Belajar Tatap Muka Tunggu Rekomendasi Satgas Covid

0
437 views

SERANG – SMA/SMK Negeri di Provinsi Banten sedang mempersiapkan sarana prasarana untuk belajar tatap muka. Meskipun hingga saat ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten belum dapat memastikan kapan belajar tatap muka itu akan dilaksanakan.

Kepala Dindikbud Provinsi Banten Tabrani mengatakan, untuk pembelajaran tatap muka, sekolah-sekolah sedang mempersiapkan sarana penunjang protokol kesehatan. “Mulai dari wastafel dengan air mengalir, sabun cuci tangan, hand sanitizer, hingga thermo gun,” ujar Tabrani saat menjadi narasumber pada Forum Group Discussion (FGD) Radar Banten, kemarin.

Tabrani mengatakan, sarana prasarana bisa didapatkan dengan menggunakan dana bantuan operasional sekolah baik dari APBN maupun APBD. Bahkan, untuk sekolah swasta, ada juga dana dari peran orangtua. “Pembiayaan mereka (sekolah-red) lebih. Itu bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Selain itu, ia mengatakan, dengan adanya guru mata pelajaran Kimia dan Biologi, maka sekolah bisa lebih efesien dengan membuat sabun sendiri. Bahkan, para siswa juga bisa praktek membuat sabun.

Namun, lanjut Tabrani, sekolah tatap muka itu baru dapat dilaksanakan apabila sudah mendapatkan rekomendasi dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Apabila belajar tatap muka diizinkan, maka sarana penerapan protokol kesehatan di sekolah sudah siap. Namun, sebelum mendapatkan rekomendasi dari Gugus Tugas, pihaknya akan tetap melakukan pembelajaran jarak jauh dengan metode dalam jaringan (daring).

“Yang dapat menentukan belajar ini boleh dilakukan tatap muka adalah satgas. Kami (Dindikbud dan Gugus Tugas-red) berjalan beriringan, kalau diizinkan tinggal dilaksanakan,” ujar mantan Kepala Dindikbud Kota Tangerang ini.

Kalaupun belajar tatap muka dilakukan, hal itu tidak dilakukan sekaligus tapi bertahap. Misalnya 50 persen sekolah tatap muka, sedangkan lainnya melalui daring. Uji coba itu dapat dilakukan sampai kasus konfirmasi Covid-19 sudah tidak ada lagi. “Sampai dinyatakan clear. Dengan begitu anak sekolah tidak menimbulkan kasus baru,” tuturnya.

Tabrani mengatakan, secara normatif, belajar tatap muka memang lebih efektif. Lantaran belajar itu bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga transfer value atau nilai keteladanan.

Sejauh ini, ia mengaku, belum ada sekolah yang berada di bawah kewenangan Pemprov Banten yang melakukan sekolah tatap muka. Apabila belajar tatap muka dilakukan, pihaknya akan mengusulkan kepada Gugus Tugas agar seluruh guru dilakukan swab massal.

KOORDINASI KE KEMENDIKBUD

Pada kesempatan itu, Ketua Komisi V DPRD Provinsi Banten M Nizar mengapresiasi persiapan sekolah dalam menghadapi belajar tatap muka. Namun, selain menunggu keputusan Gugus Tugas, ia berharap Dindikbud juga melakukan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Karena posisi yang sangat dilematis. Penyebaran Covid-19 ini mengganggu masyarakat. Tapi di sisi lain bagaimana generasi ke depan. Sembilan bulan sudah sekolah online,” tandasnya.

Selain ada transfer nilai keteladanan, politikus Partai Gerindra ini juga menilai belajar tatap muka diperlukan bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Lantaran sosialisasi adalah bagian dari proses kehidupan. Selama belajar daring, hal itu terbatasi. Padahal banyak yang juga bisa didapatkan dari sosialisasi.

Selama ini, Nizar mengaku belum ada orangtua yang secara resmi mengeluhkan sistem belajar daring ke Komisi V. Namun, saat reses, hal itu kerap menjadi aspirasi masyarakat.

Kata dia, pernyataan orangtua bahwa mereka siap bertanggungjawab terhadap diri anaknya apabila terpapar Covid-19 apabila belajar tatap muka juga bukan jalan keluar. “Tidak bisa pemikirannya sepotong-sepotong begitu. Kalau anaknya terpapar, lalu pulangnya naik jemputan dan menularkan kepada yang lain bagaimana,” tandasnya.

Agar tidak ada sesuatu yang menjenuhkan, ia mengatakan, Dindikbud harus bisa membuat inovasi pembelajaran jarak jauh. “Ada enggak ide atau gagasan sebelum belajar tatap muka. Ini harus jadi pemikiran bersama,” ujar Nizar.

Selain itu, ia mengaku Komisi V akan merekomendasikan kepada Pemprov agar tenaga guru juga mendapatkan prioritas vaksin selain garda terdepan lainnya.

Pada FGD kemarin juga hadir CEO Cendikiawan Kampung Atih Ardiansyah. Kata dia, kejenuhan orang tua wajar karena belajar daring ini sudah berjalan sembilan bulan. Dengan begitu, efektivitas belajar daring juga belum dapat diukur atau dibandingkan dengan belajar tatap muka yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Ia juga mengingatkan Dindikbud terkait kesiapan sarana prasarana. Mulai dari jumlah sarana yang sesuai dengan jumlah murid atau tidak, sampai ke tingkat kebersihannya. (nna/air)