Begini Rasanya Dekat Terasa Jauh

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Kekesalan Santi sudah mencapai puncak. Wanita dengan nama samaran ini tak kuat lagi dianggurin suaminya. Setiap malam, Santi kedinginan di ranjang. Sementara Bagja (nama samaran) lebih tertarik berselancar di dunia maya. Alamaakkk….

Bagja tidak memberikan perhatian layaknya suami kepada istri. Meskipun hidup serumah, mereka jarang berkomunikasi. Salah satu penyebabnya, jam bangun tidur Bagja berbeda dengan Santi. “Dia bangun mulai jam lima sore sampai menjelang pagi. Masalahnya, dia selalu bergadang jaga warnet,” ujar Santi.

Bangun di sore hari pun, Bagja jarang mengajak ngobrol istrinya. Setelah selesai mandi, lelaki 43 tahun itu langsung pergi ke warung internet (warnet). “Kalau ngobrol pun seadanya. Sudah begitu, pergi ke warnet,” tukas Santi kesal.

Bagja mengelola sebuah warnet tak jauh dari rumahnya. Bisnis yang telah dijalankan sejak lama itu menjadi penyangga utama perekonomian keluarga Bagja. Santi mengenal Bagja pun dari warnet itu. Saat itu, Santi masih gadis lajang dan senang internetan. “Saya ketemu Mas Bagja di warnetnya. Setelah itu, kami tukar alamat Facebook, Twitter, dan Instagram,” terangnya.

Dulu, Santi sering ke warnet Bagja karena tugas kuliah. Dia butuh internet untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Servis Bagja, saat itu, membuat Santi kepincut. “Saya sering dikasih gratis internetan. Lalu, tugas-tugas juga sering dikerjakan Mas Bagja. Makanya, waktu itu, saya terima cintanya,” jelasnya.

Semasa pacaran, Santi dan Bagja memang jarang ngobrol langsung. Komunikasi yang dibangun keduanya lewat chatting Facebook. “Waktu pacaran, kami berdua sama-sama sibuk. Saya dengan tugas-tugas kampus, sementara dia dengan kesehariannya menjaga warnet. Karenanya, kami hanya bisa ngobrol sambil chattingan lewat FB,” terang Santi.

Lalu pada awal 2014 Santi dilamar, ini setelah Bagja dan Santi benar-benar yakin saling mencinta dan memiliki. Keduanya merasa berpacaran melalui dunia maya selama enam bulan, sudah cukup untuk saling mengenal dan jadi salah satu modal membina rumah tangga. “Orang tua merestui. Mas Bagja memang sudah punya penghasilan sendiri dan menjanjikan. Kami akhirnya menikah,” terangnya.

Malam pertama Santi sangat mengesankan, ia merasa Bagja adalah suami idaman. Santi mendapatkan servis yang mendekati keinginannya. Apalagi, Bagja termasuk lelaki cekatan dengan sejumlah jurus jitu untuk memuaskan istrinya di ranjang. “Referensi posisi ranjangnya banyak lho. Dia tahulah, mana yang paling enak,” tutur Santi tersenyum.

Tapi sayang, kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan Santi selama satu bulan setelah menikah. Servis plus-plus dari Bagja berangsur berkurang seiring kesibukan Bagja mengurus warnetnya. Santi mulai memasuki ruang hampa nan dingin. “Saya jadi sering ditinggal di rumah. Hanya sendirian, tidak ada orang lain,” tukas Santi protes.

Di awal Bagja fokus menjalankan bisnisnya, Santi sering ikut menemani suaminya menjaga warnet. Tapi lama-kelamaan, Santi merasa kehadirannya hanya menjadi beban suaminya. Tenaga dan pikiran Santi tidak terlalu berguna di warnet. “Saya tidak mengerti komputer dan program. Jadi, kalau ada apa-apa, tetap saja ke Mas Bagja,” jelasnya.

Di sisi lain, Santi masih disibukkan dengan tugas-tugas kampus. Hal ini cukup memengaruhinya. Santi jadi ikut tidak fokus memikirkan masalah rumah tangganya karena kecapaian begitu sampai di rumah.

Kesibukan keduanya inilah yang membuat hubungan Santi dan Bagja merenggang. Mereka memang hidup satu atap, tapi Santi merasa, Bagja berada di posisi yang jauh. “Kondisinya benar-benar terbalik. Saat pacaran dulu kami terasa dekat, tapi setelah satu rumah malah jadi jauh,” ujar Santi.

Komunikasi mereka tersendat. Persoalan baru pun muncul. Letupan-letupan pertengkaran kecil terjadi di antara keduanya. “Karena jarang tidur di rumah, saya mulai menuntut agar Mas Bagja tidur di rumah waktu malam hari. Tapi, dia menolak. Katanya, tidak bisa meninggalkan warnet yang memang ramainya malam hari,” katanya.

Hak Santi sebagai seorang istri tersingkir. Posisinya digeser oleh warnet, meskipun kegiatan Bagja sebenarnya juga untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami. “Bayangkan Mas, saya tidur sendirian hampir enam bulan lamanya. Kalau begitu, sama saja dengan tidak punya suami dong,” katanya.

Perselisihan di antara keduanya semakin sering, puncaknya akhir tahun 2014 lalu ketika keluarga besar Santi berencana pergi liburan ke Bogor. Saat itu Bagja tidak bisa ikut, lagi-lagi karena kesibukannya di warnet. “Saya sudah bilang dari sebulan sebelumnya, kalau akhir tahun, ada acara keluarga. Mas Bagja bilang iya, tapi pas hari H-nya, dia tidak bisa,” tukas Santi.

Santi dan keluarga besarnya tetap pergi tanpa Bagja, namun setelah acara liburan berakhir Santi tidak pulang ke rumahnya. Dari Bogor, wanita ini langsung datang ke kantor Pengadilan Agama untuk melayangkan gugatan cerai. Alasannya, Santi tidak mendapatkan nafkah batin selama berbulan-bulan.

Pada dasarnya, Bagja tidak ingin bercerai. Namun, fakta persidangan membenarkan jika dia tidak memberikan nafkah yang layak kepada Santi. Gugatan Santi dikabulkan. “Dia pikir, tidak melayani istri di ranjang bukan hal besar. Padahal, itupun penting. Makanya, lebih baik berpisah saja,” tutup Santi. (RB/quy/zee)