalagi, Adul belum mempunyai pekerjaan tetap, hanya membuka usaha jualan aksesoris motor mencoba meniru usaha bapaknya. “Mas Adul usahanya enggak serius. Ada untung sedikit saja, langsung dipake poya-poya sama temennya,” keluh Siti. Larang dong, harusnya kan nafkah itu buat keluarga. “Enggak tahu ah pusing,” jawabnya.

Sementara Siti ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurus anaknya yang masih bayi. Meski sebetulnya tidak tahan dengan sikap suami, Siti tak bisa bergeming karena kedua orangtua berteman akrab. “Kita nikah juga karena dijodohin,” akunya. Tapi kalau enggak suka ngapain mau? “Terpaksa,” timpalnya. Bisa saja.

Siti sendiri ngakunya banyak dikejar lelaki. Wajar sih, wajah Siti cukup menawan, tubuhnya juga ideal dan menggoda. Kendati begitu, Siti tidak mempunyai pilihan karena didesak ayahnya agar mau dijodohkan dengan Adul. Padahal, Adul orangnya gemuk dan kulitnya hitam, hidup lagi. Meski demikian, Adul semasa masih lajang banyak wanita yang kepincut. Bukan karena karismanya, tetapi lebih kepada dikenal karena orangnya royal. 

Singkat cerita mereka menikah. Dari awal pernikahan saja, rumah tangga Siti dan Adul sudah menjadi bahan cibiran saudara dan tetangga. Dianggap sosok Adul dan Siti anak manja dan dipastikan belum siap berumah tangga. Demi mematahkan anggapan negatif itu, Siti dan Adul pun sepakat untuk tidak tinggal serumah dengan orangtua dan belajar hidup mandiri menempati rumah bekas neneknya. Siti dan Adul pun memulai hidup barunya sebagai suami istri. Siti sempat melihat perubahan dari sikap Adul, jadi lebih dewasa. Buktinya, Adul mau membuka usaha untuk mencari nafkah demi Siti. “Dia minta dimodalin buka toko aksesoris motor,” kenang Siti. Wah enak dong.

Siti pun tak bisa menutup kebahagiaannya melihat kerja keras Adul, begitu pun keluarga yang mereka nilai sikap Adul benar-benar berubah. Apalagi usahanya mulai berjalan lancar dan Adul tidak meminta uang selama dua bulan setelah menjalankan usahanya. Tokonya selalu ramai dan menjadi tempat nongkrong anak muda sambil membongkar rakit motor modifikasi. “Kita juga punya dua karyawan yang bantuin,” ungkap Siti. Wah sukses ya.

Namun, setelah usahanya berjalan empat bulan, barang dagangannya habis. Siti mengira dengan habisnya barang jualan mendatangkan keuntungan besar. Ternyata, uang keuntungan sampai modal yang diberikan orangtuanya untuk Adul dihabiskan hanya sekadar untuk poya-poya buat jalan-jalan, mancing, hingga minum-minum miras bareng teman-temannya. Astaga. Setelah rumah tangga berjalan enam bulan, keduanya mulai merasa kesusahan karena tidak memegang uang sama sekali tak punya uang. “Akhirnya kita sama-sama pulang ke rumah orangtua, nginep tiga hari,” aku Siti. Ngapain? Daripada enggak bisa makan, di rumah juga enggak ada yang bisa dimasak,” ujarnya. Kasihan amat.

Setelah mendapat uang pemberian orangtua, keduanya kembali ke rumah dan tinggal bersama seperti biasa. Adul juga kembali menjalankan usahanya lagi setelah meminta modal tambahan. Bukannya instrospeksi diri dengan kejadian sebelumnya, Adul malah mengulangi lagi perbuatannya berpoya-poya. Dari usahanya tak pernah menjadi tabungan, yang ada malah ludes dengan modal-modalnya karena kelakuan buruk Adul. Dua bulan kemudian, merasa sudah keteteran tidak bisa makan, keduanya pulang kembali ke rumah orangtua. “Padahal saya waktu itu lagi mengandung anak pertama,” sesalnya. Gimana tuh suami, kok enggak kapok-kapok ya!

Sampai Siti melahirkan, Adul tidak memegang uang sama sekali untuk biaya persalinan. Lagi-lagi Adul meminta bantuan orangtua. Saat Siti sedang berjuang dalam proses kelahiran bayinya, Adul yang panik langsung bergegas pergi ke rumah orangtua untuk meminta uang karena harus segera membayar biaya persalinan. “Jadi kita tuh bersama-samanya pas senang doang. Kalau lagi susah, ya pisah,” kesalnya. Harusnya susah senang bersama. “Enggak bisa mas, berat,” jawabnya. Kayak rindu aja berat.

Saat ini Siti hanya bisa pasrah dan berdoa agar suaminya bisa benar-benar berubah dan hidup mandiri tanpa harus meminta bantuan orangtua. “Namanya masih pasangan baru. Semoga nanti kalau sudah lama ketemu jalannya,” harap Siti. Insya Allah, banyak-banyak berdoa aja. (mg06/zai)